PASURUAN, Tugujatim.id – NASA mencatat musim panas 2023 adalah suhu terpanas di bumi. Rekor suhu musim panas tahun ini bahkan jadi yang paling panas selama 142 tahun terakhir. Tepatnya sejak pencatatan global yang dilakukan peneliti Goddard Institute of Space Studies (GISS) NASA, New York, pada 1880.
Melansir dari laman Nasa.gov, periode bulan Juni hingga Agustus 2023 merupakan musim suhu terpanas terutama di bagian belahan bumi utara. Di mana rata-rata suhu pada Juni, Juli, dan Agustus mencapai
2,1 derajat Fahrenheit atau 1,2 Celcius lebih panas dibandingkan musim panas periode 1951-1980.
Rekor suhu terpanas di tahun ini bukan hanya sekadar angka, tapi membawa dampak bencana yang nyata. Di antaranya memperparah kebakaran hutan dan kekeringan yang terjadi hampir di berbagai belahan dunia. Di antaranya seperti yang terjadi di Kanada dan Hawai, Amerika Serikat, Eropa, hingga kawasan Asia.
Termasuk Indonesia yang dilanda kebakaran hutan yang hampir bersamaan, mulai dari Kalimantan, Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara, hingga Papua.
“Cuaca ekstrem mengancam kehidupan di seluruh dunia, dampak perubahan iklim adalah ancaman planet kita dan generasi mendatang, ” ujar Bill Nelson, administrator NASA.
Nah, NASA sendiri mengumpulkan catatan suhu melalui sistem GISS Surface Temperature Analysis (GISTEMP). Hasil catatan NASA diperoleh anomali suhu yang mengkhawatirkan. Di mana sejak 1960, suhu rata-rata musim panas (Juni-Agustus) terus meningkat signifikan hingga 2023.
NASA menyebut tren pemanasan global jangka panjang ini dipicu kenaikan emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Terutama aktivitas yang meningkatan polusi karbondioksida (CO2). Seperti industri, pemakaian bahan bakar fosil, mukai dari minyak bumi, batu bara, dan gas alam, hingga pemakaian freon dan klorofluorokarbon (CFC) dalam alat pendingin atau AC.
“Dan keadaan akan menjadi lebih buruk jika kita terus melepaskan karbondioksida dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfer,” jelas Gavin Schmidt, ilmuwan iklim dan direktur GISS.
Kondisi ini diperparah dengan fenomena iklim El Nino. Fenomena El Nino sendiri sebenarnya fenomena iklim yang alami ketika suhu permukaan laut yang lebih hangat dari biasanya di Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur.
Namun Josh Willis, ilmuwan iklim dan ahli kelautan di Jet Propulsion Laboratory NASA, California Selatan, menyebut bahwa dampak El Nino pada tahun ini lebih panjang daripada yang pernah terjadi sebelumnya. Bahkan, NASA memprediksi puncak dampak El Nino akan dirasakan pada 2024, yakni di periode bulan Februari, Maret, dan April.
“El nino berdampak pada panas dan kekeringan di negara-negara di Pasifik barat, seperti Indonesia dan Australia, dan kondisi suhu yang lebih dingin di wilayah barat daya Amerika Serikat,” ujarnya.
Writer: Laoh Mahfud
Editor: Dwi Lindawati








