JEMBER, Tugujatim.id – Situs Duplang Jember terletak di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi saksi peradaban spiritualitas megalitikum yang ditunjukan melalui penemuan watu kenong, dolmen, hingga menhir.
Selain cocok digunakan sebagai tempat berlibur, Situs Duplang Jember juga dapat dijadikan spot untuk mendalami sepenggal peradaban umat manusia yang dipercaya mulai dapat membuat struktur bangunan dari batu.
Baca Juga: Rahasia Terpendam, Potret Arkeologis Situs Duplang di Jember
Peninggalan purbakala yang terbuat dari bebatuan itu memiliki bentuk khas dengan fungsinya masing-masing. Seperti menhir yang memiliki bentuk tegak digunakan sebagai media pemujaan terhadap arwah leluhur.
Juru Pelihara Situs Duplang Jember Sudarman Abdurahim menjelaskan, kemunculan situs ini diperkirakan ada sejak abad ke-10 Masehi. Selang satu abad kemunculan Candi Borobudur di abad ke-9 Masehi.
“Jadi di sini salah satu perkampungan purbakala, selain Kendal dan Trowulan,” ujar Sudarman saat ditemui Tugujatim.id pada Senin (12/05/2025).

Menurut pengakuan pria berusia hampir satu abad itu, saat ditemukan benda-benda purbakala itu berada tepat di posisi pertama kali ditemukan. Singkat cerita, saat terjadi penjarahan, dia memutuskan untuk mengumpulkan benda-benda itu di satu tempat.
“Itu barang sitaan saya amankan dari penjarahan dulu, pelaku langsung saya tangkap. Makanya saya bawah ke sini diletakkan di luar. Memang saya lainkan dengan yang ada di dalam, yang memang asli kepunyaan situ dari dulu hingga sekarang,” terangnya.
Di awal penemuan benda purbakala watu kenong, terdapat di sebelah barat Situs Duplang, yang merupakan kuburan batu atau dolmen.
Situs Dipercaya sebagai Tempat Peristirahatan
Di Situs Duplang, keberadaan dolmen dipercaya sebagai tempat peristirahatan orang megalitik, yang memiliki bentuk batu besar dengan empat hingga enam penopang batu pada sisinya.
“Jadi situs ini, banyaknya benda-benda itu yang berada di lingkup pagaran itu kurang lebih 40, lain yang ada di luar itu,” kata Sudarman.
Sedangkan watu kenong yang memiliki bentuk menyerupai gamelan kenong berbentuk silinder atau membulat, digunakan tumpuan persembahan terhadap arwah leluhur. Benda ini sering dikait-kaitkan dengan kepercayaan leluhur di masa Megalitikum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati







