Tugujatim.id – Pasca erupsi Gunung Semeru tahun 2021, lanskap di sepanjang jalur Desa Sumber Urip, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, mengalami perubahan visual yang kini dimanfaatkan sebagai titik swafoto dan titik kumpul wisatawan.
Ruas jalan yang semula hanya berfungsi sebagai akses mobilitas warga, perlahan menjelma menjadi salah satu destinasi singgah baru — dikenal luas sebagai Teras Semeru.
Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya penyebaran konten di media sosial. Pemandangan terbuka ke arah punggungan Semeru dan hamparan sawah di kiri-kanan jalan membuat kawasan tersebut ramai dikunjungi, termasuk oleh wisatawan mancanegara.
Lonjakan aktivitas terjadi terutama pada akhir pekan, ketika rombongan turis maupun komunitas pegiat foto udara berdatangan untuk merekam lanskap.

Seiring tingginya kunjungan, kemacetan menjadi situasi yang kerap berulang. Titik kemacetan utama terjadi pada jalur masuk dari arah Jalan Raya Sumber Urip menuju area utama Teras Semeru hingga pertigaan sebelum Pasar Sumber Urip.
Pada akhir pekan, kemacetan tercatat muncul pada rentang pukul 05.30—08.30 WIB dengan durasi rata-rata mencapai tiga jam. Penumpukan kendaraan dipicu oleh pengunjung yang berhenti di badan jalan untuk mengambil gambar serta terbatasnya lahan parkir resmi.
Kepadatan ini berdampak pada dua pihak sekaligus. Di sisi pengunjung, antrean kendaraan memperpanjang waktu tempuh menuju area pandang. Di sisi lain, warga lokal mengaku akses mobilitasnya terhambat ketika harus melewati ruas yang sama pada jam padat. Belum ada rekayasa lalu lintas yang diberlakukan secara formal hingga saat ini.
Meski demikian, geliat ekonomi warga mulai tampak. Beberapa kedai kopi bermunculan dan memanfaatkan lonjakan lalu lintas wisata sebagai sumber pendapatan baru. Selain itu, sejumlah pemuda desa membaca peluang lebih jauh melalui jasa wisata Lava Tour Semeru.

Menurut Deni Malik (23), warga Desa Sumber Urip yang ikut terlibat dalam aktivitas wisata tersebut, fenomena ramainya kunjungan tidak hanya menguntungkan pelaku kedai kopi, tetapi juga membuka ruang bagi anak muda setempat untuk mengambil peran seperti menjadi pemandu Lava Tour Semeru.
“Alhamdulillah dengan adanya wisata ini UMKM naik mas, tak sedikit dari anak muda ikut ter;ibat untuk mencari rupiah dari sana, ada juga yang ikut Lava Tour Semeru, ada yang jualan kopi pakai motor ” ujar Deni.
Dalam pandangan Deni, sorotan terhadap ruas Sumber Urip bermula dari fungsinya sebagai jalur evakuasi pasca-erupsi Semeru 2021. Arus relawan dan penyaluran bantuan melewati titik ini sehingga kawasan tersebut kerap terdokumentasi dan diberitakan.
Dari ekspos inilah sebagian orang mulai menyadari bahwa koridor jalan tersebut memiliki bentang pandang langsung ke arah Gunung Semeru. Kesadaran itu kemudian berkembang menjadi inisiatif menjadikan lokasi ini sebagai titik singgah wisata, yang pada akhirnya memicu lonjakan kunjungan rutin setiap akhir pekan.
“Jadi banyak donatur yang lewat sana kalau mau ke lapangan oro-oro ombo untuk menyalurkan donasi ke warga yang terdampak, kebetulan banyak yang merekam jalur itu, dan ramailah di media, apalagi setelah perbaikan jalan itu” Imbuhnya.
Ia juga mengatakan bahwa dalam jangka panjang, area persawahan di sisi kiri—kanan jalan berpotensi dialihfungsikan sebagian untuk fasilitas pendukung seperti kantong parkir, area kemping, maupun zona spot foto agar pengambilan gambar tidak mengganggu tubuh jalan.
Sebelum itu terjadi, ketertiban pengunjung dinilai menjadi kunci agar kegiatan wisata dan aktivitas warga dapat berjalan bersamaan tanpa saling menghambat. “Untuk sementara lahan parkir secara khusus belum ada, namun pemilik Coffe Teras Semeru mengusahan tempat parkir di sebelah Coffe nya, itupun kurang memadai untuk menampung lonjakan pengunjung saat Weekend” Pungkasnya.
Melihat tren kunjungan yang terus bertambah, pengelola swadaya dan warga berharap wisatawan dapat menjaga ketertiban selama berada di area desa wisata.
Tertib dalam memarkir kendaraan, tidak menutup akses jalan warga, serta mengikuti arahan petugas lapangan dinilai penting agar geliat ekonomi tetap bergerak tanpa mengorbankan kelancaran akses publik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penuls: Fahmi Irmanto (Magang)
Editor: Darmadi Sasongko








