SURABAYA, Tugujatim.id – Emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang dinilai aman dan stabil di tengah dinamika ekonomi global. Meski tidak menjanjikan keuntungan instan, harga emas ini terbukti mampu mempertahankan nilai aset dalam jangka panjang dan relatif tahan terhadap gejolak ekonomi.
Berdasarkan data pergerakan harga emas PT Pegadaian, dalam lima tahun terakhir, tren kenaikan terlihat cukup konsisten. Pada 1 Januari 2021, harga emas berada di kisaran Rp969 ribu per gram. Setahun kemudian, tepatnya 1 Januari 2022, harga emas naik menjadi Rp990 ribu per gram.
Kenaikan harga berlanjut pada awal 2023 dengan level Rp1,026 juta per gram. Tren positif tersebut semakin menguat pada 1 Januari 2024 ketika harga emas mencapai Rp1,129 juta per gram. Lonjakan signifikan terjadi pada awal 2025, dengan harga emas menembus Rp1,506 juta per gram.
Baca Juga: Sumbang Fluktuasi, Penyebab Harga Emas di Mojokerto Naik pada November 2025
Memasuki awal 2026, harga emas kembali mencatatkan rekor baru. Per 8 Januari 2026, harga emas tercatat berada di level Rp2,599 juta per gram. Angka ini menunjukkan bahwa emas tetap mampu bertahan dan bahkan mengalami peningkatan nilai di tengah tekanan inflasi, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian ekonomi global.
Diketahui, emas kerap dijadikan instrumen lindung nilai atau safe haven, terutama saat kondisi ekonomi global tidak stabil. Selain itu, investasi emas juga dinilai fleksibel karena dapat dimulai dari nominal kecil dan dilakukan secara bertahap, sehingga relatif terjangkau bagi berbagai lapisan masyarakat.
Faktor yang Memengaruhi Kenaikan Harga Emas Setiap Tahun
Pergerakan harga emas tidak terjadi tanpa sebab. Sejumlah faktor global dan ekonomi berperan besar dalam menentukan naik turunnya harga emas di pasar internasional maupun domestik.
Ketidakpastian ekonomi global menjadi salah satu faktor utama. Saat dunia menghadapi resesi, krisis keuangan, hingga ketegangan geopolitik, investor cenderung mencari aset yang lebih aman. Emas kemudian menjadi pilihan karena dinilai mampu menjaga nilai di tengah kondisi yang tidak stabil.
Kebijakan moneter bank sentral juga berpengaruh signifikan. Kebijakan suku bunga yang ketat cenderung menekan harga emas, sementara kebijakan moneter yang lebih longgar membuat emas kembali diminati investor.

Selain itu, kenaikan inflasi global turut memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai. Saat daya beli menurun akibat inflasi, permintaan emas biasanya meningkat untuk menjaga nilai kekayaan.
Permintaan dari negara-negara dengan perekonomian besar seperti China, India, dan Rusia juga berkontribusi terhadap kenaikan harga emas dunia. Pembelian emas dalam jumlah besar dapat mengurangi pasokan global dan mendorong harga naik.
Baca Juga: Update Harga Emas Hari Ini 3 Desember 2025: Ada Tren Naik Jelang Akhir Tahun
Fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat turut memengaruhi harga emas karena logam mulia ini diperdagangkan dalam mata uang dolar. Saat dolar melemah, harga emas cenderung menguat, begitu pula sebaliknya.
Faktor permintaan dan penawaran pasar juga tak kalah penting. Ketika permintaan emas meningkat di tengah pasokan terbatas, harga akan terdorong naik, terutama saat kondisi ekonomi global diliputi ketidakpastian.
Opsi Memulai Investasi Emas Secara Bertahap
Bagi masyarakat yang ingin mulai berinvestasi emas, kini tersedia berbagai pilihan yang lebih mudah dan terjangkau. Salah satunya dengan menabung emas dalam bentuk saldo berbasis emas 24 karat melalui layanan Tabungan Emas Pegadaian.
Layanan ini memungkinkan masyarakat memulai investasi dengan setoran awal mulai dari Rp10 ribuan tanpa batasan nominal saat menambah saldo. Konsep ini dinilai cocok bagi pemula yang ingin berinvestasi secara bertahap dan konsisten.
Dengan kemudahan akses dan tren harga yang cenderung meningkat dalam jangka panjang, emas masih menjadi salah satu pilihan investasi yang relevan untuk menjaga nilai aset di tengah dinamika ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








