BKSDA Jatim Lepaskan 7 Ekor Lutung Jawa ke Habitat Asal di Tahura R Soerjo

  • Bagikan
Proses pelepasliaran 7 ekor Lutung Jawa di kawasan Hutan Raya Tahura Raden Soerjo, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (26/11). Foto : BBKSDA Jatim
Proses pelepasliaran 7 ekor Lutung Jawa di kawasan Hutan Raya Tahura Raden Soerjo, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (26/11). (Foto: BBKSDA Jatim)

BATU – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur melepaskan total 7 ekor Lutung Jawa ke habitat asal mereka di kawasan Hutan Lereng Timur Gunung Biru, Hutan Raya Tahura Raden Soerjo, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (26/11).

Ketujuh satwa dengan nama latin Trachypithecus Auratus ini dilepasliarkan setelah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan dan masa rehabilitasi selama 1,5 tahun oleh Aspinall Foundation Javan Langur Center (JLC) Coban Talun, Kota Batu.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Baca Juga: Bahaya Kebiasaan Memukul Anak yang Seharusnya Tak Dilakukan

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi memastikan lutung terbebas dari penyakit berbahaya menular seperti TBC, hepatitis B, herpes simplex, SIV (Simian Immunodeficiency Virus), STLV (Simian T-lymphotropic virus) hingga SRV (Simian Retro Virus).

“Selama masa pelepasliaran ini, lutung-lutung juga sudah dipasangi microchip transponder dalam tubuhnya untuk dimonitor secara intensif oleh tim monitoring dari The Aspinall Foundation,” terang Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI BBKSDA Jatim, Mamat Ruhimat dihubungi, Jumat (27/11).

Proses pelepasliaran 7 ekor Lutung Jawa di kawasan Hutan Raya Tahura Raden Soerjo, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (26/11). Foto : BBKSDA Jatim
Proses pelepasliaran 7 ekor Lutung Jawa di kawasan Hutan Raya Tahura Raden Soerjo, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (26/11). (Foto: BBKSDA Jatim)

Berdasarkan hasil monitoring selama pelepasliaran diklaim menunjukkan hasil baik. Lutung-lutung tampak mampu beradaptasi dengan cepat kembali ke habitatnya. “Bahkan tercatat ada perkembangan populasi lutung Jawa di kawasan Hutan Coban Talun, Gunung Biru hingga Gunung Anjasmoro,” ujarnya.

Mamat memaparkan, selama periode 2010-2011 ditemukan populasi Lutung Jawa sebanyak 100 ekor. Pasca tahun itu, total dilakukan pelepasliaran Lutung Jawa sebanyak 7 kali. Hasilnya, hingga 2020 tercatat ada pertambahan mencapai 155 ekor.

Baca Juga: 14 Juta Ton Sampah Plastik Mengendap di Dasar Lautan, Studi Membuktikan

Ia menambahkan, kawasan hutan alam di sekitar Gunung Pusungrawung, Gunung Biru dan Gunung Anjasmoro merupakan habitat penting bagi satwa langka seperti Lutung Jawa. Disana, ada sumber makanan endemik yang menjadi sumber makanan utama lutung.

“Faktor hilangnya habitat inilah yang menjadi faktor penurunan populasi lutung. Sejak beberapa waktu lalu, diperkirakan lebih dari 30 persen (populasi Lutung Jawa menurun) selama 36 tahun,” terangnya.

“Kelangsungan hidup Lutung Jawa bergantung pada keutuhan hutan tropis baik di pegunungan hingga dataran rendah dan daerah pesisir,” tambahnya.

Sebagai informasi, status Lutung Jawa oleh IUCN Red List of Threatened Species Versi 2019.1 tahun 2019 digolongkan sebagai kategori Vulnerable (rentan punah).

Baca Juga: Pemanasan Global Lebih Berbahaya daripada Virus Corona

Status perlindungan tersebut didasarkan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. (azm/gg)

  • Bagikan