BOJONEGORO, Tugujatim.id – Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur dikenal sebagai daerah di tepian sungai Bengawan Solo yang menyimpan jejak sejarah panjang. Nama Rajekwesi, yang dahulu menjadi sebutan bagi wilayah Bojonegoro, bukan sekadar makna geografis, tetapi juga cerminan perjalanan peradaban yang terbentang dari masa pra-sejarah, sejarah hingga masyarakat modern.
Melalui berbagai temuan arkeologis, naskah sejarah, serta tradisi budaya masyarakat, perjalanan Rajekwesi dapat ditelusuri dalam tiga linimasa penting: masa pra-sejarah, periode Hindu-Buddha, dan perkembangan etnografi masyarakat lokal.
Ketiga linimasa ini memperlihatkan bagaimana wilayah yang kini dikenal sebagai Bojonegoro berkembang dari kawasan hunian manusia dan hewan purba. Kemudian menjadi bagian dari jaringan kerajaan besar di Jawa, hingga membentuk identitas budaya masyarakat saat ini.

Fosil Stegodon hingga Mamalia Purba
Bojonegoro menyimpan jejak panjang kehidupan pra-sejarah yang kini dirawat melalui berbagai koleksi fosil di Museum Rajekwesi. Pantauan TuguJatim.id, di lantai bawah ruang pamer pra-sejarah, pengunjung dapat melihat berbagai temuan yang menggambarkan kehidupan jutaan tahun sebelum munculnya kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Koleksi tersebut antara lain fosil mamalia purba, termasuk gajah purba dari jenis Stegodon trigonocephalus. Setidaknya terdapat tiga jenis fosil gajah purba yang ditemukan di wilayah Bojonegoro. Hewan ini diperkirakan hidup sekitar 1 hingga 2 juta tahun lalu, pada masa yang relatif sama dengan kemunculan manusia purba di wilayah Asia.
“Fosil-fosil yang ditemukan tidak hanya berasal dari hewan darat, tetapi juga dari lingkungan perairan yang menandakan kawasan Bojonegoro pernah memiliki bentang alam yang sangat beragam,” ungkap Indigo Daffa Mileniar, selaku Pamong Budaya di Museum Rajekwesi Bojonegoro.
Sebaran temuan fosil juga menunjukkan perbedaan karakter wilayah. Di bagian selatan Bojonegoro, seperti Kecamatan Sekar, Gondang, Temayang, Ngraho, dan Margomulyo, banyak ditemukan fosil yang berkaitan dengan lingkungan rawa dan air tawar. Sementara di wilayah utara seperti Kalitidu, Malo, dan Kedewan, ditemukan fosil yang mengindikasikan adanya pengaruh lingkungan perairan purba.

Lanjut sebagian besar fosil yang tersimpan berasal dari temuan masyarakat. Warga yang menemukan benda diduga fosil biasanya melaporkan kepada pemerintah desa, kemudian diteruskan ke dinas terkait. Setelah itu, tim ahli seperti arkeolog atau peneliti akan melakukan identifikasi untuk memastikan apakah temuan tersebut dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya.
“Banyak koleksi yang kami miliki merupakan hibah dari masyarakat. Setelah ditemukan warga, kemudian dilaporkan dan akhirnya diserahkan untuk dirawat sebagai bagian dari koleksi museum Rajekwesi,” ujarnya.
Proses pengumpulan koleksi tersebut sebagian besar terjadi pada rentang tahun 1990 hingga awal 2000-an. Pada masa itu, banyak temuan fosil dilaporkan warga dari berbagai kecamatan di Bojonegoro. Lanjut alumnus Arkeologi Universitas Gadjah Mada, dalam perjalanannya. Tempat penyimpanan koleksi juga sempat mengalami beberapa kali perpindahan.
Mulanya koleksi disimpan di SD Model Terpadu Bojonegoro, kemudian berpindah ke eks mess Persibo, dan selanjutnya ke eks Kantor Inspektorat sebelum akhirnya ditata kembali di ruang pamer saat ini (Museum Rajekwesi Bojonegoro). “Karena proses perpindahan tersebut, beberapa data lama terkait temuan fosil tidak semuanya terdokumentasi secara lengkap,”jelasnya.
Untuk memastikan keaslian benda yang ditemukan, biasanya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satu cara awal adalah dengan melihat struktur batuan, fosil asli umumnya masih memiliki butiran batuan atau mineral alami. Sedangkan benda yang tidak memiliki butiran pasir atau memiliki warna yang terlalu homogen perlu diuji lebih lanjut. Melalui berbagai koleksi tersebut, Bojonegoro tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas, tetapi juga sebagai wilayah yang menyimpan jejak kehidupan purba yang berusia jutaan tahun.
“Temuan-temuan fosil ini menjadi bukti penting bahwa Bojonegoro pernah menjadi habitat berbagai satwa purba yang hidup jauh sebelum peradaban manusia seperti sekarang. Juga ditemukan batu yang diduga fosil, biasanya pihak Museum mengambil sampel kecil untuk diuji di laboratorium. Dari situ bisa diketahui apakah benar fosil atau batu biasa,” ucapnya.
Masa Keemasan: Rajekwesi pada Periode Hindu-Buddha
Masa keemasan Rajekwesi Bojonegoro pada periode Hindu-Buddha, dimulai dari kemunculan jejak perdagangan Global di Bojonegoro. Kemudian dari Majapahit hingga Dinasti Qing, Bojonegoro tidak hanya dikenal sebagai wilayah agraris di sepanjang aliran Bengawan Solo, tetapi juga menyimpan jejak penting dalam jaringan perdagangan global masa lampau.
Berbagai koleksi artefak yang ditemukan di wilayah ini menunjukkan bahwa kawasan Bojonegoro pernah menjadi bagian dari jalur pertukaran barang, budaya, dan teknologi yang melibatkan Asia hingga Eropa.
Salah satu bukti kuat aktivitas perdagangan tersebut terlihat dari koleksi keramik seperti kendi, gerabah, dan wadah penyimpan obat yang berasal dari masa Dinasti Qing sekitar abad ke-13 hingga ke-17. Keramik ini memiliki ciri khas berwarna putih kebiruan dengan motif bunga dan jamur yang identik dengan produksi keramik Tiongkok pada masa itu.
“Benda-benda tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat rumah tangga, tetapi juga menjadi komoditas perdagangan yang dipertukarkan dengan berbagai hasil bumi Nusantara,”beber pria kelahiran Blora.
Pada masa Majapahit, perdagangan internasional berkembang pesat. Pedagang dari Tiongkok membawa piring keramik dan kendi, sementara masyarakat Nusantara menukarnya dengan rempah-rempah, sutra, serta hasil pertanian seperti palawija. Sistem barter ini kemudian berkembang dengan penggunaan alat tukar berupa uang logam. Salah satunya adalah uang kepeng dari Tiongkok yang digunakan sebagai alat transaksi sebelum masyarakat mengenal sistem mata uang yang lebih modern.
Jejak perdagangan tersebut juga berkaitan erat dengan jalur transportasi air. Sungai Bengawan Solo pada abad ke-14 diketahui mampu dilalui kapal-kapal kayu berukuran besar. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi perkapalan pada masa Majapahit telah berkembang cukup maju. Bengawan Solo menjadi jalur distribusi barang dari wilayah pesisir menuju pedalaman, termasuk wilayah Bojonegoro.
“Memasuki masa Kesultanan Demak, aktivitas perdagangan semakin terbuka. Demak membangun pelabuhan yang mempertemukan pedagang dari berbagai wilayah seperti Portugis, Tiongkok, India, dan Arab. Bahkan pedagang dari Portugal telah hadir di Asia Tenggara sejak abad ke-14 hingga ke-15. Jalur Bengawan Solo menjadi salah satu pintu masuk perdagangan karena pada masa itu belum ada sistem pajak atau pembatasan perdagangan yang ketat,”cerita Daffa.
Selain keramik impor, masyarakat lokal juga telah menguasai teknologi pembuatan gerabah dari tanah liat. Menariknya, beberapa motif pada gerabah lokal menunjukkan pengaruh estetika dari keramik Tiongkok, menandakan adanya proses akulturasi budaya dalam aktivitas perdagangan.
Tidak hanya artefak perdagangan, Bojonegoro juga menyimpan peninggalan dari masa Hindu-Buddha. Salah satunya adalah temuan yoni yang merupakan simbol kesuburan dalam tradisi Hindu. Artefak ini ditemukan di wilayah timur dan selatan Bojonegoro, menandakan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi pusat aktivitas keagamaan pada masa lampau.
