Catatan Mudik (10) - Selasih, Bunga Kesukaan Sunan Gunung Jati

Catatan Mudik (10) – Selasih, Bunga Kesukaan Sunan Gunung Jati

  • Bagikan
Warga berziarah ke situs makam Sunan Gunung Jati
Warga berziarah di situs makam Sunan Gunung Jati Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon pada Senin (2/5/2022). (Foto: Abdi Purnomo)

CIREBON – Saya melihat pemandangan menarik saat memasuki wilayah Cirebon selepas dari wilayah Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah, Senin (2/5/2022) pagi atau tepat 1 Syawal 1443 Hijriah alias lebaran hari pertama.

Di sebuah jembatan penghubung Brebes-Cirebon, tampak 6-7 orang menjual ikatan tanaman hijau yang sepintas mirip tanaman kemangi, yang bernama ilmiah Ocimum sanctum. Banyak orang membelinya.

Saya penasaran, namun tetap melanjutkan perjalanan tanpa sempat memotret pemandangan tersebut. Rasa penasaran saya terjawab tatkala memasuki wilayah Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon. Persisnya di Situs Makam Sunan Gunung Jati, satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Ribuan orang nyaris menutup jalan pantai utara (pantura) Jawa Tengah baik dari arah Brebes maupun Indramayu, setelah mereka turun dari sepeda motor dan keluar dari mobil.

Seratusan sepeda motor dipakir di area parkir dan di tepi jalan. Sedangkan puluhan mobil diparkir di tepi jalan.

Banyak penjual kembang di kiri-kanan jalan. Sangat jelas terlihat orang-orang membeli ikatan tanaman serupa yang saya lihat di perbatasan Brebes-Cirebon. Ada ikatan kecil, ada ikatan besar.

Salah satu penjual bunga di kawasan situs makam Sunan Gunung Jati. (Foto: Abdi Purnomo)

Dan, rasa penasaran saya dijawab Pak Tisno, 68 tahun. Ia menjual menjual aneka kembang yang biasa dipakai untuk ziarah kubur. Tisno juga menjual beragam bentuk tasbih, baju koko, kopiah, sarung, jiriken, madu, dan bermacam minuman kemasan botol.

“Tanaman ini namanya bunga selasih,” kata Tisno kepada saya.

Menurut Tisno, selasih atau Ocimum basilicum identik sebagai tanaman khas Cirebon. Ia menjualnya tiap hari, tapi selasih paling laris terjual di masa Lebaran, saat ribuan dan bahkan bisa ratusan ribu orang berziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan juga makam keluarga. Rupanya, di Cirebon, selasih juga biasa dibawa masyarakat nyekar di tempat pemakaman umum.

Selasih juga laris terjual di bulan Ramadan. Tapi, selain Lebaran, selasih justru paling laris manis terjual di hari Jumat kliwon. Banyak yang memanfaatkannya untuk kegiatan ritual.

“Kalau pas Jumat Kliwon, ramai banget yang beli, kayak orang mau berlebaran,” ujar Tisno, yang sudah berjualan kembang ziarah lebih dari 40 tahun.

Selasih ikatan kecil dijual Rp 2 ribu dan Rp 5 ribu selasih ikatan besar. Kembang campuran Rp 5 ribu per bungkus. Kembang campuran ini terdiri dari bunga kingkong, soka merah dan kuning, melati, dan irisan daun pandan.

Di masa lampau, kata Tisno, orang berziarah cukup bawa selasih. Kebiasaan ini diwarisi dari Sunan Gunung Jati alias Syekh Maulana Syarif Hidayatullah hingga sekarang.

Tiada makna khusus penggunaan selasih. Tidak apa-apa juga berziarah tanpa bawa selasih maupun kembang campuran. Namun, rasanya lebih afdal saja berziarah bawa selasih.

“Kan sebaiknya kita membawa keharuman alami saat berziarah, seperti halnya kita dianjurkan menjaga kebersihan dan mewangikan badan,” kata Tisno.

Sebenarnya, kompleks pemakaman itu terbagi dua lokasi, yaitu Astana Gunung Jati dan Astana Gunung Sembung.

