• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Surabaya

Penjara Kalisosok menjadi salah satu lorong bersejarah Surabaya yang menyimpan kisah masa kolonial di dalamnya (foto: Instagram @ini_surabaya)

Lorong Bersejarah Surabaya yang Menyimpan Kisah Tak Terduga

Mochamad Abdurrochim by Mochamad Abdurrochim
16 hours ago
in Wisata
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan yang menyimpan banyak jejak sejarah di setiap sudutnya, jejak tersebut membuatnya menjadi lorong bersejarah Surabaya yang menyimpan kisah tak terduga. Mau tau simana saja lokasi lorong-lorong bersejarah tersebut? Yuk simak! Tugu Jatim bakal kasih kamu kisahnya.

Tidak hanya bangunan besar dan monumen terkenal, berbagai lorong bersejarah Surabaya juga menyimpan kisah-kisah menarik yang tak banyak diketahui masyarakat, beberapa lokasi bahkan menjadi saksi peristiwa penting yang membentuk perjalanan kota ini dari masa kolonial hingga perjuangan kemerdekaan. Berikut beberapa lorong dan kawasan bersejarah di Surabaya yang menyimpan cerita tak terduga diantaranya ada: Gedung Internation, Jalan Glatik, Jalan Gula, Gang Kraton, Jembatan Merah, Gedung Don Bosco, Benteng Kedung Cowek, Gedung RRI Surabaya, Hotel Majapahit, Penjara Kalisosok.

You might also like

Pantai Modangan.

Hidden Gem Malang Selatan, Pantai Modangan Tawarkan Pesona Alam “Perawan” Nikmati Sunset dan Camping

21/06/2026 4:17 PM
Desa Wisata Bowele.

Desa Wisata Bowele Malang Kian Dilirik Wisatawan, Punya 3 Pantai Eksotis Sekaligus Jadi Surga Snorkeling

20/06/2026 9:08 AM

1. Gedung Internatio

Gedung bersejarah yang berada di kawasan Jembatan Merah ini menjadi salah satu saksi penting Pertempuran Surabaya tahun 1945. Bangunan yang dahulu digunakan sebagai tempat perkumpulan kredit dan perdagangan internasional Rotterdam Belanda tersebut selesai dibangun pada tahun 1931 yang diarsiteki oleh Ir Frans Johan Louwrens Ghijsels.

Pada masa penjajahan, sekutu mendarat di Surabaya dan gedung ini menjadi markas sekutu pada tahun 1945. Gedung Internatio yang diduduki oleh Inggris ini dipimpin oleh Mayor V Gopal. Keberadaan sekutu inilah yang membuat saat itu gedung internatio dikepung oleh arek-arek Suroboyo. Kemudian gedung inilah juga yang menjadi saksi pertempuran yang menewaskan Brigadir Jenderal AWS Mallaby dalam insiden yang memicu konflik besar antara pasukan Inggris dan pejuang Indonesia.

2. Jalan Glatik

Jalan Glatik ini dulunya merupakan sebuah jalan yang memiliki nama Stadhuis Steeg. Memiliki arti “gang Balai Kota” ternyata dulu sebelum ada di daerah Ketabang, Balai Kota sempat berdiri di area jalan ini.

Di sepanjang Jalan Gelatik ini rumah dengan arsitektur lama hadir berderetan. Tak hanya menjadi lokasi Balai Kota, dulunya Jalan Glatik juga menjadi kawasan perumahan para pejabat pada era kolonial. Karena itulah Jalan Glatik menjadi salah satu lorong bersejarah Surabaya yang menarik untuk ditelusuri.

3. Jalan Gula

Jalan Gula dulunya termasuk kawasan Pecinan. Jalan itu dulu dikenal dengan nama Suikerstraad yang berfungsi sebagai pusat gudang, perkantoran, dan kargo komoditas, khususnya tempat penyimpanan dan transaksi gula serta tembakau di era kejayaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Tak jauh dari jalan gula juga terdapat sebuah rumah abu dari keluarga The dan Han. Keluarga ini memiliki jabatan sebagai Pejabat Tionghoa yang diberi wewenang mengatur pecinan. Keluarga ini juga dikenal dekat dengan VOC yang membantu bisnisnya dan tak heran jika bisnisnya mulai dari bisnis tebu, karet, hingga gula menjadi lancar.

4. Gang Kraton

Siapa sangka, Surabaya dulu memiliki sebuah Keraton yang runtuh saat Belanda mulai memasuki Surabaya. Kerajaan di Surabaya sebelum runtuh tersebut dulunya dipimpin oleh seorang adipati sehingga wilayah Surabaya dulunya disebut sebagai Kadipaten Surabaya.

Wilayah kampung keraton ini berada di Gang Kraton II Kelurahan Alun-alun contong. Namun sayangnya keberadaan Keraton Surabaya mulai menghilang setelah terjadinya Perang Surabaya pada tahun 1710–1723. Kini, bangunan keratonnya sudah tidak dapat ditemukan lagi. Namun, jejak sejarahnya masih terlihat dari sisa tembok keraton yang kini menjadi gapura Kampung Kraton serta nama-nama kampung di sekitarnya yang diyakini berkaitan dengan keberadaan Keraton Surabaya pada masa lalu.

5. Jembatan Merah

Jembatan Merah Surabaya atau yang nama belandanya adalah Roode Brug ini juga merupakan salah satu lokasi lorong bersejarah Surabaya. Jembatan Merah merupakan salah satu kawasan bersejarah yang telah menjadi pusat aktivitas Kota Surabaya sejak era VOC. Setelah menerima penyerahan wilayah dari Raja Mataram Islam, Pakubuwono II, pada tahun 1743, VOC resmi menguasai Surabaya dan sejumlah daerah lainnya di Jawa.

Selain memiliki nilai sejarah kolonial, Jembatan Merah juga menjadi saksi penting perjuangan kemerdekaan Indonesia. Menjelang Pertempuran 10 November 1945, para arek-arek Suroboyo mengepung Gedung Internatio yang berada tidak jauh dari Jembatan Merah. Saat itu, kolong jembatan sering digunakan sebagai tempat berlindung para pejuang.

Peristiwa penting terjadi pada 30 Oktober 1945 ketika baku tembak antara tentara Sekutu dan pejuang Surabaya pecah di sekitar Gedung Internatio. Dalam insiden tersebut, A.W.S. Mallaby tewas, yang kemudian memicu kemarahan pihak Sekutu.

Kematian Mallaby menjadi salah satu pemicu serangan besar-besaran Sekutu ke Surabaya pada 10 November 1945. Hingga kini, Jembatan Merah tetap dikenang sebagai simbol heroisme dan perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

6. Gedung Don Bosco

Gedung Don Bosco yang berada di Jalan Tidar merupakan bangunan bersejarah yang kini difungsikan sebagai panti asuhan dan sekolah. Sebelum Perang Dunia II, gedung ini digunakan sebagai asrama pendidikan Katolik dan panti asuhan yang mengambil nama dari Johannes Bosco, seorang pastor asal Italia yang terkenal karena kepeduliannya terhadap anak-anak miskin.

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942–1945, Gedung Don Bosco dialihfungsikan menjadi gudang senjata terbesar di Surabaya. Akibatnya, ratusan anak panti harus dipindahkan ke lokasi lain. Gudang senjata tersebut dijaga oleh pasukan Jepang di bawah komando Mayor Hashimoto dan menjadi salah satu pusat persenjataan penting di kota Surabaya.

Peristiwa bersejarah terjadi pada 26 September 1945 ketika ribuan pemuda, pelajar, anggota BKR, PRI, dan warga Surabaya mengepung Gedung Don Bosco untuk melucuti persenjataan Jepang. Tokoh-tokoh perjuangan seperti Bung Tomo, Mohamad Mangoendiprodjo, dan Mohammad Jasin terlibat dalam proses negosiasi yang akhirnya membuat pihak Jepang menyerahkan senjata dan amunisi tanpa pertempuran besar.

Setelah penyerahan tersebut, persenjataan dibagikan kepada berbagai laskar perjuangan dan arek-arek Suroboyo untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Gedung Don Bosco kemudian digunakan sebagai markas Tentara Genie Pelajar sebelum akhirnya kembali menjalankan fungsi sosial dan pendidikan. Hingga kini, bangunan tersebut dikenang sebagai salah satu saksi penting perjuangan rakyat Surabaya pada masa awal kemerdekaan.

7. Benteng Kedung Cowek

Benteng Kedung Cowek juga merupakan salah satu lorong bersejarah Surabaya yang sampai saat ini masih bisa dilihat jejaknya. Benteng ini merupakan benteng peninggalan Belanda yang terletak di kawasan Kedung Cowek, Surabaya, tepat di sisi timur kaki Jembatan Suramadu.

Benteng ini dibangun pada tahun 1900 berdasarkan rancangan Kapten Zeni J.C. Proper sebagai bagian dari sistem pertahanan pesisir Surabaya pada masa kolonial. Setelah Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, benteng ini beralih ke tangan Jepang. Usai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Benteng Kedung Cowek dikuasai oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Pasukan Sriwidjaja yang menjadikannya sebagai basis pertahanan dalam menghadapi pasukan Sekutu.

Pada masa Pertempuran 10 November1945, bentengini menjadi salah satu titik perlawanan penting terhadap tentara Inggris. Dari lokasi inilah TKR dan Pasukan Sriwidjaja melancarkan serangan ke arah armada Sekutu. Banyak pejuang gugur akibat gempuran artileri kapal perang Inggris sebelum akhirnya benteng jatuh ke tangan Inggris pada 27 November 1945.

Hingga kini, Benteng Kedung Cowek masih menyimpan berbagai jejak pertempuran, seperti lubang bekas peluru pada dinding, parapet pertahanan, sarang meriam, serta sumur dan kolam yang dahulu menjadi sumber air bagi penghuni benteng. Keaslian lingkungan di sekitarnya yang relatif tidak banyak berubah menjadikan benteng ini sebagai salah satu saksi penting sejarah perjuangan Surabaya dan peninggalan militer kolonial yang masih dapat dijumpai hingga sekarang.

8. Gedung RRI Surabaya

Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dari tempat inilah berbagai informasi perjuangan dan siaran yang membangkitkan semangat rakyat pernah disebarluaskan.

RRI Surabaya memiliki sejarah panjang yang berawal dari stasiun radio pada masa kolonial Belanda. Ketika Jepang menduduki Indonesia, radio tersebut beralih menjadi radio Jepang. Setelah Indonesia merdeka, namanya resmi berubah menjadi Radio Republik Indonesia (RRI).

Pada masa perjuangan kemerdekaan, aktivitas siaran RRI Surabaya sering berpindah lokasi demi menjaga keberlangsungan informasi kepada masyarakat. Namun, situasi memanas ketika tentara Gurkha di bawah komando Inggris menduduki studio RRI pada 28 Oktober 1945 dan menghentikan siaran. Para angkasawan RRI dipaksa meninggalkan gedung, sementara pihak Sekutu mengambil alih studio.

Peristiwa tersebut memicu kemarahan arek-arek Suroboyo. Gedung RRI di Jalan Simpang (kini Jalan Pemuda) kemudian menjadi lokasi bentrokan sengit yang menewaskan sejumlah tentara Gurkha. Insiden ini turut memperbesar ketegangan yang berujung pada Pertempuran 10 November 1945.

Setelah masa perang berakhir, RRI Surabaya kembali dibangun dan pada tahun 1956 melanjutkan kegiatan siarannya di Jalan Kayoon. Hingga kini, RRI Surabaya dikenang sebagai salah satu media penting yang berperan dalam menyebarkan informasi dan semangat perjuangan pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Darisini kita tau bahwa lorong-lorong di sekitar gedung menyimpan jejak aktivitas para pejuang komunikasi yang berjuang melalui gelombang radio. Keberadaan gedung ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan di medan perang, tetapi juga melalui penyebaran informasi.

9. Hotel Majapahit

Sebagai salah satu ikon sejarah Surabaya, Hotel Majapahit menyimpan kisah heroik yang sangat terkenal. Hotel ini didirikan pada tahun 1910 oleh keluarga Sarkies dengan nama Hotel Oranje. Hotel bergaya arsitektur kolonial Eropa ini menjadi salah satu bangunan paling mewah dan bergengsi di Surabaya pada masa Hindia Belanda, serta sering digunakan oleh pejabat dan kalangan saudagar kaya.

Saat pendudukan Jepang pada tahun 1942–1945, hotel ini berganti nama menjadi Yamato Hoteru dan difungsikan sebagai markas militer Jepang. Kemudian setelah Indonesia merdeka, hotel ini menjadi lokasi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah perjuangan bangsa, yaitu Insiden Bendera pada 19 September 1945.

