Tugujatim.id – Di tengah perkembangan teknologi yang serba digital, hampir semua aktivitas kini dapat dilakukan melalui gawai, mulai dari berkomunikasi hingga mencatat berbagai hal penting. Meski demikian, tren kreatif yang dilakukan secara manual justru semakin diminati, salah satunya adalah junk journal.
Belakangan, hobi membuat junk journal semakin populer, terutama di kalangan generasi muda yang gemar mengekspresikan kreativitas dengan cara sederhana namun penuh makna. Berbeda dengan jurnal pada umumnya, junk journal memanfaatkan berbagai barang bekas untuk disusun menjadi karya unik yang bersifat personal.
Baca Juga: 7 Setup Meja Belajar Aesthetic yang Lagi Trending di TikTok
Beragam benda yang kerap dianggap sampah, seperti potongan kertas, tiket perjalanan, struk belanja, bungkus makanan, kartu ucapan hingga majalah lama, dapat diubah menjadi kolase artistik yang menyimpan cerita dan kenangan tersendiri. Tak heran, tren ini kerap disebut sebagai gerakan dari sampah jadi karya.
Selain menjadi sarana menyalurkan kreativitas, membuat junk journal juga memiliki manfaat bagi kesehatan mental. Mengutip laman Baptis Health, aktivitas menulis dan menuangkan pengalaman dalam jurnal dapat membantu seseorang mengurangi kecemasan sekaligus meningkatkan kesadaran diri. Dengan mencatat situasi yang memicu stres, seseorang dapat lebih memahami perasaannya dan menemukan cara untuk menghadapi kondisi serupa di masa mendatang.
Dukung Gaya Hidup Ramah Lingkungan
Tak hanya itu, situs Medium melalui artikel berjudul What and Why Is a Junk Journal menjelaskan bahwa junk journal memungkinkan seseorang untuk mengekspresikan diri secara bebas dan kreatif. Jurnal ini juga dapat menjadi tempat menyimpan berbagai kenangan berharga, mulai dari foto, kartu ucapan, kutipan favorit, hingga benda-benda kecil yang memiliki nilai sentimental.
Keunikan lain dari junk journal adalah kemampuannya dalam mendukung gaya hidup ramah lingkungan. Sesuai dengan namanya, sebagian besar bahan yang digunakan berasal dari barang bekas yang sudah tidak terpakai. Koran lama, foto, pamflet, kertas pembungkus hadiah, hingga kemasan produk dapat disulap menjadi hiasan yang mempercantik halaman jurnal.
Memulai membuat junk journal pun tidaklah sulit. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan berbagai barang bekas yang dianggap memiliki cerita atau kenangan tersendiri. Setelah itu, benda-benda tersebut dapat disusun menjadi kolase pada buku kosong. Pengguna juga dapat menambahkan tulisan berupa catatan harian, kutipan, opini, maupun kisah pribadi untuk memberikan sentuhan yang lebih personal.
Baca Juga: 15 Lagu Trending TikTok Juni 2026 yang Viral dan Banyak Dipakai Konten Kreator
Tak perlu khawatir jika hasil pertama belum sesuai harapan. Seiring waktu, kemampuan menyusun tata letak, memilih kombinasi warna, hingga mengembangkan gaya khas akan terus berkembang melalui proses belajar dan eksplorasi.
Pada akhirnya, junk journal bukan sekadar hobi biasa. Aktivitas ini menjadi wadah untuk mengekspresikan diri, menjaga kesehatan mental, sekaligus berkontribusi dalam mengurangi limbah melalui prinsip daur ulang. Dari barang-barang sederhana yang dianggap tidak berguna, lahirlah karya kreatif yang penuh makna dan inspirasi.
Dengan kemudahan bahan dan alat yang dibutuhkan, junk journal berpotensi terus berkembang menjadi bagian dari gaya hidup kreatif yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membawa dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Devi Ismayanti/Magang
Editor: Dwi Lindawati








