SURABAYA, Tugujatim.id – Kampung Arab Ampel merupakan salah satu kawasan bersejarah di Surabaya yang selalu ramai dikunjungi terutama bagi para peziarah. Berlokasi di kawasan Ampel, Kecamatan Semampir, tempat satu ini tak hanya dikenal sebagai kawasan wisata religi, tetapi juga sebagai pemukiman keturunan Arab sejak bertahun-tahun lalu. Dibalik keramaiannya sebagai kawasan wisata religi, kampung Arab Ampel satu ini menyimpan banyak fakta dan kisah-kisah menarik yang tak banyak diketahui wisatawan.
Sejarah Terbentuknya Kampung Arab Ampel
Kampung Arab Ampel merupakan salah satu kampung tertua yang ada di Surabaya. Sejarah Kampung Arab Surabaya dapat ditelusuri hingga abad ke-19 ketika pedagang Arab memilih mulai menetap di kota Surabaya ini untuk berdagang dan mencari kehidupan yang lebih baik. Masyarakat Timur Tengah datang ke lokasi satu ini dengan tujuan berdagang juga untuk mengunjungi kawasan yang dikenal dengan tempat tinggal seorang wali dan hal inilah yang membuat kampung Arab Ampel semakin berkembang.
Kedatangan masyarakat Arab ini kemudian terus terjadi secara bergelombang hingga ada pada suatu gelombang dimana warga Hadramak dari Hadramaut dan Yaman Selatan yang membuat jumlah kedatangan semakin membeludak dan pendatang semakin bertambah pada awal tahun 1900 an. Kedatangan mereka ke Indonesia terjadi bukan tanpa sebab, melainkan karena adanya konflik politik yang terjadi di tempat asal mereka.
Walaupun kampung Arab juga memiliki pendatang dengan jumlah yang cukup banyak narasi sejarah sering kali meminggirkan komunitas Arab akibat stigma buruk dan kebijakan diskriminatif masa lalu. Salah satu tonggak penting pembentukan sekat etnis seperti tionghoa, arab, dan eropa ini terjadi saat pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kebijakan Wijkenstelsel di Surabaya pada tahun 1835.
Lewat aturan ini, pemukiman dibagi-bagi berdasarkan asal-usul etnis agar pemerintah lebih mudah mengawasi mereka. Meski pembatasan ini perlahan memudar pada awal abad ke-20, sepanjang periode tersebut, masyarakat keturunan Arab dipantau secara ketat oleh Belanda karena dicurigai dapat mengancam stabilitas politik.
Dinamika ini memperlihatkan bagaimana pemerintah kolonial membeda-bedakan perlakuannya terhadap tiap etnis. Kelompok Tionghoa lebih dirangkul karena dianggap penurut dan memegang peran penting dalam roda ekonomi Belanda.
Sementara itu, warga Eropa berada di puncak hierarki sosial dimana mereka menguasai kekayaan dan memegang kendali pemerintahan, yang membuat sejarah mereka jauh lebih banyak dicatat. Di sisi lain, komunitas etnis Arab justru dikesampingkan dan hanya dipandang sebagai kelompok minoritas yang tidak memiliki kepentingan dalam lingkaran kekuasaan kolonial saat itu.
Keunikan Yang Bisa Dinikmati dan Diresapi
Selain adanya sejarah yang membahas terbentuknya Kampung Arab Ampel Surabaya satu ini, ada beberapa hal unik yang bisa di dikunjungi di area kampung ini. Dimana kawasan Wisata Religi Ampel di Surabaya bukan sekadar pusat spiritual, melainkan sebuah ruang pertemuan bagi berbagai lini sejarah mulai dari perkembangan Islam, asimilasi etnisitas, geliat perdagangan, hingga dinamika sosial yang membentuk kota Surabaya.
Jejak spiritual dan sejarah tersebut terpancar kuat melalui keberadaan Gapuro Limo, yaitu lima gapura bersejarah yang berdiri kokoh di area ini dengan sarat makna simbolik. Kelima gapura tersebut di antaranya adalah:
1. Gapuro Munggah yang terletak di Jalan Sasak sebagai pintu masuk utama.
2. Gapuro Poso yang berdiri anggun di dekat area tempat wudhu.
3. Gapuro Mengadep yang khas dengan hiasan ornamen cengkihnya.
4. Gapuro Ngamal sebagai simbol kedermawanan.
5. Gapuro Paneksen yang posisinya berada paling dekat dengan kompleks makam Sunan Ampel.
Melalui filosofi lima gapura ini, pengunjung tidak hanya diajak menyusuri lorong waktu masa lalu, tetapi juga meresapi nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh Sunan Ampel.
Salah satu daya tarik utama Kampung Arab Ampel ini juga adalah keberadaan Masjid Sunan Ampel yang didirikan oleh Sunan Ampel pada tahun 1421. Masjid ini termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia dan menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Timur pada masa Kerajaan Majapahit.
Tak hanya itu, saat kamu memasuki Kampung Arab Ampel, kamu akan merasakan suasana yang berbeda dari kawasan lain di Surabaya. Banyak bangunan bergaya Timur Tengah, toko perlengkapan ibadah, penjual parfum Arab, kurma, hingga kain khas Arab yang berjejer di sepanjang jalan. Nuansa ini bisa membuatmu merasa seperti sedang berada di kawasan perdagangan di Timur Tengah.
Salah satu ciri khas Kampung Arab Ampel ini juga adalah adanya lorong-lorong sempit yang dipenuhi aktivitas perdagangan. Gang-gang ini telah menjadi jalur ekonomi masyarakat setempat selama puluhan bahkan ratusan tahun. Meski tak cukup luas, suasananya selalu hidup dengan aktivitas jual beli dan wisata religi.
Kampung Arab Ampel juga terkenal dengan aneka kuliner bercita rasa Timur Tengah dan Arab-Indonesia. Wisatawan dapat mencicipi nasi kebuli, roti maryam, samosa, kopi Arab, hingga berbagai makanan khas keturunan Hadrami yang telah beradaptasi dengan lidah masyarakat Surabaya.
Darisini kita tau bahwa kampung Arab Ampel Surabaya bukan sekadar destinasi wisata religi, melainkan juga kawasan bersejarah yang menyimpan kisah panjang tentang perdagangan, dan penyebaran Islam di Surabaya. Tidak heran jika hingga kini kawasan ini selalu menjadi tujuan favorit wisatawan yang ingin merasakan suasana Timur Tengah tanpa harus keluar negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Devi Ismayanti/Magang
Editor: Mochamad Abdurrochim








