MALANG, Tugujatim.id – Pengaruh kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) tidak dapat diabaikan dalam berbagai sektor, termasuk industri jurnalisme. Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah mengubah lanskap jurnalisme dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. AI membawa inovasi baru dan meningkatkan efisiensi dalam pengumpulan, analisis, dan penyajian informasi berita.
Kemudahan dan kepraktisan teknologi tersebut membawa tantangan besar bagaimana fotografi jurnalistik tetap bisa diterima dan dinikmati publik. Apalagi kehadiran jurnalisme warga turut memberikan pengaruhnya pada setiap peristiwa.
Selaras dengan kondisi itu, Beon Intermedia bersama dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang Raya menggelar diskusi bertajuk “AI Lens: Menerobos Batasan dalam Fotografi dan Branding,” yang diselenggarakan di gedung Malang Creative Center (MCC), pada Minggu (2/7/2023).

Dalam diskusi tersebut, menghadirkan Muhammad Syahrul Munir (IT Team Beon Intermedia), Andina Paramitha (Head of Corporate Communication) dan Nedi Putra (perwakilan dari PFI Malang). Mereka memberikan pemahaman, bahwa teknologi berbasis AI hanya alat pendamping yang bisa membantu meringankan pekerjaan. Manusia berperan penting untuk menjadi penentu bagaimana teknologi tersebut bisa digunakan.
“Salah satunya dalam membuat prompt. Saat memberikan perintah kepada tools berbasis AI, harus clear dan sesuai dengan kerangka yang ada di dalam pikiran kita. Hal ini agar jawaban yang diberikan oleh AI bisa sesuai dengan apa yang diinginkan,” terang Muhammad Syahrul Munir.
Lebih lanjut, Muhammad Syahrul Munir menguraikan, teknologi AI ini merupakan sebuah sistem yang dilatih oleh orang-orang pintar agar memiliki pengetahuan yang sama dengan mereka. “Sehingga, ketika kita memberikan pertanyaan kepada AI, jawabannya bisa disesuaikan dengan pemikiran orang pintar itu tadi,” lanjut dia.
Andina Paramitha menambahkan, teknologi tersebut hanyalah sebuah alat bantu. “Teknologi hanyalah tools yang mempermudah pekerjaan. Ingat, hanya tools. Misalnya, untuk kebutuhan riset jadi lebih cepat dan mudah. Teknologi sifatnya hanya mendukung saja,” kata dia.
Perempuan yang akrab disapa Andien tersebut menguraikan, masih ada sederet hal krusial yang tidak bisa digantikan. “Teknologi yang dibuat hanya tools, hal-hal yang tidak bisa digantikan adalah wisdom, perspektif, emosional, value, dan relations,” kata dia.
Salah satu penerapan AI, ada pada entitas Beon Intermedia, yakni Mebiso.com yang merupakan platform virtual consultant yang menggunakan AI. “Dalam platform ini, kami memiliki dokumen hasil analisis (DHA) saat pengguna melakukan cek merek. Hasil dari DHA ini nantinya yang bisa meningkatkan keberhasilan saat melakukan pendaftaran merek usaha,” paparnya.
Nedi Putra menambahkan, adanya teknologi AI juga mempermudah fotografer dalam menganalisis dan memproses gambar secara otomatis. Kemudian, memudahkan untuk mengenali wajah dan objek dalam gambar.
Selain itu, menurutnya, AI dapat menganalisis ekspresi wajah dalam foto untuk menentukan sentimen atau emosi yang ditampilkan oleh orang-orang dalam gambar. Selain itu, dapat digunakan untuk melakukan pencarian gambar berdasarkan konten visual.
Bahkan, di beberapa bagian tertentu, AI dapat digunakan untuk mengedit gambar secara otomatis berdasarkan preferensi atau gaya tertentu. Sekaligus, dapat membantu mengenali teks dalam gambar, seperti tanda atau spanduk, dan mengubahnya menjadi teks yang dapat dibaca.
Kemudian, AI dapat membantu fotografer jurnalis dalam mengatur metadata gambar, seperti informasi lokasi, tanggal, atau keterangan gambar.
“Fotografer dapat memperoleh hasil yang lebih baik, meningkatkan efisiensi kerja, dan menyampaikan cerita dengan lebih efektif melalui gambar,” pungkasnya.
Reporter: Yona Arianto
Editor: Lizya Kristanti








