JEMBER, Tugujatim.id – Sebuah kampung nelayan di pinggiran Samudera Hindia menyimpan cerita panjang yang dimulai jauh sebelum Jember resmi menjadi kabupaten. Puger Kulon, permukiman tua di garis pantai selatan Jawa Timur, kini memasuki usianya yang ke-149 tahun.
Keberadaan kampung ini tercatat rapi dalam arsip-arsip zaman kolonial. Catatan tertulis paling awal menyebut nama Bukit Bulan, nama kuno kawasan ini sudah eksis tahun 1876 menurut dokumen di Arsip Nasional.
Lima tahun kemudian, administrasi Hindia Belanda mencatat kepemilikan tanah RVO (Register Verponding Obligatie) tahun 1911, membuktikan kawasan ini sudah diakui secara resmi. Masyarakat dan pemuka desa sepakat mengambil 1876 sebagai tahun kelahiran resmi Puger Kulon.
“Satu di Arsip Nasional itu berbunyi Bukit Kulon itu yang tadi itu 1876. Kemudian dokumen yang kita punya di desa ini ya tanah RVO itu peninggalan Belanda berbunyi di situ dokumennya 1911,” ujar Kepala Desa Puger Kulon, Nurhasan pada Kamis (16/10/2025).
Perayaan ulang tahun ke-150 akan digelar 2026, menandai satu setengah abad perjalanan desa ini. Kehidupan masyarakat pesisir tak bisa dilepaskan dari upacara Petik Laut. Ritual penghormatan kepada laut ini sudah berlangsung sejak era penjajahan dan tetap dilaksanakan hingga sekarang.
Acara ini bukan sekadar festival. Bagi warga, ini adalah momen bersyukur atas berkah samudera dan memohon perlindungan bagi pelaut yang menggantungkan hidup di atas ombak. Dalam satu perayaan sebelumnya, ritual ini bahkan digelar bertepatan dengan peringatan seratus tahun Desa Puter Bulan, memperlihatkan keterkaitan erat antara adat dan kronologi sejarah lokal.
Komposisi penduduk Puger Kulon terbentuk dari tiga gelombang migrasi. Kelompok perintis datang dari tanah Mataram, membawa budaya Jawa tengah ke pesisir timur. Menyusul kemudian suku Bugis dan Mandar, bangsa pelaut ulung dari Sulawesi yang mahir navigasi maritim. Gelombang terakhir datang dari Pulau Madura.

Percampuran tiga etnis ini melahirkan komunitas pesisir dengan karakter khas: keramahan, ketaatan spiritual, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan kehidupan maritim.
Periode penjajahan meninggalkan bekas yang masih bisa dilacak. Sebuah stasiun kereta api pernah berdiri di sebelah timur pasar, meski kini hanya tersisa dalam foto dokumentasi. Bidang-bidang tanah bekas milik perusahaan kereta api kolonial sedang didata ulang oleh PT KAI.
Pemerintah desa bersama warga juga menyelamatkan prasasti dan artefak kuno dari kawasan pantai. Dinamika pesisir yang terus berubah karena abrasi membuat banyak benda bersejarah terpendam, namun sebagian berhasil diamankan dan kini disimpan di balai desa.
Nama Puger sendiri punya akar linguistik yang menarik. Dalam tradisi lisan, tempat ini dulunya disebut “Kunir Besini” kata yang diasosiasikan dengan kunyit berwarna kuning, simbol kesuburan dalam budaya agraris.
Diklaim Patih Gajah Mada Pernah Singgah saat Masa Keemasan Majapahit
Cerita turun-temurun bahkan mengklaim Raja Hayam Wuruk bersama Patih Gajah Mada singgah di lokasi ini saat masa keemasan Majapahit, ketika namanya masih Gunir Besir. Evolusi bahasa lokal mengubahnya menjadi Puger, sebutan yang bertahan sampai hari ini.
Sejarawan lokal memiliki hipotesis menarik: Sadeng yang terkenal dalam narasi Perang Sadeng era Majapahit kemungkinan mencakup wilayah Puger masa kini. Reorganisasi wilayah di era modern memecah kawasan besar itu menjadi beberapa desa: Puger Wetan, Puger Kulon, Grenden, Kasian, dan Mojosari.
Teori ini menempatkan Puger sebagai bagian dari jalur pesisir strategis di zaman kerajaan-kerajaan Nusantara. Pemerintah desa menekankan pentingnya pendidikan sejarah bagi generasi baru. Menurut mereka, memahami akar sejarah adalah fondasi identitas, dari level desa hingga struktur pemerintahan nasional.
Upaya dokumentasi tertulis sedang digalakkan agar narasi dan nilai-nilai yang diwariskan nenek moyang tidak sirna termakan zaman. Ini bukan nostalgia semata, melainkan pembangunan karakter dan kebanggaan lokal yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








