SURABAYA, Tugujatim.id – Surabaya tidak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga sebagai kota yang sudut-sudut kampungnya banyak menyimpan cerita unik bersejarah. Mau tahu mana saja kampung lawas Surabaya yang punya kisah unik di baliknya? Yuk simak, Tugu Jatim bakal kupas satu per satu.
Di balik gedung-gedung modern dan jalanan yang ramai, masih terdapat sejumlah kampung lawas yang mempertahankan jejak masa lalu mulai dari peninggalan era kolonial, kisah perjuangan kemerdekaan, hingga akulturasi budaya yang telah berlangsung ratusan tahun.
Baca Juga: Fakta Menarik Kampung Arab Ampel Surabaya yang Tak Banyak Diketahui Wisatawan
Semuanya masih bisa ditemukan di sudut-sudut kota ini. Jika ingin mengenal lebih dekat, berikut beberapa kampung lawas Surabaya yang menarik untuk dijelajahi: Kampung Lawas Maspati, Kampung Heritage Peneleh, Kampung Arab, Kampung Kebangsren, Kampung Pecinan, Kampunh Lawang Seketeng, dan Kampung Ketandan.
Liburan Asyik di Deretan Kampung Lawas Surabaya
Ada deretan kampus lawas di Surabaya yang bisa kamu kunjungi saat libur. Ini ulasan lengkapnya!
1. Kampung Lawas Maspati
Kampung Lawas Maspati menjadi salah satu kampung heritage paling terkenal di Surabaya. Lokasinya ada di kawasan Bubutan, kampung ini mempertahankan suasana tempo dulu dengan berbagai bangunan bersejarah yang masih dirawat dengan baik.
Kampung ini memiliki sejarah yang berkaitan dengan Keraton Surabaya pada abad ke-18 saat Surabaya masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Dulunya, kawasan ini menjadi tempat tinggal para pejabat keraton. Hingga memasuki masa kolonial, kampung ini berkembang menjadi permukiman bergaya kolonial dan turut berperan sebagai lokasi penting dalam perjuangan kemerdekaan.
Di kampung ini terdapat sejumlah bangunan bersejarah yang masih utuh seperti, rumah bekas kediaman Raden Sumomiharjo (keturunan Keraton Solo yang menjadi mantri kesehatan), Sekolah Ongko Loro yang merupakan bekas Sekolah Rakyat, dimana sesuai namanya “ongko loro” atau dalam bahasa Indonesia adalah (angka dua) sekolah ini hanya memberikan pendidikan hingga kelas dua yang sesuai dengan namanya.
Terdapat juga Omah Tua 1907 yang dulunya merupakan pabrik sepatu lokal yang lalu pada masa kependudukan Jepang tempat ini beralih fungsi menjadi sebuah markas pejuang kemerdekaan dan pemuda Surabaya sebelum peristiwa 10 November 1945. Di sini juga terdapat losmen bekas dapur perang yang mana dulunya bangunan ini adalah pabrik roti milik Haji Iskak yang digunakan sebagai dapur umum untuk mendukung para pejuang saat Revolusi Kemerdekaan.
Kini, bangunan tersebut berfungsi sebagai losmen bagi wisatawan di Kampung Lawas Maspati, namun tetap menyimpan nilai sejarah sebagai saksi perjuangan. Tak lupa juga kampung lawas ini terdapat sebuah makam Mbah Buyut Suruh dan Raden Mas Karyo Sentono yaitu tokoh penting dalam sejarah kampung tersebut.
2. Kampung Heritage Peneleh

