SURABAYA, Tugujatim.id – Beragam reaksi atas pernyataan tegas Menteri Agama (Menag) RI, H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) tentang himbauan agar menjauhkan bangsa dan republik ini dari politik identitas bermuatan SARA mendapat respon dari Pimpinan Wilayah GP Ansor Jatim.
Ketua PW GP Ansor Jatim, H Syafiq Syauqi Lc meminta semua pihak cermat dan menangkap pesan penting kebangsaan dari statement yang disampaikan Menag.
Gus Syafiq, sapaannya, menjelaskan bahwa selaku Menag yang terlahir dari basis kaderisasi Gerakan Pemuda Ansor, pesan Gus Yaqut tersebut dinilainya sebagai sikap yang lahir dari basis ideologi kebangsaan Ansor yang kuat.

Disebutnya bahwa sejak kali pertama dilahirkan, kader Ansor selalu istiqomah untuk menjaga dan memelihara nilai kebangsaan agar tetap kokoh dan lestari dalam bumi pertiwi.
“Pesan Gus Yaqut harus kita dudukan pada semangat kolektif anak bangsa untuk tidak terjebak dan bermain dalam politik identitas bernuansa SARA yang sudah menjadi kajian akademik sebagai salah satu bagian perusak sendi-sendi kebangsaan kita,” terang Gus Syafiq.
Politik SARA dan identitas disebut oleh Gus Syafiq sebagai sesuatu yang tidak hanya bid’ah tapi juga haram untuk diterapkan dalam konteks demokrasi Pancasila.
“Politik SARA dan identitas itu tidak hanya bid’ah tapi juga haram untuk dilakukan dalam kehidupan demokrasi di negeri yang berbineka ini. Bhinneka Tunggal Ika akan terancam jika permainan politik kotor ini tidak kita cegah dengan tegas. Ini prinsip yang harus kita pegang kuat,” tegasnya.
Untuk itu, ia meminta kepada semua pihak untuk tidak “baper” atas pesan Gus Yaqut yang disebutnya sebagai pesan moral kebangsaan seorang Menag.
“Saya perlu ingatkan kembali bahwa perlawanan terhadap politik identitas dan SARA yang mengancam kebinekaan kita sebagai sebuah bangsa adalah amanat ideologis bagi seluruh kader Ansor. Garis perlawanan ini senada dengan gerakan bersama seluruh komponen bangsa, termasuk seluruh partai politik yang semuanya berkomitmen untuk menolak politik identitas. Jadi narasi Gus Men (menteri) adalah narasi kolektif seluruh komponen bangsa dalam melawan politisasi agama. Kita back up penuh,” pungkasnya.(*)
Editor: Lizya Kristanti