SURABAYA, Tugujatim.id – Lokalisasi Dolly Surabaya meski dinyatakan ditutup pada 2014 lalu tetapi nyatanya aktivitas “jual lendir” masih ada di tempat ini secara sembunyi-sembunyi. Para guide nongkrong pinggir jalan sementara PSK menunggu di kamar kos. Atas hal tersebut penulis buku Surabaya Butuh Lokalisasi, Noor Arief Prasetyo, memberikan tanggapannya.
Menurutnya, sedari awal penutupan lokalisasi Dolly itu adalah narasi yang tidak tepat karena memang tidak pernah dilegalkan. Surabaya tidak pernah melegalkan lokalisasi.
“Kalau pakai kata menutup itu berarti dulu pernah ada izin kemudian ditutup. Di Surabaya ini tidak ada lokalisasi yang legal, tidak pernah ada Perda yang memperbolehkan adanya Lokalisasi,” Katanya saat di wawancarai di sebuah angkringan di Surabaya, Selasa (19/7/2022) lalu.
Karena itulah, wajar bila beberapa lokalisasi yang ada di Surabaya masih beraktivitas. Misalnya, lokalisasi Kremil, Moroseneng, Dolly, Jarak dan Kembang Kuning. Walaupun Kembang Kuning juga sudah dinyatakan ditutup.
Menurut Noor Arief, Pemkot Surabaya tidak pantas menutup lokalisasi karena tidak pernah mengizinkan yang tepat adalah Pemkot obrak lokalisasi sebab adanya lokalisasi ini efek dari pembiaran yang dilakukan Pemerintah
Dia juga mengatakan bahwa Dolly sebagaimana ditulis dalam bukunya tidak ditempatkan sebagai lokalisasi, tapi dolly sebagai pangkalan kejahatan.
“Di situ berkumpul para penjahat. Fungsi lokalisasi di dunia kejahatan bukan untuk prostitusi melainkan sebagai tempat perayaan keberhasilan melakukan kejahatan dengan pesta miras dan main perempuan. Kemudian merencanakan kejahatan juga dengan miras,” kata dia.
“Aku menganggap bahwa lokalisasi adalah ujung sekaligus pangkal kejahatan. Lokalisasi bisa berada di ujung ketika beberapa orang merencanakan aksi kejahatan dengan miras di lokalisasi. Maka pada fragmen ini lokalisasi berada di ujung kejahatan,” jelas pria yang sejak 23 tahun lalu bergelut di dunia berita kriminalitas Surabaya.
Dia melanjutkan bahwa lokalisasi sebagai pangkal kejahatan itu terjadi ketika sebuah kelompok berhasil melakukan aksi kejahatan. Seperti, merampok bank, membobol rumah, jambret hingga curanmor. Hasil dari kejahatan yang mereka lakukan ini, uangnya digunakan untuk pesta sebagai perayaan.
“Bukuku menceritakan hal itu,” tambahnya.
Masalahnya, saat ini kehidupan lokalisasi Dolly masih ada, ruh prostitusi masih jalan meskipun dengan modus yang terselubung dan samar.
“Sebetulnya gak samar-samar juga sih. Buktinya kasus ini mencuat, mungkin sekarang banyak satpol PP yang bersiaga di gang lebar selama 24 jam, gang lebar itulah asal muasal Dolly, Kupang Gunung Timur gang 6,” ucapnya.
Ditanya perbedaan kondisi Dolly dahulu sebelum ditutup pada tahun 2014? Arief mengatakan perbedaan kondisi di sana sangat signifikan.
Menurutnya, kalau dulu tiap-tiap wisma ada akuarium untuk memajang para PSK yang akan di pesan para penikmatnya. Lalu tiap rumah jualan minuman keras.
Ditambah lagi banyak makelar yang menjadi guide untuk calon pelanggan. Di sana-sini terlihat perempuan berbaju seksi yang riwa riwi masuk wisma. Jalan di sana setiap Sabtu malam Minggu selalu macet, hingar bingar musik sangat kencang terdengar.
“Kini semua itu telah habis, yang tersisa hanya prostitusinya, makelar-makelar yang dulunya guide berada di pinggir jalan, PSK-PSKnya berada di kamar kos mereka masing-masing, itupun secara terselubung. Hanya itu saja bedanya,” tutupnya.
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim ,
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim








