SURABAYA, Tugujatim.id – Ketua PWNU Jawa Timur, K.H. Abdul Hakim Mahfudz, menegaskan, semangat utama menjelang Muktamar Ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026 adalah membangun persatuan melalui musyawarah mufakat, bukan mempertajam kontestasi.
Menurutnya, hasil pembahasan dalam Konferwil sebelumnya telah mengarah pada sinyal dukungan terhadap mekanisme mufakat sebagai jalan terbaik untuk menjaga soliditas organisasi.
“Yang kemarin di Konferwil baru sinyal mendukung mufakat. Karena yang paling memungkinkan adalah konsolidasi. Jadi tidak ada yang menurut saya bahwa kontestasi itu yang lebih bisa kita hilangkan. Karena penyatuan itu yang sangat kita butuhkan. Kalau sikap kita malah memicu kubu-kubu baru lagi, nanti justru susah untuk menyatukannya,” ujar Abdul Hakim Mahfudz, Minggu (05/07/2026).
Saat ditanya apakah sikap tersebut berarti PWNU Jawa Timur menginginkan pemilihan secara aklamasi, pria yang akrab disapa Gus Kikin menegaskan bahwa yang diutamakan bukanlah aklamasi, melainkan semangat persatuan.
“Bukan aklamasi, tetapi semangat untuk menyatukan itu. Bukan semangat untuk bagaimana merebut posisi-posisi. Itu penting. Selama dengan PBNU memang benar-benar ada komunikasi yang nyata,” katanya.
Gus Kikin juga menegaskan bahwa sikap pribadinya tetap mengedepankan mufakat sebagai cara terbaik untuk menyatukan seluruh elemen Nahdlatul Ulama.
“Kalau sikap saya, bagaimana mufakat itu menyatukan. Termasuk salah satunya, saya juga ingin menyatukan,” ujarnya.
Khittah NU Jadi Pedoman Persatuan
Gus Kikin menjelaskan, NU sebenarnya telah memiliki pedoman organisasi yang menjadi dasar dalam menjaga persatuan, yakni khittah NU. Menurutnya, nilai-nilai tersebut perlu kembali dipahami oleh seluruh warga Nahdliyin.
“Sebetulnya ada roadmap, ada garis-garis besar di NU. Itu yang disebut dengan khittah asasnya. Dan itu yang ingin saya siapkan untuk bisa dibaca, bisa dipahami oleh semua warga Nahdliyin, terutama PWNU tentunya. Bahwa hal itu dulu di awal-awal NU didirikan digunakan, dan mampu menyatukan orang-orang serta mampu menyatukan semua organisasi penduduk Indonesia. Itu penting,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sudah saatnya NU kembali mengedepankan persatuan dan menghindari perpecahan akibat persaingan internal.
“Kita juga sudah waktunya untuk menyatukan. Jangan karena semangat-semangat kontestasi itu mendatangkan banyak perpecahan,” ujarnya.
Siap Terima Amanah dan Tolak Politik Uang
Menanggapi kemungkinan apabila mendapat amanah langsung dari Ketua PBNU untuk memimpin, Abdul Hakim menyatakan kesiapannya. “Kalau saya, yang namanya amanah, ya siap,” katanya.
Ia juga menyinggung pentingnya menghindari praktik-praktik yang mengarah pada politik uang atau pemberian imbalan (bisyaroh) dalam proses organisasi. “Nah, itu termasuk salah satu. Baik dari sisi agama, maupun dari sisi etika masyarakat,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : M.Khaesar
Editor: Mochamad Abdurrochim








