BPBD Bojonegoro Keluarkan Imbauan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi - Tugujatim.id

BPBD Bojonegoro Keluarkan Imbauan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi

  • Bagikan
Bencana hidrometeorologi. (Foto: Pexels/Tugu Jatim)
Ilustrasi bencana hidrometeorologi. (Foto: Pexels)

BOJONEGORO, Tugujatim.id – Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro mengeluarkan imbauan kesiapsiagaan menghadapi fenomena hidrometeorologi, mengingat saat ini sebagian wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Untuk diketahui, bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim dengan berbagai parameternya. Ketika musim hujan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, 98% potensi bencana hidrometeorologi terjadi di Indonesia dan akan terjadi sepanjang tahun. Di musim hujan pada Desember 2021 hingga Januari dan Februari 2022.

Ditambah dengan adanya fenomena La Nina, yang mengakibatkan intensitas curah hujan meningkat 20-70 persen dari normalnya sehingga diprediksi bisa membawa dampak fenomena hidrometeorologi.

Untuk itu, Kepala BPBD Bojonegoro Ardhian Orianto meminta masyarakat mengambil langkah antisipasi dan kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi. Di antaranya, menyimpan barang penting ke tempat aman dan membatasi aktivitas di luar rumah.

“Jika berada di luar rumah, hindari pohon besar, baliho, dan saluran air atau gorong-gorong,” ujar Ardhian.

Dia melanjutkan, tak lupa siapkan tas siaga, seperti makanan, minuman, obat, uang, pakaian, dokumen berharga, dan lain-lain. Ardhian juga mengingatkan untuk tetap melakukan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun).

Ardhian juga meminta petugas BPBD untuk memantau kondisi terkini lapangan dan menyebarkan informasi peringatan (curah hujan, tinggi muka air) dan potensi wilayah terdampaK, juga berkoordinasi dengan stakeholder dalam penyiapan tim siaga bencana dan sumber daya.

Selain itu, mengidentifikasi tempat pengungsian termasuk infrastruktur pengungsian sesuai protokol kesehatan (prokes).

“Mengidentifikasi kebutuhan logistik dan peralatan, memastikan alat peringatan dini berfungsi dengan baik, dan tentunya memastikan ketersediaan rambu dan jalur evakuasi,” pungkas Ardhian.

  • Bagikan