PASURUAN,Tugujatim.id – Lembah Dieng, sebuah lokasi lahan bekas tambang di Pasuruan menjadi salah satu rekomendasi wisata lokal bagi masyarakat sekitar Jawa Timur.
Sebuah kenyataan, keindahan Lembah Dieng yang hijau tersebut merupakan bekas lahan pertambangan terbengkalai.
Pada Jumat, 3 April 2026, saya mengunjungi Lembah Dieng yang letak administratif berada di Dusun Dieng, Desa Jeruk Purut, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.
Lokasi ini merupakan salah satu rekomendasi destinasi wisata oleh para netizen di media sosial sebagai tempat healing yang wajib untuk dikunjungi.

(Foto.Gloria Puspa Wardhana/Tugujatim)
Lokasi ini menarik wisatawan karena hamparan hijau yang sangat luas serta indah dipandang. Sehingga cocok bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pengalaman liburan bernuansa alam.
Sebagai ruang terbuka hijau yang luas, Lembah Dieng dinilai belum sepenuhnya aman untuk wisatawan. Karena lokasi lembah memiliki struktur tanah yang berbatu dan tidak rata, perlu untuk berhati-hati ketika mengunjungi tempat wisata ini.
Pada setiap pinggiran tebing tidak diberikan pagar pembatas untuk menjamin keselamatan pengunjung.
“Status tanah tersebut masih milik perusahaan. Sempat desa ingin mengajukan kerja sama sebagai pihak ketiga untuk dikelola menjadi tempat wisata, tetapi perusahaan sebagai pemegang hak atas tanah tidak berkenan,” jelas Sugeng, Carik (Sekretaris Desa) Desa Jeruk Purut.

Melalui pernyataan ini dapat saya pahami bila wilayah tersebut tidak pernah ditetapkan secara resmi sebagai destinasi wisata.
Sejarah Tanah di Lembah Dieng
Menurut warga, tanah tersebut merupakan lahan bekas tambang galian C yang telah lama ditinggalkan oleh perusahaan.
Lembah Dieng dan lahan tambang sebelah barat adalah bekas tambang galian C. Perusahaannya ‘kukut’ (merugi).
“Lahan pertambangan di desa ini banyak, tidak hanya ada di Lembah Dieng. Namun kebetulan yang viral ya di sini,” jelas seorang warga di lokasi.
Viralnya Lembah Dieng disebabkan oleh konten-konten yang awalnya diupload oleh komunitas sepeda maupun komunitas motor trail. Karena keindahan panorama alam di media sosial, nama Lembah Dieng semakin dikenal sebagai destinasi pariwisata lokal.
Pengamatan saya selaras dengan pendapat warga tersebut terkait masih aktifnya kegiatan pertambangan di desa ini, karena sepanjang perjalanan menuju lokasi ditemukan banyak truk yang sedang beraktivitas membawa bahan-bahan hasil galian.
Sedikit cerita terkait sejarah tanah, pada awalnya wilayah tersebut adalah tanah milik warga yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian sawah tadah hujan untuk menanam jagung. Oleh karena dijual oleh penduduk kepada perusahaan, tanah tersebut berubah menjadi proyek galian C.
“Tambang tersebut sudah ada sejak lama, sejak zamannya Pak Soeharto sudah ada tambang itu. Bahkan sejak saya belum lahir proyek pertambangan di desa ini sudah ada,” tegas Carik Sugeng.
Satu hal yang menarik dari keterangan Carik Sugeng adalah terkait perubahan cara hidup warga sekitar oleh karena keberadaan tambang maupun pabrik yang beroperasi.
Carik Sugeng bercerita bahwa dulunya rata-rata pekerjaan warga desa di sini adalah petani, karena hadirnya proyek dan perusahaan maka daur hidup warga menjadi beralih ke sektor industri dan menjadi pekerja tambang. Tentu kenyataan ini menarik untuk ditelisik kembali, karena sesuai dengan realitas sosial yang terjadi di Indonesia bahwa kesuburan tanah dan keberlimpahan air tidak termanfaatkan dalam mendukung ketahanan pangan nasional serta meruntuhkan kearifan lokal.
Bekas Tambang Terbengkalai Dimanfaatkan Sebagai Destinasi Wisata
Lembah Dieng adalah kenyataan yang sangat disayangkan, yakni dari proses tambang yang ditinggalkan oleh pengelolanya.
Pasal 19-21 Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang reklamasi pascatambang yang mewajibkan perusahaan melakukan reklamasi paling lambat 30 hari setelah aktivitas pertambangan berhenti.

“Ada banyak lahan pertambangan di sini, mbak. Pokok sekitar lima proyek. Hampir sama bagus-bagus pemandangannya, tapi yang viral dan jangkauannya paling gampang adalah Lembah Dieng. Lalu oleh anak-anak karang taruna sekitar dimanfaatkan. Jalan diperbaiki, tadinya akses sepeda motor awalnya tidak bisa jadi bisa masuk, dibuat karcis untuk parkir juga. Kemudian Kepala Desa juga mengingatkan kalau ada apa-apa desa tidak dapat tanggung jawab jika misalnya ada yang jatuh,” jelas Carik Sugeng.
Sementara manusia sendiri selalu memiliki cara untuk bertahan, salah satunya dengan memanfaatkan lokasi bekas tambang menjadi bernilai ekonomi untuk warga.
Manusia juga punya cara mencari kebahagiaan, menikmati keindahan alam yang sejatinya hasil ketidakbertanggungjawaban manusia lain.
Semoga ini bukan pembenaran bagi manusia untuk berbuat kerusakan di bumi! Salam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Gloria Puspa Wardhana/ Kontributor
Editor: Darmadi Sasongko








