PASURUAN, Tugujatim.id – Islam memiliki akar sejarah yang panjang di Pasuruan. Lokasi kotanya yang berada di pinggiran pantai utara menjadi persinggahan para pedagang dunia, termasuk para juru dakwah dalam menyebarkan Islam. Berikut rekomendasi 7 lokasi wisata religi, makam para penyebar Islam dan wali yang patut diziarahi sebagai napak tilas penyebaran Islam di Pasuruan dan sekitarnya.
1. Makam KH Hamid Pasuruan
Destinasi wisata religi pertama yang populer menjadi tujuan para peziarah adalah makam KH Abdul Hamid di Kota Pasuruan. Lokasinya terletak di jantung kota, tepatnya di belakang Masjid Jami’ Al Anwar Kawasan Alun-Alun Kota Pasuruan.
Destinasi ini menjadi primadona dan setiap hari ratusan hingga ribuan peziarah berkunjung ke makam Kyai Abdul Hamid yang diyakini sebagai seorang waliyulloh dan terkenal akan karomahnya. Banyak masyarakat percaya dengan berdoa di sana akan membawa keberkahan.
Sekitar Masjid Jami’ Al Anwar juga dihiasi 12 Unit payung hidrolik ala Masjid Nabawi di Madinah yang menambah daya tarik bagi wisatawan. Selain itu, saat malam hari gemerlap lampu warna-warni menambah keindahan suasana kota.
Anda yang ingin memborong oleh-oleh juga dapat membelinya di Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pertokoan sepanjang jalan yang tidak jauh dari Makam Kyai Hamid.

2. Makam Habib Jakfar bin Syaikhon Assegaf
Makam Habib Jakfar bin Syaikhon Assegaf berada satu kompleks dengan makam KH Abdul Hamid. Ia merupakan guru dari KH Abdul Hamid yang dipercaya sebagai waliyullah dan digelari sebagai Ahlan Bil Quran atau ahlinya Alquran. Gelar tersebut disematkan karena hafalan, bacaan serta pemahamannya tentang Alquran.
Habib Jakfar bin Syaikhon Assegaf berasal dari Desa Ghurrof, Hadromaut, Yaman. Orang tuanya adalah pasangan Habib Syaikhon bin Ali bin Hasyim Assegaf dan Ruqayyah binti Muhammad Manqusy, yang dipercaya seorang waliyullah dan tokoh besar di zamannya.
Habib Jakfar ke Indonesia untuk menimba ilmu sejak usia 21 tahun dan sempat kembali ke Mekkah pada usia 40 tahun, sebelum kembali lagi ke Indonesia untuk berdakwah. Selama hidupnya diisi dengan dakwah berpindah-pindah tempat, hingga pada akhirnya menghabiskan sisa umurnya untuk berdakwah di Pasuruan.
Habib Jakfar mendirikan majelis dzikir dan hizib di Pasuruan. Majelis ini terus berlanjut hingga sekarang dan tetap diteruskan oleh cucunya, Habib Taufik bin Abdulqadir bin Jakfar Asseggaf.
Habib Jakfar terkenal sebagai sosok ulama yang sabar dalam memberi nasehat dan bimbingan, sehingga kerap berperan menjadi juru damai antara sejumlah pihak yang berseteru.
Selain oleh anak dan cucunya, perjuangan dakwah Habib Jakfar semakin meluas karena dua muridnya menjadi ulama besar, yakni KH Abdul Hamid dan Kyai Mas Imam bin Thohir (Pasuruan).
3. Makam Mbah Ratu Ayu atau Syarifah Khafijah
Destinasi wisata religi kedua di Pasuruan yang juga sering dikunjungi peziarah adalah makam Syarifah Khadijah atau yang dikenal sebagai Mbah Ratu Ayu atau Mbah Ratu Ibu. Lokasi makamnya berada di Kelurahan Kersikan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, berada di pinggir jalan raya poros jurusan Pasuruan-Surabaya.
Mbah Ratu Ayu merupakan keturunan dari Syech Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Wakil Presiden Republik Indonesia, KH Makruf Amin masih memiliki hubungan darah dengan Mbah Ratu Ayu dan tahun lalu sempat berziarah ke makam tersebut.