Walau bernama Astana Gunung Jati, di lokasi justru tidak terdapat makam Sunan Gunung Jati, melainkan makam Syekh Dzatul Kahfi, penyebar agama Islam di Cirebon sebelum Sunan Gunung Jati. Nama lain Syekh Dzatul Kahfi ialah Syekh Nurjati, Syekh Datuk Kahfi, Syekh Idhofi Mahdi atau Syekh Nurul Jati.

Kompleks pemakaman di kawasan situs Sunan Gunung Jati Cirebon. (Foto: Abdi Purnomo)

Di Astana Gunung Jati terdapat pemakaman umum warga, di bawah makam Syekh Dzatul Kahfi. Makanya ribuan peziarah terlihat di sana.

Sedangkan makam Gunung Jati ada di bukit kecil bernama Astana Gunung Sembung. Kompleks ini juga terbuka untuk umum, tapi inilah makam khusus Sunan Gunung Jati, ulama maupun makam keluarga keraton Cirebon.

Makam Sunan Gunung Jati sendiri sejatinya tertutup tiap harinya. Bukan orang sembarangan yang boleh melihatnya.

Lokasi Astana Gunung Jati dan Astana Gunung Sembung terpisah jarak sekitar 400 meter, masih di satu desa yang sama.

Tradisi berziarah dengan membawa selasih dilakoni Amir Yadi, 40 tahun, warga setempat. Yadi datang bersama rombongan keluarga usai melaksanakan salat Idul Fitri.

Warga menabur bunga di salah satu makam di kompleks situs Sunan Gunung Jati. (Foto: Abdi Purnomo)

Yadi membeli 30 ikat selasih kecil, yang kemudian ditaruh di atas sejumlah batu nisan. Habis itu mereka mendaraskan doa.

“Rasanya lebih mantap pakai selasih daripada pakai kembang campuran. Selasih kan khas Cirebon, yang diwariskan Sunan Gunan Jati. Kalau kembang campuran kan umum di mana-mana,” kata Yadi.

Apa yang dilakukan Yadi juga dilakukan ribuan peziarah lainnya. Bukan cuma di Astana Gunung Jati, di depan pintu makam Sunan Gunung Jati pun banyak tumpukan selasih.

Berat tumpukan bunga selasih bisa mencapai puluhan dan bahkan ratusan kilogram jika dikumpulkan jadi satu.

Masuk akal sih. Bayangkan, seperti diutarakan Suwanto, tukang parkir di Astana Gunung Jati, di hari pertama Lebaran saja ditaksir ada 100 ribu peziarah.

Di hari kedua lebaran (2 Syawal) jumlah peziarah berkurang hingga separuhnya.

Seorang warga menabur bunga di komplesk situs makam Sunan Gunung Jati. (Foto: Abdi Purnomo)

“Saya jadi tukang parkir sudah 10 tahun. Jadi sudah biasa ngeliat ribuan peziarah bawa selasih. Dihitung saja sendiri kalau satu orang peziarah rata-rata bawa 5 ikatan kecil, kalikan saja dengan sekitar 100 ribu peziarah di hari pertama lebaran ini,” kata Suwanto.

Suwanto dan 7 orang kawannya senang-senang saja ribuan orang berziarah karena pendapatan mereka melonjak drastis selama Lebaran.

Kegembiraan juga dirasakan Tisno dan puluhan pedagang karena kembang dagangan mereka, khususnya selasih, laris manis.

Selasih dan kemangi memang sangat mirip, bagai saudara kembar identik. Keduanya tanaman aromatik kaya akan minyak esensial dan senyawa fenolik yang digunakan sebagai pelengkap masakan dan juga berkhasiat sebagai obat tradisional seperti untuk migrain, stres, demam, dan diare.

Jadi, bukan sekadar wangi, selasih pun punya fungsi sosial-keagamaan dan kesehatan. (ABDI PURMONO)

 

**

Catatan ini merupakan bagian dari catatan mudik Malang-Medan dengan sepeda motor. Terselenggara berkat kerjasama Tugu Media Group (www.tugumalang.id dan tugujatim.id) serta www.batikimono.com


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan