AJI Kediri Lawan Kekerasan lewat Puisi untuk Dukung Jurnalis Tempo Nurhadi - Tugujatim.id

AJI Kediri Lawan Kekerasan lewat Puisi untuk Dukung Jurnalis Tempo Nurhadi

  • Bagikan
Ketua AJI Kediri Danu Sukendro saat Malam 1000 Puisi untuk Nurhadi. (Foto: Noe/Tugu Jatim)
Ketua AJI Kediri Danu Sukendro saat Malam 1000 Puisi untuk Nurhadi. (Foto: Noe/Tugu Jatim)

KEDIRI, Tugujatim.id – Puncak perayaan Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day (WPFD) 2021 di Kota Kediri digelar dengan tidak biasa. Bukan lagi turun ke jalan, kali ini orasi disampaikan lewat puisi, lalu dibacakan di warung panggung terbuka Budoyo Jawi, Kelurahan Banaran, Kota Kediri, Minggu (02/05/2021), pukul 20.00.

Uniknya, peringatan yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri ini tak hanya melibatkan jurnalis. Berbagai perwakilan komunitas, teater, lembaga pers kampus, aktivis pro demokrasi, dan aktivis literasi ikut menyemarakkan rangkaian acara puncak “Malam 1.000 Puisi untuk Nurhadi” ini.

Seniman dari Kediri bernama Mujiono ini begitu ekspresif saat membacakan puisi. (Foto: Noe/Tugu Jatim)
Seniman dari Kediri bernama Mujiono ini begitu ekspresif saat membacakan puisi. (Foto: Noe/Tugu Jatim)

Sekretaris AJI Kediri Rekian mengatakan, semua elemen yang punya kesamaan visi memperjuangkan nilai-nilai demokrasi boleh berpartisipasi.

“Kegiatan ini sebagai sikap bersama, menolak tindakan represif terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugas. Termasuk pembungkaman terhadap aktivis demokrasi,” katanya.

Kebebasan pers ini sejalan dengan kemerdekaan berpendapat yang dilindungi undang-undang. Karena itu, kasus kekerasan yang menimpa Nurhadi, jurnalis Tempo, di Surabaya dianggap sebagai ancaman serius tindakan brutal dengan tujuan membungkam hak publik mendapat informasi.

Apalagi Nurhadi dikeroyok saat meliput kasus korupsi. Berita yang ingin disajikan menyangkut uang rakyat.

Farid, pegiat pantomim, yang begitu total dalam memeriahkan acara malam puncak peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia. (Foto: Noe/Tugu Jatim)
Farid, pegiat pantomim, yang begitu total dalam memeriahkan acara malam puncak peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia. (Foto: Noe/Tugu Jatim)

“Kesadaran bersama ini, kami wujudkan dalam bentuk pembacaan puisi sebagai dukungan terhadap Nurhadi. Dan mendorong penuntasan kasusnya,” ujar Rekian.

Bukan saja puisi, seniman dan pegiat literasi yang ikut bersolidaritas tampil lewat pameran topeng, musik tradisional, akustik, dan lapak buku. Pameran topeng karakter dipajang di halaman warung Budoyo Jawi. Hasil karya seniman asli Kediri ini menarik perhatian pengunjung karena bentuknya yang khas dan seram. Jumlah topengnya ada 26.

“Pameran Topeng Karakter sebagai simbol saja. Ya, WPFD kali ini jadi momentum memerangi angkara murka yang berusaha memberangus kemerdekaan pers,” terang Rekian.

Kolaborasi yang sangat apik saat Fatikin- wartawan Tugu Jatim Rino membaca puisi. (Foto: Noe/Tugu Jatim)
Kolaborasi yang sangat apik saat Fatikin- wartawan Tugu Jatim Rino membaca puisi. (Foto: Noe/Tugu Jatim)

Adapun lapak buku, dibeber di teras warung. Buku-buku itu untuk meningkatkan gairah baca masyarakat di Kota Kediri. Sedangkan musik tradisional yang dinyanyikan jelang kegiatan menjadi hiburan bagi orang-orang hadir di kegiatan seribu puisi untuk Nurhadi.

Momentum WPFD ini diharapkan bisa menjadi pijakan bersama bahwa kebebasan pers bukan sekadar untuk kepentingan pers, tapi sudah menjadi urusan publik. Dengan kata lain, masyarakat berhak mendapatkan informasi.

“Karena itu, kalau kebebasan pers terancam, maka publik juga akan kehilangan haknya,” tutupnya.

  • Bagikan