“Ada arca Dewa Siwa, atribut tangan memegang trisula (tombak bermata tiga) pada tangan kiri, aksamala (tasbih) tangan kanan, kamandalu (kendi air di tangan kiri, dan camara (alat pengusir lalat di tangan kanan,”jelasnya.
Temuan lain yang menarik adalah arca Ganesha yang dikenal sebagai dewa pengetahuan. Arca ini memiliki ciri belalai mengarah ke kiri, perut buncit, serta memegang berbagai atribut seperti tasbih dan obor. Terbuat dari batu andesit, arca ini menunjukkan bahwa pembuatnya adalah pemahat profesional dengan kemampuan tinggi, kemungkinan berasal dari kelompok pemahat yang memiliki kedudukan penting dalam struktur sosial masa itu.
Selain arca yang telah selesai dibuat, ditemukan pula bakal arca, yaitu patung yang belum selesai dipahat. Artefak semacam ini biasanya menunjukkan bahwa proses pembuatan terhenti, kemungkinan karena faktor ekonomi atau perubahan situasi politik pada masa itu.
Jejak peradaban juga tampak dari prasasti yang berfungsi sebagai semacam sertifikat tanah pada masa kerajaan. Salah satunya adalah prasasti Adan-Adan yang kini hanya tersedia dalam bentuk replika, sementara naskah aslinya disimpan di Museum Mpu Tantular. Prasasti tersebut menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa yang lazim digunakan dalam administrasi kerajaan pada masa Hindu-Buddha.
“Di wilayah utara Bojonegoro seperti Malo, Kasiman, dan Kedewan juga ditemukan manik-manik kalang-kalang yang biasanya ditemukan di peti kubur masyarakat yang hidup di gua. Artefak ini menunjukkan adanya tradisi penguburan tertentu pada masa prasejarah hingga awal sejarah,”tutur Daffa.
Koleksi lainnya berupa peralatan perunggu yang digunakan dalam ritual kerajaan. Salah satunya adalah talang atau wadah suguhan untuk raja yang biasanya berisi buah-buahan atau makanan ringan. Selain itu terdapat wadah perunggu yang digunakan untuk menyimpan abu jenazah raja-raja setelah proses kremasi. Berbeda dengan kalangan bangsawan, masyarakat umum biasanya menghanyutkan abu jenazah ke sungai.
Piring perunggu dengan motif matahari juga ditemukan di Bojonegoro. Motif tersebut sering dikaitkan dengan simbol kekuasaan dan kosmologi pada masa Majapahit, yang menunjukkan keterkaitan antara kepercayaan, seni, dan struktur sosial masyarakat saat itu.
“Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa Bojonegoro bukan sekadar wilayah pedalaman, tetapi juga bagian dari jalur peradaban dan perdagangan yang menghubungkan Nusantara dengan dunia. Dari keramik Tiongkok, teknologi gerabah lokal, hingga peninggalan Hindu-Buddha, semua menjadi bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi titik pertemuan budaya global di masa lampau,”imbuhnya
Era Majapahit hingga Pergantian Nama Rajekwesi pada Masa Kolonial
Sejarah Kabupaten Bojonegoro tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang kekuasaan kerajaan di Jawa serta dinamika politik pada masa kolonial. Wilayah yang kini dikenal sebagai Bojonegoro pernah berada di bawah pengaruh berbagai kerajaan besar, mulai dari era Hindu-Budha hingga masa Islam, sebelum akhirnya menjadi bagian dari sistem pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Jejak Kekuasaan Kerajaan di Bojonegoro. Pada masa awal, wilayah Bojonegoro berada dalam pengaruh kerajaan besar seperti Kerajaan Majapahit. Kerajaan ini dikenal memiliki jaringan perdagangan luas serta menguasai banyak wilayah di Nusantara. Setelah keruntuhan Majapahit pada abad ke-15, wilayah di Jawa Timur, termasuk Bojonegoro, perlahan berada dalam pengaruh kerajaan Islam.
Kekuasaan kemudian berpindah ke Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Setelah Demak melemah, kendali politik berpindah ke Kesultanan Pajang, sebelum akhirnya berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram. “Dalam struktur pemerintahan Mataram, wilayah Bojonegoro dikenal sebagai bagian dari kawasan penting di daerah perbatasan, termasuk wilayah Jipang dan Rajekwesi,” sambung Nailul Fauziya, Pamong Budaya Museum Rajekwesi Bojonegoro.
