JEMBER, Tugujatim.id – Selain memberikan dampak positif seperti membantu proses pemberitaan, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan memiliki potensi yang mengancam beberapa bidang pekerjaan jurnalistik.
Hal tersebut diungkap Koordinator Cek Fakta Tempo, Ika Ningtyas yang menyatakan bahwa, beberapa media pemberitaan, telah memanfaatkan AI untuk menggantikan beberapa bidang pekerjaan jurnalistik, salah satunya yaitu presenter.
“Presenter, sekarang tidak perlu merekrut presenter lagi, misalnya kayak Tv One ya, jadi presenternya itu hanya dipakai voice-nya aja, kemudian itu digenerate gitu ya dengan presenter AI mereka,” ujar Ika Ningtyas pada Jumat (19/7/2024).
Selain itu, pekerjaan copywriter memiliki potensi digantikan oleh AI. Maraknya platform AI di bidang penulisan secara tidak langsung, berpotensi mengancam posisi pekerjaan seorang copywriting di dalam bidang jurnalistik.
Menurut Ika Ningtyas, hal tersebut bisa saja tidak terjadi karena alasan tertentu. “Kalau memang tuntutannya media tidak terlalu tinggi, misalnya bahasanya harus pakai tulisan jurnalistik yang feature misalnya kayak gitu kan nggak,” katanya.
Selanjutnya, AI mengancam bidang pekerjaan dalam dunia jurnalistik yaitu illustrator. Beberapa media menggunakan ilustrator untuk membantu menyampaikan berita dengan menggunakan visual.
Keberadaan AI yang membantu dalam pembuatan desain visual, yang lambat laun akan terus mengalami perubahan dan menjadi lebih canggih. Hal tersebut memungkinkan mengganti para pekerja illustrator di dunia media.
“Tapi ketika nanti ini semakin bagus, semakin canggih, para ilustrator ini bisa saja hilang karena dari medianya kemudian lebih memilih pakai AI. Nah ini menjadi salah satu isu juga, sekarang yang banyak dikhawatirkan,” jelasnya.
Tetapi, Ika Ningtyas menegaskan bahwa terdapat beberapa bidang dalam dunia jurnalistik yang tidak dapat digantikan oleh AI, seperti investigasi dan berita-berita indeks. Menurutnya, beberapa hal yang tidak bisa dibuat oleh AI yaitu emosi dan gaya tulisan yang cenderung monoton.
“Sebagus-bagusnya Chat GPT, dia tidak akan bisa menulis sebagus manusia, beda gitu ya, emosi nya nggak dapat, kemudian gaya penulisanya juga nggak dapat. Jadi memang kaku, standar kepenulisannya,” pungkas Ika Ningtyas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








