TUBAN, Tugujatim.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Tuban mengalami peningkatan. Sejak Januari hingga 24 April 2025 tercatat 254 kasus dengan 3 penderita meninggal dunia. Mayoritas penderita adalah anak-anak usia 5–14 tahun.
Kepala Dinkes P2KB Tuban, Dra. Esti Surahmi menyampaikan kelompok anak sekolah paling rentan terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue. Sehingga separuh Kasus Demam Berdarah dialami oleh anak-anak.
“Lebih dari setengah kasus demam berdarah terjadi pada anak-anak. Ini sangat mengkhawatirkan,” kata Esti, Kamis (01/05/2025).
Esti menyebutkan, tiga kecamatan memiliki jumlah kasus demam berdarah lumayan banyak. Data menunjukkan Merakurak menjadi wilayah dengan kasus tertinggi yakni 37 kasus, disusul Semanding dengan 28 kasus dan Jenu dengan 27 kasus.

Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik dan PSN 3M Plus
Sementara itu, kematian terjadi masing-masing satu orang di Kecamatann Palang, Merakurak dan Tuban. Dibanding tahun lalu, jumlah kasus memang menurun dari 292 kasus ke 254 kasus, tetapi jumlah kematian justru naik.
Dinas Kesehatan terus mengampanyekan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dan PSN 3M Plus, yakni menguras, menutup tempat air, dan mendaur ulang barang bekas, serta langkah tambahan seperti larvasidasi dan penggunaan losion antinyamuk. “Fogging tidak cukup. Kita harus putus siklus nyamuk dari jentiknya,” tegas Esti.
BACA JUGA: Siswi Korban DBD di Tuban Meninggal, RSUD Minta Warga Waspada
Dinkes telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan, menggerakkan kader Jumantik, menyebarkan informasi kesehatan lewat media sosial, dan memastikan ketersediaan logistik seperti insektisida dan larvasida.
Masyarakat diminta aktif menjaga lingkungan, melakukan PSN seminggu sekali, dan segera membawa penderita demam ke fasilitas kesehatan. Jangan menganggap remeh penderita demam, karena DBD bisa berakibat fatal bila terlambat penanganannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter : Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko







