MOJOKERTO, Tugujatim.id – Kabupaten Mojokerto dikenal sebagai daerah yang menyimpan banyak peninggalan bersejarah dari masa Kerajaan Majapahit. Salah satu situs yang hingga kini masih terjaga dengan baik adalah Candi Tikus, sebuah bangunan bersejarah yang berada di kawasan Trowulan. Meski telah berusia ratusan tahun, candi ini masih menjadi destinasi favorit wisatawan, pelajar, peneliti, hingga pecinta sejarah yang ingin melihat langsung jejak peradaban Majapahit.
Keunikan Candi Tikus membuatnya berbeda dari kebanyakan candi di Indonesia. Bangunan ini tidak berdiri di atas permukaan tanah seperti candi pada umumnya, melainkan berada di dalam sebuah cekungan menyerupai kolam besar. Arsitektur yang unik, suasana yang tenang, serta nilai sejarah yang tinggi menjadikan situs ini sebagai salah satu destinasi wisata edukasi yang menarik untuk dikunjungi saat berada di Mojokerto.
Selain menyuguhkan keindahan bangunan kuno, kawasan candi juga menawarkan lingkungan yang bersih dan tertata sehingga pengunjung dapat menikmati suasana dengan nyaman sambil mempelajari sejarah Kerajaan Majapahit.
Berawal dari Penemuan Tak Terduga
Nama Candi Tikus ternyata memiliki kisah yang cukup menarik. Situs ini pertama kali ditemukan pada tahun 1914 oleh warga setempat yang saat itu sedang membersihkan area tersebut. Ketika proses penggalian dilakukan, lokasi tersebut dipenuhi sarang tikus sehingga masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Candi Tikus. Nama tersebut akhirnya tetap digunakan hingga sekarang.
Setelah ditemukan, pemerintah kolonial Hindia Belanda melakukan penelitian dan proses pemugaran secara bertahap. Pemugaran kembali dilanjutkan setelah Indonesia merdeka hingga bentuk bangunan yang terlihat saat ini berhasil direkonstruksi mendekati kondisi aslinya.

Para arkeolog memperkirakan Candi Tikus dibangun sekitar abad ke-13 hingga ke-14 pada masa Kerajaan Majapahit. Berdasarkan bentuk bangunannya, situs ini diyakini bukan berfungsi sebagai tempat ibadah utama, melainkan sebagai petirtaan atau tempat penampungan air yang digunakan dalam kegiatan keagamaan maupun penyucian diri.
Memiliki Arsitektur yang Unik
Salah satu daya tarik utama Candi Tikus adalah bentuk arsitekturnya yang berbeda dari candi-candi lain di Jawa Timur. Bangunan utama berada di dasar sebuah kolam berbentuk persegi panjang yang dikelilingi dinding bata merah. Untuk mencapai bagian tengah candi, pengunjung harus menuruni beberapa anak tangga yang mengarah ke area petirtaan.
Di bagian tengah terdapat bangunan utama dengan bentuk menyerupai menara kecil yang dihiasi ornamen khas arsitektur Majapahit. Di sekelilingnya terdapat beberapa bangunan kecil yang menyerupai miniatur candi.
Keberadaan saluran air di sekitar bangunan memperkuat dugaan bahwa kawasan ini dahulu digunakan sebagai tempat penampungan mata air atau lokasi ritual penyucian. Sistem pengairan yang dibuat pada masa itu menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit telah memiliki kemampuan teknik bangunan dan pengelolaan air yang sangat baik.
Destinasi Favorit Wisata Edukasi
Tidak sedikit rombongan pelajar maupun mahasiswa yang datang ke Candi Tikus untuk mempelajari sejarah Kerajaan Majapahit secara langsung. Melihat bangunan peninggalan berusia ratusan tahun tentu memberikan pengalaman berbeda dibandingkan hanya membaca materi dari buku pelajaran.
Selain wisata edukasi, kawasan candi juga sering menjadi tujuan wisata keluarga maupun wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah Nusantara. Area kompleks yang cukup luas membuat pengunjung dapat berjalan santai sambil menikmati detail bangunan yang masih terawat.
Banyak pula wisatawan yang mengabadikan momen di berbagai sudut kawasan candi karena tata letaknya yang unik dan memiliki nilai estetika tersendiri. Meski begitu, pengunjung tetap diimbau menjaga kebersihan dan tidak menaiki bagian bangunan yang termasuk dalam kawasan cagar budaya.
Suasana Tenang di Tengah Hamparan Persawahan
Salah satu hal yang membuat Candi Tikus terasa berbeda adalah suasana di sekitarnya. Lokasinya berada di tengah kawasan persawahan sehingga menghadirkan pemandangan hijau yang menenangkan. Udara yang cukup sejuk berpadu dengan lingkungan yang bersih membuat wisatawan betah menghabiskan waktu lebih lama di kawasan ini.
Berbeda dengan destinasi wisata yang dipenuhi wahana permainan, daya tarik utama Candi Tikus justru terletak pada ketenangan dan nilai sejarah yang dimilikinya. Pengunjung dapat menikmati suasana sambil mengamati detail susunan bata merah yang masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Lokasi: Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Menjadi Bagian Penting Kawasan Trowulan
Keberadaan Candi Tikus melengkapi berbagai peninggalan sejarah yang tersebar di kawasan Trowulan. Tidak jauh dari lokasi ini, wisatawan juga dapat mengunjungi Museum Trowulan, Candi Bajang Ratu, Candi Brahu, Kolam Segaran, hingga Gapura Wringin Lawang yang sama-sama menjadi saksi kejayaan Kerajaan Majapahit.
Karena jaraknya yang saling berdekatan, banyak wisatawan memilih mengunjungi beberapa situs sejarah tersebut dalam satu perjalanan. Cara ini menjadi pilihan menarik untuk mengenal lebih dalam perkembangan peradaban Majapahit yang pernah menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara.
Wisata Sejarah yang Tetap Menarik Hingga Kini
Mengunjungi Candi Tikus bukan sekadar melihat bangunan kuno, tetapi juga menyelami kisah panjang tentang kejayaan Majapahit yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Nusantara. Setiap sudut bangunan menyimpan cerita mengenai kecanggihan arsitektur, sistem pengelolaan air, hingga kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata dengan nuansa edukatif, Candi Tikus menjadi destinasi yang layak masuk dalam daftar kunjungan saat berada di Mojokerto. Perpaduan antara nilai sejarah, arsitektur yang unik, serta suasana yang tenang menjadikan situs ini tetap menarik untuk dikunjungi oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga wisatawan umum yang ingin mengenal lebih dekat warisan budaya Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Annisa Syalsyavia/Magang
Editor: Mochamad Abdurrochim








