SIDOARJO, Tugujatim.id – Produk rajut milik Ernawati, pelaku UMKM asal Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, berhasil lolos kurasi Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkopum) Kabupaten Sidoarjo dan masuk display di salah satu gerai ritel fashion asal Jepang di kawasan Waru.
Produk tersebut dipajang di area display dan dilengkapi kode QR yang terhubung langsung ke nomor WhatsApp pemilik usaha, Ernawati. Dengan memindai kode tersebut, pengunjung dapat melihat katalog sekaligus melakukan pemesanan secara langsung.
Lolos Kurasi, Produk Dipasarkan Lewat Gerai Ritel
Kerja sama yang telah terjalin sejak awal 2022 itu menjadi salah satu pencapaian terbesar bagi usaha rajut yang telah ditekuninya sejak 2016.
Kesempatan tersebut bermula ketika Ernawati melihat informasi kurasi yang diunggah Dinas Koperasi Kabupaten Sidoarjo melalui Instagram dan dibagikan temannya di grup WhatsApp.
Tanpa ragu, ia mendaftarkan usahanya. Beberapa minggu kemudian, Erna Rajut dinyatakan lolos kurasi.
“Awalnya saya melihat informasi dari Instagram Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkopum) Kabupaten Sidoarjo yang dibagikan teman di grup WhatsApp. Saya daftar, lalu beberapa minggu kemudian diberi kabar kalau produk saya lolos kurasi,” kata Ernawati kepada awak media Tugujatim, Senin (20/07/2026).
Baca Juga : Pemkab Sidoarjo Gelar Nobar Final Piala Dunia 2026, Siapkan Doorprize 4 Paket Umrah
Produk Erna Rajut yang dipajang di gerai ritel fashion tersebut dilengkapi kode QR yang mengarahkan calon pembeli ke nomor WhatsApp miliknya. Melalui layanan tersebut, pembeli dapat memilih barang yang diinginkan, melakukan transaksi, kemudian pesanan dikirim langsung ke alamat tujuan.
“Jadi pengunjung gerai ritel tersebut kalau tertarik tinggal scan barcode, nanti langsung masuk ke WhatsApp saya. Di situ pembeli bisa memilih produk yang diinginkan. Kalau sudah deal dan pembayaran selesai, barang langsung saya kirim ke alamat pembeli. Kerja sama ini sudah berjalan sejak awal 2022 dan MoU-nya diperpanjang setiap dua tahun,” kata Ernawati.
Di balik pencapaian itu, perjalanan Ernawati membangun usahanya tidak ditempuh secara instan. Di rumah sederhananya di Desa Candipari, ia mulai menekuni usaha rajut pada 2016. Seluruh proses dikerjakan sendiri, mulai dari membuat kerajinan, mencari pelanggan, memasarkan, hingga mengemas pesanan.
Untuk memperkenalkan hasil karyanya, Ernawati menawarkan rajutannya kepada tetangga, kerabat, dan teman dekat melalui grup WhatsApp RT/RW.
Dia juga aktif mengikuti seminar dan pelatihan UMKM yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Dinas Koperasi Kabupaten Sidoarjo.
“Awalnya saya menawarkan produk ke teman dekat dan reseller. Saya juga sering mengikuti seminar serta pelatihan UMKM yang diselenggarakan Disperindag dan Dinas Koperasi Kabupaten Sidoarjo,” kata Ernawati.

Pemasaran Digital Buka Jalan ke Pasar Internasional
Berbekal ilmu dari berbagai pelatihan yang diikutinya, Ernawati kemudian konsisten memanfaatkan Facebook Marketplace untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Seiring berkembangnya usaha, pemasaran juga diperluas melalui platform digital seperti Shopee dan TikTok Shop. Kegigihannya membuahkan hasil ketika pada 2019 Ernawati memperoleh pesanan besar pertama dari luar daerah, yakni Tangerang.
“Iya, dari awal komunikasi lewat WhatsApp pembelinya bilang kalau produk yang dibeli itu mau dijual lagi di Tangerang, di pusat oleh-oleh. Dari situ saya senang karena produk rajut saya mulai dikenal di luar daerah,” kata Ernawati.
Pesanan tersebut menjadi titik balik perkembangan usahanya. Dari yang semula bekerja sendiri, Ernawati mulai mengajak tetangga sekaligus sahabat dekatnya membantu mengerjakan pesanan. Kini, Erna Rajut mempekerjakan tiga karyawan tetap dan menambah dua tenaga freelance saat permintaan meningkat.
Seiring berkembangnya usaha tersebut, Ernawati menggandeng sejumlah reseller untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Selain memiliki pelanggan tetap di Sedati, Gedangan, dan Kabupaten Pasuruan, khususnya wilayah Gempol,
Dia juga bekerja sama dengan reseller di Bali yang menjual kembali produk Erna Rajut hingga ke Belanda dan Rusia.
Sementara itu, reseller di Surabaya dan Jombang juga secara rutin memesan produknya untuk dipasarkan kembali.
“Yang di Bali itu punya reseller besar selain pusat oleh-oleh. Jadi produk saya mereka beli untuk dijual kembali ke Belanda dan Rusia. Kalau yang di Surabaya dan Jombang juga langganan, mereka beli untuk dijual lagi,” kata Ernawati.
Omzet Meningkat, Siap Penuhi Pesanan Malaysia
Beragam produk dihasilkan Erna Rajut, mulai dari gantungan kunci, tas, dompet, boneka, sarung bantal, sarung tisu, hingga hiasan dekoratif berbahan rajut. Seluruhnya dibuat secara manual dengan mengandalkan keterampilan tangan.
Harga aksesori rajut dibanderol mulai Rp10.000 hingga Rp35.000, sedangkan tas dan sepatu rajut dijual mulai Rp100.000. Untuk desain khusus, harga disesuaikan dengan tingkat kerumitan pengerjaan.
“Kalau desainnya sesuai permintaan pelanggan tentu berbeda harganya. Yang dinilai bukan besar kecil produknya, tetapi tingkat kerumitan saat mengerjakan dan nilai seninya,” jelas Ernawati.
Dari usaha tersebut, Ernawati memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp2 juta hingga Rp5 juta per bulan, bergantung pada jumlah pesanan.
Penghasilan itu tidak hanya membantu perekonomian keluarganya, tetapi juga mengantarkannya menunaikan ibadah umrah. Sementara sang suami yang sebelumnya terkena PHK kini bekerja sebagai tukang cukur.
Dalam waktu dekat, Ernawati tengah mempersiapkan pesanan dari salah satu industri garmen di Malaysia. Usaha Erna Rajut juga telah memiliki legalitas berupa Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat pendaftaran merek.
Menurut Ernawati, tantangan terbesar yang kini dihadapi pelaku UMKM bukan hanya persoalan modal usaha, tetapi juga perluasan akses promosi dan pemasaran yang konsisten serta berkelanjutan.
“Selain bantuan modal, yang paling dibutuhkan UMKM seperti kami adalah dukungan pemasaran yang konsisten dan berkelanjutan agar produk semakin dikenal, pasarnya semakin luas, dan penjualan terus meningkat,” kata Ernawati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Fauzan
Editor: Mochamad Abdurrochim