Rajekwesi dan Awal Pemerintahan Lokal
Pada masa pemerintahan Mataram Islam, wilayah ini dikenal dengan nama Rajekwesi. Nama ini secara harfiah berarti pagar besi, yang melambangkan kekuatan atau benteng pertahanan wilayah.Tanggal 20 Oktober 1677 menjadi momentum penting dalam sejarah pemerintahan daerah ini. Pada saat itu dibentuk Kadipaten Rajekwesi, yang dipimpin oleh seorang adipati dengan gelar Mas Tumapel. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Bojonegoro.
“Pembentukan kadipaten tersebut menandai penguatan struktur pemerintahan lokal di wilayah Rajekwesi, sekaligus menunjukkan pentingnya daerah ini dalam jaringan kekuasaan Mataram di Jawa bagian timur,”tambahnya.
Gejolak Politik pada Masa Perang Diponegoro
Memasuki abad ke-19, wilayah Rajekwesi mengalami pergolakan politik yang berkaitan dengan peristiwa besar di Jawa, yakni Perang Diponegoro. Perang ini tidak hanya mengguncang wilayah Jawa Tengah, tetapi juga berdampak hingga ke wilayah Bojonegoro. Pada sekitar 1825–1828, terjadi pemberontakan lokal yang dipimpin oleh Sosrodilogo. Dalam situasi politik yang tidak stabil, bupati saat itu, Joyonegoro, terpaksa melarikan diri ke wilayah Blora dan Rembang.
Kekosongan kekuasaan di Rajekwesi membuat Sosrodilogo kemudian diangkat sebagai pemimpin wilayah secara de facto. Pada saat yang sama, wilayah Bojonegoro berada dalam pengawasan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pasukan kolonial kemudian dikirim ke Rajekwesi untuk menertibkan wilayah tersebut. “Setelah situasi kembali terkendali, pemerintahan kolonial berhasil merebut kembali wilayah Rajekwesi dan mengembalikan kekuasaan kepada Bupati Joyonegoro,”tandasnya.
Pemindahan Pusat Pemerintahan dan Pergantian Nama Menjadi Bojonegoro
Setelah kembali menjabat, Bupati Joyonegoro memindahkan pusat pemerintahan dari wilayah lama ke daerah selatan, tepatnya di Desa Kebogado yang berada di sekitar aliran Bengawan Solo. Lokasi ini dianggap lebih strategis sebagai pusat pemerintahan baru. Namun, dalam perkembangannya Joyonegoro merasa bahwa nama Rajekwesi kurang sesuai digunakan sebagai nama wilayah administratif. Secara harfiah, Rajekwesi berarti pagar besi, yang dianggap kurang merepresentasikan identitas daerah.
Atas pertimbangan tersebut, Joyonegoro kemudian mengajukan permohonan kepada pemerintah kolonial untuk mengganti nama wilayah Rajekwesi. Permohonan itu akhirnya disetujui, dan pada 25 September 1825 nama Rajekwesi resmi diganti menjadi Bojonegoro.
“Nama Bojonegoro berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa. Bojo, yang berarti istri atau pasangan. Negoro, yang berarti negeri atau pemerintahan, makna tersebut sering dimaknai sebagai pemerintahan yang membawa kesejahteraan dan kenyamanan bagi masyarakatnya,”papar Alumnus Ilmu Sejarah, Universitas Gajah Mada.
Warisan Sejarah Membentuk Identitas Bojonegoro
Perjalanan sejarah Bojonegoro menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya dipengaruhi oleh kerajaan besar di Jawa, tetapi juga oleh dinamika politik lokal serta kebijakan kolonial. Dari masa Kerajaan Majapahit hingga pergantian nama pada abad ke-19, Bojonegoro berkembang dari sebuah wilayah kadipaten bernama Rajekwesi menjadi daerah administratif yang memiliki identitas sendiri.
“Hari jadi 20 Oktober 1677 menjadi pengingat akan lahirnya pemerintahan lokal di Rajekwesi, yang kemudian berkembang menjadi Kabupaten Bojonegoro seperti yang dikenal saat ini,” tutup wanita asal Kota Malang kepada TuguJatim.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Lizza Arnofia/ Kontributor
Editor: Darmadi Sasongko








