JEMBER, Tugujatim.id – Perum Bulog Kantor Wilayah Jember mencatat serapan gabah Kabupaten Jember mencapai 118.000 ton selama periode 2025.
Pencapaian ini tidak hanya memecahkan rekor internal di lingkungan Bulog Jawa Timur, tetapi juga berhasil melampaui proyeksi awal yang sudah ditetapkan manajemen.
Data lapangan menunjukkan volume gabah tersebut ekuivalen dengan produksi beras sekitar 84.000 ton. Persentase ketercapaian program pembelian pun mencatatkan angka impresif 110 persen dari rencana tahunan.
Muhammad Ade Saputra selaku Kepala Kantor Bulog Jember mengungkapkan bahwa kenaikan volume pembelian gabah di tahun 2025 mengalami pertumbuhan ketimbang periode sebelumnya. Catatan tahun 2024 menunjukkan pembelian gabah dari petani hanya berkisar 20.000 ton.
“Kenaikan pembelian di periode ini mencapai kisaran 200 sampai 300 persen jika kita bandingkan dengan tahun lalu,” ungkap Ade saat dikonfirmasi pada Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa, rencana awal Bulog Jember di permulaan tahun 2025 menargetkan akuisisi gabah senilai 59.000 ton dalam bentuk beras. Akan tetapi, implementasi di lapangan menunjukkan tren positif dengan realisasi akhir tahun menyentuh angka 88.000 ton ekuivalen beras.
Menurut penuturan Ade, momentum pertumbuhan ini didorong oleh strategi pengadaan gabah dan beras yang lebih intensif langsung dari petani, ditambah maksimalisasi distribusi beras lewat skema Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Faktor pendukung lainnya mencakup penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat serta operasional penjualan beras komersial yang turut melancarkan sirkulasi persediaan, sehingga aktivitas pembelian gabah dapat berlangsung lebih efektif.
Menatap tahun 2026, Bulog Jember dihadapkan pada tantangan baru menyusul kebijakan pemerintah yang menetapkan target nasional pembelian gabah petani sebesar empat juta ton. Angka tersebut akan didistribusikan ke seluruh kantor cabang Bulog di tanah air.
Ade mengidentifikasi salah satu hambatan utama di wilayah Kabupaten Jember yakni minimnya sarana pascapanen, terutama peralatan pengeringan gabah. Situasi ini berpotensi menjadi bottleneck dalam penanganan hasil panen saat musim panen puncak tiba.
Sebagai solusi, Bulog Jember mengintensifkan dan memperluas kolaborasi dengan pengusaha penggilingan padi swasta beserta rekanan lokal. Strategi ini ditempuh untuk mempertahankan mutu gabah petani sambil mengakselerasi proses akuisisi.
“Kami konsisten melakukan tinjauan berkala berdasarkan pencapaian periode lalu dan mengonsolidasikan jejaring kemitraan supaya target pembelian gabah serta beras di tahun 2026 bisa terealisasi,” tegasnya.
Bulog Jember menegaskan komitmennya bahwa program pembelian gabah akan terus diprioritaskan langsung dari tingkat petani, dengan tujuan ganda mempertahankan kestabilan harga sekaligus meningkatkan taraf hidup para petani di Jember dan kawasan sekitarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








