TUBAN, Tugujatim.id – Sebanyak 4 jemaah haji Tuban tertinggal di Mekkah dan belum bisa dipulangkan bersama rombongan lainnya karena masih menjalani perawatan kesehatan di rumah sakit Arab Saudi.
Meski demikian, kepulangan jemaah haji Kabupaten Tuban tahun 2026 tetap mendapat apresiasi. Dari total 1.645 jemaah asal Tuban, seluruhnya dilaporkan dalam kondisi selamat tanpa ada jemaah meninggal dunia selama pelaksanaan ibadah haji.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Tuban, Abdul Ghofur mengatakan capaian tersebut menjadi kabar menggembirakan di tengah berbagai kekhawatiran situasi Timur Tengah sebelum musim haji berlangsung.
“Kita bersyukur kepada Allah. Di tengah isu kondisi politik Timur Tengah yang sempat membuat keberangkatan haji dikhawatirkan terganggu, Alhamdulillah seluruh jemaah Kabupaten Tuban bisa berangkat dan pulang dengan selamat,” ujarnya, Senin (08/06/2026).
Empat Jemaah Akan Dipulangkan Melalui Kloter Susulan
Menurutnya, nihilnya angka kematian jemaah haji asal Tuban menjadi pencapaian yang luar biasa tahun ini. Namun hingga saat ini masih ada empat jemaah yang harus menjalani observasi dan perawatan medis di Mekkah.
Empat jemaah tersebut nantinya akan dipulangkan melalui kloter susulan setelah kondisi kesehatannya membaik.
“Empat jemaah yang tertinggal ini nanti akan ditanazulkan, artinya dipulangkan bersama kloter berikutnya,” jelasnya.
Rinciannya, satu jemaah berasal dari Kloter 26 atas nama Niswatin. Kemudian dua jemaah dari Kloter 29 yakni Masriah Mashari dan Roikanah yang saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Makkah. Sementara satu jemaah dari Kloter 28 atas nama Siti Rokayah dirawat di Rumah Sakit King Abdullah. Sedangkan untuk Kloter 27 dalam kondisi sehat semua.
Baca Juga : Jemaah Haji Kloter 27 Tuban Pulang Lengkap, Pembimbing Sebut Layanan Haji 2026 Jauh Lebih Tertata
Kebijakan Baru Dinilai Bantu Jemaah Lansia dan Sakit
Abdul Ghofur menilai pelaksanaan haji tahun ini mengalami banyak perubahan, terutama setelah adanya reformasi pelayanan dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
Menurutnya, sejumlah kebijakan baru diterapkan saat proses ibadah di Arafah, Muzdalifah dan Mina. Salah satunya program Murur dan Tanazul yang diprioritaskan bagi jemaah lansia, sakit, disabilitas dan berkebutuhan khusus.
Program Murur memungkinkan jemaah hanya melintas di Muzdalifah tanpa harus turun dari kendaraan pada tengah malam. Skema itu diterapkan untuk mengurangi risiko kelelahan bagi jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu.
“Jemaah sakit maupun lansia sangat terbantu dengan kebijakan itu,” katanya.
Sementara program Tanazul memberikan kemudahan bagi jemaah tertentu agar tidak perlu menginap di tenda Mina dan bisa langsung dipindahkan sesuai kondisi kesehatannya.
Selain itu, transformasi pelayanan juga terlihat dalam pengelolaan dam atau penyembelihan hewan kurban. Tahun ini, mayoritas jemaah memilih pelaksanaan dam dilakukan di Arab Saudi.
“Hampir 85 persen jemaah memilih penyembelihan dam dilakukan di Tanah Suci,” jelas Ghofur.
Ia berharap peningkatan layanan haji yang dilakukan pemerintah Arab Saudi maupun Kementerian Haji Indonesia bisa terus dipertahankan agar kenyamanan dan keselamatan jemaah semakin baik pada musim haji mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Mochamad Abdurrochim








