LAMONGAN, Tugujatim.id – Kabupaten Lamongan memiliki sejumlah tugu ikonik yang tidak hanya berfungsi sebagai penanda kota, tetapi juga mengandung nilai filosofis yang mencerminkan sejarah, budaya, serta identitas masyarakat setempat. Makna dan Arti Tugu Lamongan secara filosofis begitu kaya.
Tugu-tugu ini menjadi simbol perjalanan sejarah Lamongan dan warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Berikut adalah beberapa tugu penting di Lamongan beserta arti dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Tugu Wingko Babat: Simbol Kuliner Legendaris
Tugu Wingko Babat yang berdiri megah di bundaran Pasar Babat merupakan pengingat bahwa jajanan khas wingko memang berasal dari Babat, Lamongan. Tugu ini memiliki fondasi berbentuk bundar setinggi sekitar tujuh meter, dengan enam replika wingko raksasa berbentuk bulatan yang ditempatkan pada tiga garis lengkung sebagai representasi dari penampang wingko.
BACA JUGA: Tugu Lamongan, Ikon Kota yang Wajib Dikunjungi
Makna filosofis dari tugu ini adalah kebanggaan masyarakat Lamongan terhadap kuliner khas mereka yang telah mendunia. Wingko Babat yang terbuat dari kelapa dan ketan melambangkan kebersamaan dan kehangatan keluarga. Selain itu, keberadaan tugu ini menjadi penanda bagi pengguna jalan dari luar kota bahwa mereka telah memasuki wilayah Babat, sebuah daerah yang kaya akan sejarah dan budaya kuliner.
Tugu Paduraksa: Warisan Sejarah dan Keagamaan
Tugu Paduraksa yang berada di perbatasan Lamongan-Gresik menjadi ikon baru yang diresmikan pada tahun 2018. Desain tugu ini terinspirasi dari gapura makam Sunan Sendang Duwur yang terletak di Paciran, Lamongan. Sunan Sendang Duwur dikenal sebagai salah satu ulama penyebar Islam di Jawa, yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan. Filosofi dari tugu ini adalah ajaran kebaikan yang ditanamkan oleh Sunan Sendang Duwur dapat terus diimplementasikan oleh masyarakat Lamongan dalam kehidupan sehari-hari.
Secara arsitektur, Tugu Paduraksa memiliki dua sayap di kanan dan kiri yang melambangkan keakhiratan dan kehidupan setelah mati. Sementara itu, terdapat lengkungan bernama Kalpawreksa yang berarti Pohon Kalpataru, simbol pohon kehidupan dan keberlanjutan. Bagian kaki tugu dihiasi dengan burung merak yang menyerupai Phoenix, lambang kebangkitan dan kejayaan.
Tugu Desa Tertua di Lamongan: Jejak Sejarah Sejak Era Airlangga
Berlokasi di Desa Candisari, Kecamatan Sambeng, tugu ini dibangun untuk menandai keberadaan desa tertua di Lamongan berdasarkan Prasasti Cane yang dikukuhkan oleh Sri Maharaja Airlangga lebih dari 1000 tahun lalu. Desa Candisari dipercaya sebagai salah satu desa yang telah ada sejak masa kerajaan Kahuripan, sehingga tugu ini menjadi bukti sejarah peradaban yang masih lestari hingga kini.
Tugu ini diresmikan oleh Bupati Lamongan pada 27 Oktober 2021 sebagai bentuk penghargaan terhadap masyarakat setempat yang telah menjaga warisan sejarah dan budaya daerahnya. Selain itu, tugu ini juga menjadi simbol semangat perjuangan menuju kejayaan Lamongan, dengan harapan agar masyarakat terus menjaga nilai-nilai budaya, gotong royong, serta kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Tugu Titik 0 KM Lamongan: Pusat Pemerintahan dan Identitas Kota
Tugu Titik 0 KM yang terletak di sebelah utara Alun-Alun Kota Lamongan menjadi ikon baru yang diresmikan pada 25 Desember 2022. Fungsi utama dari tugu ini adalah sebagai patokan pengukuran jarak antar daerah di Lamongan serta penentu jarak ke kota-kota lain di luar Lamongan. Selain itu, keberadaannya juga menandai pusat pemerintahan, perekonomian, dan kegiatan sosial masyarakat.
Desain tugu ini terinspirasi dari logo city branding Lamongan “Megilan,” yang mencerminkan semangat progresif dan dinamis kota ini. Dengan struktur yang modern dan elegan, tugu ini diharapkan menjadi tempat favorit wisatawan untuk berfoto serta menjadi objek wisata baru yang dapat meningkatkan daya tarik Kota Lamongan. Selain itu, keberadaan Tugu Titik 0 KM juga menjadi pengingat bagi masyarakat tentang pentingnya kemajuan daerah dan kebersamaan dalam membangun kota yang lebih baik.
Makna Filosofis dan Harapan Masa Depan
Keberadaan tugu-tugu ini tidak hanya memperindah wajah kota, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Setiap tugu mencerminkan sejarah panjang, kebudayaan, serta semangat kebersamaan masyarakat Lamongan. Pemerintah daerah berharap bahwa ikon-ikon ini dapat semakin memperkuat kebanggaan warga terhadap daerahnya, sekaligus menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung dan mengenal lebih dekat keunikan Lamongan.
Dengan terus menjaga dan melestarikan simbol-simbol ini, Lamongan diharapkan dapat menjadi kota yang tidak hanya maju dalam pembangunan, tetapi juga tetap berpegang pada nilai-nilai budaya dan sejarahnya. Keberadaan tugu-tugu ini menjadi bukti bahwa Lamongan adalah daerah yang kaya akan sejarah, budaya, dan semangat juang yang tidak pernah pudar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis : Fawwaz Ravi Akbar/ Magang
Editor: Darmadi Sasongko







