BATU, Tugujatim.id – Praktik parkir jukir nakal kembali bermasalah hingga dinilai mencoreng citra pariwisata Kota Batu. Setelah kasus tarif parkir yang diduga tidak sesuai ketentuan atau getok parkir, kini muncul dugaan penggunaan karcis parkir bekas oleh oknum juru parkir di kawasan Alun-Alun Kota Batu.
Fenomena tersebut dinilai menunjukkan bahwa persoalan parkir di Kota Batu belum terselesaikan secara menyeluruh. Meski kesadaran pengunjung untuk meminta karcis parkir mulai meningkat, masih ditemukan celah yang dimanfaatkan oknum juru parkir dengan memberikan karcis yang telah digunakan sebelumnya.
Tourismologist Universitas Brawijaya (UB) A. Faidlal Rahman menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah karena berpotensi merusak kepercayaan wisatawan.
Baca Juga: Oknum Jukir Liar Patok Tarif Parkir Mahal, Wisatawan Alun-Alun Kota Batu Curhat di Medsos
“Artinya, persoalan parkir di Kota Batu ini sudah bukan lagi sekadar tindakan oknum. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah,” ujarnya, Selasa (14/07/2026).
Menurut Faidlal, layanan parkir merupakan bagian dari basic tourism services atau pelayanan dasar dalam industri pariwisata. Pengalaman wisatawan sudah dimulai sejak pertama kali tiba di suatu daerah, bukan saat memasuki objek wisata.
“Ketika wisatawan memperoleh pengalaman yang kurang baik, seperti tarif parkir yang tidak jelas, maka kesan negatif tersebut akan terbawa hingga akhir perjalanan,” katanya.
Dia menambahkan, persoalan yang tampak sederhana seperti parkir justru sering meninggalkan kesan lebih kuat dibanding atraksi wisata yang dinikmati wisatawan.
“Bahkan pengalaman kecil seperti persoalan parkir sering kali lebih mudah diingat dibandingkan atraksi wisata yang dinikmati,” ujarnya.
Bisa Menyebar lewat Media Sosial
Faidlal mengingatkan, di era media sosial pengalaman buruk wisatawan dapat dengan cepat menyebar dan membentuk persepsi negatif terhadap suatu daerah. Menurut dia, jika kasus serupa terus berulang, masyarakat tidak lagi melihatnya sebagai ulah oknum, melainkan sebagai cerminan lemahnya tata kelola destinasi wisata.
“Lama-kelamaan wisatawan tidak lagi menganggap ini sebagai kesalahan individu juru parkir, tetapi mengaitkannya dengan kualitas pelayanan dan pengawasan destinasi wisata secara keseluruhan,” jelasnya.
Dia juga menyoroti dampak electronic word of mouth (e-WOM), yakni penyebaran pengalaman wisata melalui media sosial yang dapat memengaruhi keputusan calon wisatawan untuk datang atau justru menghindari suatu destinasi.
Baca Juga: 112 Jukir Liar di Surabaya Terjaring Razia, Menuju Sistem Parkir Transparan dan Cashless 2026
“Persoalan getok parkir bukan sekadar soal nominal uang, tetapi menyangkut kepercayaan terhadap destinasi wisata. Kota Batu telah membangun reputasinya selama bertahun-tahun, sehingga kepercayaan itu harus dijaga,” tegasnya.
Karena itu, Faidlal mendorong Pemerintah Kota Batu melakukan pengawasan secara konsisten terhadap juru parkir, memastikan kepastian tarif, serta menindak tegas setiap pelanggaran, bukan hanya ketika sebuah kasus menjadi viral.
“Persoalan yang mengurangi rasa aman, nyaman, dan kepastian pelayanan wisatawan harus segera ditangani secara serius. Pariwisata pada dasarnya adalah bisnis kepercayaan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M Ulul Azmy
Editor: Dwi Lindawati