Dalam peristiwa tersebut, para pemuda Surabaya memasuki hotel untuk menurunkan bendera Belanda yang masih berkibar. Mereka kemudian merobek bagian biru bendera tersebut sehingga tersisa warna merah dan putih sebagai lambang kemerdekaan Indonesia. Aksi heroik ini menjadi simbol keberanian rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan dan turut mengobarkan semangat perjuangan menjelang Pertempuran 10 November 1945.

Setelah masa kemerdekaan, hotel ini beberapa kali berganti nama dan pengelolaan sebelum akhirnya dikenal sebagai Hotel Majapahit. Nama tersebut dipilih untuk menghormati kejayaan Kerajaan Majapahit, sekaligus mencerminkan identitas nasional dan kebanggaan budaya Indonesia. Hingga kini, Hotel Majapahit tetap menjadi salah satu ikon sejarah dan warisan budaya paling terkenal di Surabaya.

10. Penjara Kalisosok

Penjara Kalisosok merupakan salah satu penjara bersejarah di Surabaya yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda di kawasan Werfstraat. Penjara ini dikenal oleh masyarakat sebagai Bui Kalisosok dan digunakan untuk menahan para aktivis, tokoh pergerakan, serta siapa saja yang dianggap menentang kekuasaan kolonial.

Salah satu tokoh penting yang pernah ditahan di penjara ini adalah Soekarno pada tahun 1929 karena aktivitas politiknya yang menentang penjajahan Belanda. Selain Soekarno, sejumlah tokoh pergerakan lainnya, termasuk Dr. Soetomo, juga pernah mendekam di penjara ini.

Pada masa pendudukan Jepang, Penjara Kalisosok tetap difungsikan sebagai tempat penahanan bagi mereka yang dianggap melawan pemerintahan militer Jepang. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini masih digunakan sebagai lembaga pemasyarakatan hingga sekitar tahun 2000.

Kini, Penjara Kalisosok menjadi salah satu saksi bisu perjalanan sejarah Surabaya, mulai dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bangunan ini dikenang sebagai simbol perlawanan para pejuang yang pernah memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari balik jeruji penjara.

Keberadaan lorong bersejarah Surabaya menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di museum atau monumen besar. Gang sempit, jalan tua, hingga bangunan kolonial yang masih berdiri menjadi saksi berbagai peristiwa penting yang membentuk identitas Kota Pahlawan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer : Devi Ismayanti/Magang

Editor: Mochamad Abdurrochim

Tags: Berita Kota Surabaya hari iniberita Surabayaberita Surabaya hari iniKota PahlawanKota SurabayaKota Surabaya hari iniLorong Bersejarah SurabayaSurabayaWisata Bersejarah Surabaya
Mochamad Abdurrochim

Mochamad Abdurrochim

Related Stories

Pantai Modangan.

Hidden Gem Malang Selatan, Pantai Modangan Tawarkan Pesona Alam “Perawan” Nikmati Sunset dan Camping

by Dwi Linda
21/06/2026 4:17 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Pantai Modangan menjadi salah satu bukti bahwa Kabupaten Malang masih menyimpan banyak destinasi tersembunyi yang belum banyak...

Desa Wisata Bowele.

Desa Wisata Bowele Malang Kian Dilirik Wisatawan, Punya 3 Pantai Eksotis Sekaligus Jadi Surga Snorkeling

by Dwi Linda
20/06/2026 9:08 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Hai Sobat Wisata, kalau kamu sedang mencari destinasi yang bisa membuat liburan terasa lebih berwarna, Desa Wisata...

Mikutopia Kota Batu.

Mikutopia Kota Batu Raih Sertifikasi SNI Nasional, Destinasi Wisata Dunia Jamur Ini Makin Layak Dikunjungi

by Dwi Linda
19/06/2026 9:15 PM
0

BATU, Tugujatim.id – Mikutopia, destinasi wisata tematik dunia jamur yang berada di Kota Batu, Jawa Timur, resmi memperoleh Sertifikasi SNI...

Jalur kereta paling ramai di Jawa Timur.

Jalur Kereta Paling Ramai di Jawa Timur, Rute Surabaya-Malang Menjadi Salah Satu yang Tersibuk?

by Dwi Linda
19/06/2026 8:11 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Jalur kereta paling ramai di Jawa Timur menjadi salah satu moda transportasi favorit masyarakat. Selain menawarkan waktu...

Next Post
Nganjuk

Motor Diduga Hilang Kendali, Dua Warga Nganjuk Tewas Tenggelam di Waduk Kalimati Sidoarjo

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID