TUBAN, Tugujatim.id – Menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tahun 2026, suasana di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban mulai dipenuhi kesibukan pada Kamis (12/02/2026). Sejak dua pekan terakhir, para karyawan Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) itu membersihkan setiap sudut bangunan.
Mereka membersihkan dari sudut altar utama hingga tempat lilin dan perlengkapan sembahyang. Semua dipersiapkan agar perayaan tahun baru berlangsung khidmat dan penuh makna.
Baca Juga: Pasar Atom Surabaya Surganya Masyarakat Pemburu Asesoris Imlek
Debu-debu disapu, lantai dipel, serta perlengkapan ibadah ditata ulang. Bagi pengurus Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, bersih-bersih bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol menyambut tahun baru dengan hati dan niat yang bersih.
“Bersih-bersih sudah kami lakukan sejak dua pekan lalu. Kami ingin saat malam tahun baru nanti, semuanya sudah siap dan umat merasa nyaman saat bersembahyang,” ujar Staf Karyawan Klenteng Kwan Sing Bio, Liana, Kamis (12/02/2026).

Selain bersih-bersih, pemasangan lampion menjadi pemandangan paling mencolok. Sekitar 200 lebih lampion merah kini menggantung rapi di serambi, lorong, hingga halaman depan klenteng. Warna merah yang menyala berpadu ornamen emas, menciptakan suasana hangat sekaligus sakral.
Lampion-lampion tersebut merupakan sumbangan umat dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Tuban, tetapi juga dari Surabaya, sejumlah kota di Pulau Jawa, hingga luar Pulau Jawa.
“Lampion ini sumbangan dari umat. Biasanya mereka memasang lampion dengan harapan rezekinya lancar dan keluarganya diberi kesejahteraan selama setahun ke depan,” jelas Liana.
Kuda Api Lambang Keberanian, Semangat Tinggi, dan Optimis
Tahun ini, Imlek memasuki Tahun Kuda Api. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, Kuda Api melambangkan keberanian, semangat tinggi, dan dorongan untuk bergerak maju dengan optimistis. Energi api diyakini memperkuat tekad serta daya juang dalam menghadapi tantangan hidup.
“Maknanya membawa keberanian dan semangat untuk terus melangkah maju. Harapannya, tahun ini lebih baik dari sebelumnya,” imbuhnya.

Tidak hanya lampion, lilin-lilin besar juga mulai berdatangan sebagai sumbangan dari berbagai penjuru Nusantara. Lilin itu akan dinyalakan saat malam pergantian tahun sebagai simbol doa dan harapan. Cahaya lilin dipercaya menjadi penerang jalan kehidupan agar senantiasa diberi keselamatan.
Dalam tradisi Imlek, terdapat pula ritual yang dikenal sebagai ciswa, yakni upaya menghilangkan kesialan. Bentuknya beragam, mulai dari melepas burung atau ikan, hingga menyediakan sajian tertentu sebagai simbol membuang hal-hal buruk.
“Ciswa itu bisa macam-macam. Ada yang melepas burung, melepas ikan, atau menyiapkan sajian seperti daging babi, telur bebek, beras, dan kacang hijau. Itu sebagai simbol membuang sial,” terang Liana.
Untuk Tahun Kuda Api, beberapa shio dipercaya memiliki peruntungan baik, di antaranya kuda, ayam, tikus, kelinci, dan kerbau. Meski demikian, dia menegaskan bahwa keberuntungan tetap harus diiringi usaha dan doa.
Pada malam tahun baru nanti, Klenteng Kwan Sing Bio Tuban akan menggelar sembahyang bersama yang diikuti umat dari Tuban maupun luar kota. Biasanya, suasana akan ramai sejak sore hingga menjelang tengah malam.
“Setiap Imlek, ada umat dari berbagai kota yang datang untuk sembahyang bersama. Itu sudah menjadi tradisi,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