Lokasi makamnya bersebelahan dengan rest area Swadesi yang berada di Jalan Raya dan menjadi Pusat produk UMKM khas Pasuruan, seperti busana bordir, souvenir. Akses untuk menuju komplek makam Mbah Ratu Ayu sangat mudah, karena berada tepat di halte tempat transit kendaraan travel, bus antar kota, antar provinsi dari arah Surabaya, Probolinggo, Banyuwangi, Bali.
4. Makam Mbah Slagah
Destinasi wisata religi Makam Mbah Slagah juga termasuk lokasi wisata religi terkenal di Kota Pasuruan. Mbah Slagah yang memiliki nama asli Mbah Hasan Sanusi adalah seorang mubaligh atau penyebar agama Islam di Pasuruan dan terkenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan melawan penjajahan Belanda.
Mbah Slagah membantu Bupati Pasuruan pertama, Raden Surgo mengusir Belanda yang masuk melalui jalur pesisir pantai utara wilayah Desa Mayangan. Mbah Slagah berjasa dalam membangun Masjid Jami’ Al-Anwar Kota Pasuruan.
Lokasi makam Mbah Selagah berada di Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, di pinggir selatan Stadion Untung Suropati Kota Pasuruan.
5. Makam Mbah Sakarudin
Wisata religi selanjutnya adalah makam Mbah Sakarudin yang merupakan ayah dari Mbah Selagah sekaligus pendiri masjid Jamik Pasuruan. Kompleks makamnya berada di Desa Keboncandi, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan.
Mbah Syakarudin juga merupakan ulama penyebar agama Islam di Pasuruan, terutama di wilayah Pasuruan sisi timur. Di komplek pemakaman Mbah Sakarudin juga berjajar makam para ulama Pasuruan lain, termasuk makam dari guru Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan.
Lokasi wisata religi makam Mbah Sakarudin ramai dikunjungi wisatawan, terutama menjelang bulan Ramadan hingga akhir bulan puasa.
6. Makam Mbah Sholeh Semendi
Sedikit bergeser ke arah timur dari makam Mbah Sakarudin, terdapat makam Mbah Semendi atau yang bernama asli Mbah Sholeh, ulama yang dikenal sakti dan suka bersemedi. karenanya terkenal dijuluki Mbah Semendi.
Mbah Sholeh Semendi merupakan putra dari Sultan Maulana Hasanudin, seorang ulama dan pejuang dari Banten. Ketika Banten tengah bergejolak dalam melawan penjajaH, Mbah Sholeh pergi bersyiar menyebarkan Islam di Pasuruan. Mbah Sholeh memiliki anak, Mbah Syakaruddin dan cucunya adalah Sayyid Hasan Sanusi atau Mbah Slagah.
Mbah Sholeh Semendi sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Pasuruan. Ia sebagai salah satu pendiri Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan yang masih terus melanjutkan kegiatan dakwah pendidikan hingga sekarang ini.

Mbah Sholeh Semendi terkenal dengan karomahnya yang bisa mengobati orang sakit, selain memang mengembangkan ilmu ketabiban atau kedokteran secara Islami. Salah satu cerita karomahnya adalah mengatasi wabah lepra yang menyebar di Winongan kala itu.
Lokasi makam Mbah Sholeh Semendi berada di Dusun Bandaran, Desa Winongan Lor, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan.
7. Makam Sayyid Syarif Arif Segoropuro
Sedikit bergeser ke pesisir utara wilayah timur Kabupaten Pasuruan, terdapat makam Sayyid Syarif Arif atau lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Arif Segoropuro. Lokasi makamnya berada di Desa Segoropuro, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, tepatnya sekitar 2 Km dari jalur Pantura yang menghubungkan arah Surabaya, Pasuruan dan Banyuwangi.
Mbah Segoropuro merupakan anak dari Mbah Ratu Ibu atau Sayyidah Khodijah. Adapun ayahnya bernama Syekh Abdurrahman Basyayban dimakamkan di komplek pemakaman Sunan Gunung Jati, Banten.
Mbah Arif Segoropuro merupakan murid sekaligus menantu Mbah Sholeh Semendi, yang kemudian memberinya mandat berdakwah di Desa Segoropuro.
Mbah Sayyid Syarif Arief juga terkenal karomahnya dengan salah satu cerita pernah memindahkan padepokannya menjauh dari bibir pantai. Ia dalam cerita itu harus memotong pohon-pohon besar demi mendirikan pondok.
Namun setelah pondok dibangun, proses belajar mengajar para santrinya terganggu oleh suara deburan ombak. Suara deburan ombak itu dianggap mengganggu para santrinya lantaran mengalahkan suara Mbah Arief Segoropuro. Karenanya, Mbah Arief Segoropuro bermunajat kepada Allah Swt, ingin memindahkan padepokannya lebih menjauh dari pesisir laut.
Namun setelah berhasil, Mbah Sayyid Arief justru merasa bersalah. Karena menganggap kurang bersyukur atas nikmat Allah Swt. Setiap doanya, Ia senantiasa menangis dan memohon ampunan dan menyadari kekurangan serta kekhilafannya sebagai manusia.
Cerita itu kemudian menjadi cikal bakal kawasan tersebut sebagai Desa Segoropuro, yang merupakan akronim dari Segera Njaluk Pangapuro. Hingga kini padepokan Mbah Arief Segoropuro terus ramai peziarah dari seluruh penjuru Indonesia.
Penulis : Mahfud
Editor: Darmadi Sasongko