Kampung Peneleh merupakan kawasan bersejarah yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan bangsa Indonesia. Kawasan ini dikenal sebagai bagian dari wisata heritage Surabaya karena menyimpan banyak bangunan tua dan situs perjuangan.
Sejarah Kampung Peneleh bermula sejak masa Kerajaan Majapahit, ketika kawasan ini menjadi jalur perdagangan penting di tepi sungai. Pada era kolonial Belanda, Peneleh berkembang menjadi sebuah kawasan permukiman.
Di sekitar Peneleh terdapat banyak bangunan bekas peninggalan sejarah sekaligus cerita-cerita masa lalunya. Bangunan tersebut di antaranya ada rumah tokoh nasional yaitu HOS Tjokroaminoto yang dibangun pada 1882 sekaligus menjadi rumah wafat di tahun 1921. Di rumah ini juga pernah kedatangan tokoh-tokoh penting seperti Soekarno, Kartosoewirjo, Musso hingga Tan Malaka untuk berguru dan rumah tersebut menjadi indekos bagi mereka.
Terdapat juga sebuah masjid bernama Masjid Jami yang didirikan pada 1421 oleh Raden Rahmat atau yang kita kenal sebagai Sunan Ampel. Masjid inilah yang menjadi saksi penyebaran agama Islam di Surabaya.
Selain dua bangunan di atas, terdapat bangunan lainnya di kampung ini yang punya cerita sejarah yaitu rumah lahir Bung Karno sekaligus tempat tinggal kedua orang tuanya. Tak hanya berupa bangunan rumah dan masjid, di kampung ini juga terdapat sebuah sumur tertua di Surabaya yaitu Sumur Jobong, Jembatan Peneleh, hingga Makam Peneleh.
Hingga pada saat ini, kawasan kampung ini menjadi bagian penting dalam program wisata sejarah kota.
3. Kampung Arab

Kampung Arab Ampel menjadi bukti kuat akulturasi budaya Arab dengan masyarakat Surabaya. Di Surabaya, kampung ini terletak di kawasan Makam Sunan Ampel.
Sejak kedatangan masyarakat Timur Tengah pada 1451 untuk berdagang sekaligus mengunjungi kawasan yang dikenal sebagai tempat tinggal seorang wali, kampung Arab Ampel mulai berkembang. Kedatangan ini mulai berkembang hingga terdapat gelombang-gelombang selanjutnya dari warga Hadramk dari Hadramaut dan Yaman Selatan yang membuat jumlah pendatang semakin bertambah di awal 1900-an. Kedatangan mereka terjadi salah satunya juga akibat adanya konflik politik di tempat asal mereka.
Hingga seiring berjalannya waktu, kedatangan mereka bukan hanya sekadar untuk berdagang, melainkan juga mulai menetap dan memiliki rumah di kawasan ini dan kemudian hal inilah yang membuat Ampel dikenal juga dengan Kampung Arab.
Hingga saat ini, kawasan Kampung Arab ini masih banyak dihuni oleh orang-orang keturunan Arab. Jika kamu mengunjungi daerah ini, kamu dapat menemukan deretan toko parfum, busana muslim, kuliner khas Timur Tengah, hingga bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Kampung Arab juga menjadi salah satu destinasi wisata religi paling populer di Surabaya, salah satunya karena terdapat makam Sunan Ampel yaitu salah satu wali dari kesembilan wali songo lainnya.
4. Kampung Kebangsren

Kampung Kebangsren mungkin belum sepopuler kampung heritage lainnya. Kampung satu ini memiliki lokasi yang strategis berada di pusat kota dan diapit oleh jalan-jalan besar yang berpengaruh di Surabaya.
Namun kampung ini menyimpan cerita menarik tentang kehidupan masyarakat Surabaya tempo dulu. Dulunya, kampung ini merupakan area pemakaman Tionghoa yang menurut masyarakat sekitar, nama kebangsren berasal dari kata Gerbang Sarean yang artinya adalah pintu menuju pemakaman.
Hal ini dibuktikan juga dengan adanya bongpay yaitu sebuah batu yang diyakini masyarakat sekitar adalah batu nisan yang digunakan pada pemakaman Tionghoa kemudian juga terdapat banyak peninggalan patung Ciok Say.
Kemudian pada 1950-an, area pemakaman ini mulai ditinggalkan yang kemudian mulai dibangun pemukiman warga. Makam-makam yang dulunya ada di tanah kampung ini, di masa itu dipindahkan ke tempat lain seperti kembang kuning dan hingga saat ini, kampung ini aktif menjadi pemukiman penduduk yang padat.
5. Kampung Pecinan

Kampung Pecinan Kapasan Dalam adalah satu dari kawasan tertua di Surabaya lainnya. Kampung Pecinan ini dulunya merupakan pusat permukiman masyarakat Tionghoa yang telah berkembang sejak masa kolonial Belanda.
Kampung Pecinan Kapasan juga dikenal sebagai permukiman pertama etnis Tionghoa di Surabaya. Kampung Pecinan Kapasan juga menyimpan jejak perjuangan kemerdekaan.
Etnis Tionghoa setempat turut berperan mempertahankan Indonesia pada peristiwa Pertempuran 10 November 1945, menjadikan kampung ini bagian penting dari sejarah Kota Surabaya. Warga Tionghoa di kawasan ini yang terkenal berani melawan penjajah Belanda juga mendapat julukan yaitu Buaya Kapasan.
Salah satu daya tarik kampung ini adalah bangunan gudang kayu kuno berusia lebih dari 200 tahun yang dahulu digunakan sebagai bunker penyimpanan senjata pada masa kolonial. Kini, bangunan tersebut difungsikan sebagai balai pengobatan dan masih berdiri kokoh dengan struktur kayu aslinya.
Di kampung ini juga terdapat Klenteng Boen Bio, satu-satunya tempat ibadah Konghucu di Surabaya yang berstatus cagar budaya. Klenteng ini memiliki arsitektur unik yang memadukan unsur Tiongkok, Belanda, dan Jawa.
Saat ini Kampung Pecinan berubah menjadi kampung Wisata Kapasan Dalam yang diresmikan pada tanggal 10 November 2020 lalu. Kampung Pecinan Kapasan Dalam ini menyuguhkan wisata yang berciri khas budaya Tionghoa juga terdapat dekorasi berbagai ornamen khas Tionghoa serta mural yang mengusung tema kehidupan warga Tionghoa tempo dulu.
Baca Juga: Kampung Warna-Warni Malang: Spot Foto 1001 Warna + Jam Sepi Pengunjung
6. Kampung Lawang Seketeng

Kampung Lawang Seketeng dipercaya telah ada sejak masa Kerajaan Majapahit. Meski demikian, warga menetapkan tanggal 10 November 1945 sebagai hari jadi kampung karena perannya yang penting dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Nama Lawang Seketeng sendiri berasal dari cerita turun-temurun warga setempat. Dahulu, kawasan ini diyakini merupakan area pemakaman kerajaan di sekitar Alun-Alun Contong yang memiliki banyak pintu gerbang. Dalam bahasa Jawa, pintu gerbang disebut lawang seketeng, yang kemudian menjadi nama kampung hingga saat ini.
Kampung Lawang Seketeng menyimpan banyak jejak sejarah, mulai dari masa Majapahit hingga era kolonial Belanda. Salah satu buktinya adalah keberadaan pipa saluran air dari tanah liat bakar (greisbuis) yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda sebagai bagian dari program perbaikan kampung di Surabaya.
Di kampung ini juga terdapat Langgar Dukur Kayu, bangunan bersejarah yang telah berdiri sejak 1893. Langgar berlantai dua dengan arsitektur sederhana ini menyimpan berbagai benda kuno, seperti Al-Qur’an dan jadwal salat lama. Konon, tempat ini pernah digunakan Ir. Soekarno dan Bung Tomo untuk mengaji saat masih kecil.
Selain itu, ketika kamu mengunjungi kampung ini, kamu juga dapat menemukan bangunan bersejarah lain seperti Rumah Kayu dan Makam Mbah Pitono. Keberadaan situs-situs tersebut menjadikan Kampung Lawang Seketeng saag ini sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga bernilai edukasi sejarah.
7. Kampung Ketandan

Dari sejarah yang diketahui penduduk yang tinggal di sana, Nama Ketandan diambil dari kata “Tondo”. Tondo berarti Tanda adalah sebutan untuk petugas penarik pajak Tionghoa pada masa kolonial.
Kampung Ketandan termasuk kawasan lawas yang dikelola oleh komunitas Tionghoa yang ditugaskan oleh keraton untuk memungut pajak.
Menurut cerita para sesepuh, Kampung Ketandan dulunya merupakan kawasan pemakaman. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah nisan dan punden oleh warga, dengan tulisan berbahasa Indonesia maupun Tionghoa.
Seiring perkembangan kawasan, kompleks permakaman tersebut beralih fungsi menjadi permukiman pada awal tahun 1900-an. Makam-makam yang ada kemudian dipindahkan ke kawasan pemakaman Kembang Kuning, sehingga wilayah ini berkembang menjadi kampung yang dihuni masyarakat hingga sekarang.
Itulah ketujuh daftar kampung lawas Surabaya yang punya cerita masing-masing pada masa lalu. Keberadaan kampung lawas di Surabaya tersebut membuktikan bahwa Kota Pahlawan tidak hanya kaya akan gedung modern, tetapi juga memiliki warisan sejarah yang hidup di tengah masyarakat. Bagi kamu pencinta sejarah dan budaya, kampung-kampung lawas ini layak masuk dalam daftar destinasi yang wajib kamu kunjungi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Devi Ismayanti/Magang
Editor: Dwi Lindawati







