CEO Tugu Media Group: Jurnalisme sebagai Fakta di Tengah Banjir Informasi Hoax

CEO Tugu Media Group: Jurnalisme sebagai Fakta di Tengah Banjir Informasi Hoax

  • Bagikan
CEO Tugu Media Group Irham Thoriq mengisi materi mengenai "Pengenalan Jurnalistik, Teknik Dasar Wawancara, dan Menggali Data di Lapangan" pada Senin (22/02/2021). (Foto: Tugu Media Group/Tugu Jatim)
CEO Tugu Media Group Irham Thoriq mengisi materi mengenai "Pengenalan Jurnalistik, Teknik Dasar Wawancara, dan Menggali Data di Lapangan" pada Senin (22/02/2021). (Foto: Tugu Media Group/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Chief Executive Officer (CEO) Tugu Media Group Irham Thoriq menyampaikan bahwa jurnalisme itu berisi kumpulan fakta. Hal itu sangat penting apalagi di era digital ini banjir informasi yang menyerbu masyarakat.

Thoriq melanjutkan, tapi dalam informasi itu, masyarakat sering kali kesulitan menentukan mana berita yang salah (hoax) dan berita yang benar. Jadi, perlu hadirnya jurnalisme yang memuat fakta dalam masyarakat.

“Jurnalisme itu sama dengan fakta, bukan opini, yaitu mengumpulkan kepingan-kepingan fakta. Karena berpegang pada fakta di tengah banyaknya informasi hoax dan banjir informasi, membuat tatanan kita menjadi rumit dan berseliweran. Tidak tahu mana yang benar dan salah. Karena itu, jurnalisme penting hadir di tengah-tengah publik,” terang Irham Thoriq selaku CEO Tugu Media Group dalam agenda “Goes to Campus: Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi” pada Senin pagi (22/02/2021) melalui virtual.

Agenda “Goes to Campus: Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi” diadakan oleh Tugu Malang yang merupakan bagian dari Tugu Media Group. Juga bekerja sama dengan PT Paragon Technology and Innovation yang merupakan perusahaan market kosmetik terbesar di Indonesia. Peserta agenda ini meliputi 6 sekolah menengah atas (SMA) dan 6 perguruan tinggi di wilayah Jawa Timur (Jatim).

Selain itu, dia melanjutkan bahwa ada semacam narasi apabila wartawan salah itu masih dapat dimaklumi, tapi wartawan sangat dilarang berbohong atau menulis sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Thoriq memberi analogi, seperti orang memasak, perlu bahan atau data yang enak, cara memasak atau mengolah data yang mahir agar menghasilkan masakan atau berita yang berkualitas.

“Bahwa wartawan itu boleh salah, tapi tidak boleh berbohong. Salah sebut nama narasumber misalnya, itu bisa dimaklumi. Beda dengan politikus, tidak boleh salah tapi boleh berbohong. Nah, itu tentang jurnalisme, jadi sebenarnya seperti orang memasak gitu. Agar masakannya enak, tergantung dua hal. Yaitu, bahan harus enak, kualitas bagus, dan kokinya juga harus OK,” lanjutnya.

Dalam momen yang sama, Thoriq menyampaikan bahwa bagaimana cara mengumpulkan bahan di lapangan. Thoriq menyampaikan, meski punya bahan berkualitas tapi kokinya tidak berkualitas, maka akan menjadi sesuatu yang tidak berkualitas juga. Jadi, perlu mempelajari bagaimana mengumpulkan dan mengolah data dengan baik.

“Ada tiga cara untuk melakukannya. Yaitu, melakukan riset, observasi atau pengamatan, dan wawancara. Fungsi riset itu sebagai teori terhadap fakta, riset juga membahas dan melengkapi data atau fakta. Riset juga untuk memaparkan aturan kasus-kasus tertentu bagi wartawan untuk mengetahui apa yang menyalahi dari kasus-kasus tersebut,” tuturnya.

Selanjutnya, Thoriq menjelaskan wartawan sering menulis tergesa-gesa. Tapi, wartawan yang baik tidak sekadar cepat menulis, tapi punya dokumen dasar yang akan diberitakan. Harus tahu aturan agar tidak hanya memberitakan orang berbicara. Thoriq melanjutkan, bila wartawan tidak melakukan riset, hanya fokus pada keterangan narasumber, maka tidak fokus pada persoalan yang dibahas.

“Kerja jurnalistik adalah kerja intelektual karena harus mengumpulkan data. Maka jurnalis tidak hanya fisik saja yang kuat, tapi harus punya pemikiran yang kuat juga (sebagai alat untuk menganalisis, mengkritisi, dan mengolah data, red). Selain itu, juga suka membaca. Kira-kira seperti itu fungsi riset dalam jurnalistik,” ucapnya.

Selain riset, ada juga observasi. Thoriq menjelaskan, tatkala observasi wartawan menjadi kamera, bisa menggambarkan bagaimana suasana demonstrasi saat ada penolakan undang-undang di Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Dia melanjutkan, atau ada kejadian kebakaran hebat di Pasar Besar sehingga pembaca bisa merasakan hadir di situ walau tidak berada di TKP.

“Sedangkan untuk wawacara ini sangat penting. Tapi, yang harus diwawancara adalah orang kredibel dan informan atau narasumber harus A1 (orang penting, orang utama, orang yang mempunyai jabatan tertentu yang kompeten menjawab, red). Wartawan harus mempunyai kecerdasan siapa yang pas diwawancara untuk kasus tertentu,” tuturnya.

Thoriq juga menegaskan bahwa kendala wawancara, ada narasumber yang sulit ditemui. Ada juga wartawan yang sempat 3 hari menunggu narasumber untuk wawancara, itu merupakan tantangan tersendiri agar lebih sabar dan ikatan emosionalnya baik dengan narasumber. Kendala lainnya, wartawan kurang kritis alias pertanyaan stagnan.

“Fungsi riset, observasi, dan wawancara dapat menjawab pertanyaan pembaca. Salah satunya banyak kasus Covid-19 di Kota Malang, wartawan harus menjawab pertanyaan publik. Mengapa kasus Covid-19 meningkat? Karena kurang ketat PPKM atau kurang banyak yang di-swab test, dan lain-lainnya,” terang alumnus angkatan 2008, Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

“Pesan yang disampaikan Thoriq, wartawan perlu merasa informasi yang ditulis belum benar dan selalu rendah hati agar dapat ‘cover both side’. Harus ada konfirmasi dan ingin tahu fakta-fakta lain di balik peristiwa lain, itu yang diperlukan dalam ‘cover both side’,” ujarnya.

Sebagai informasi, dalam agenda “Goes to Campus: Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi” menghadirkan narasumber-narasumber yang kompeten, pengalaman di dunia media tidak diragukan lagi, dan terjun dalam dunia jurnalistik profesional yaitu Tugu Malang (Tugu Media Group). (Rangga Aji/ln)

 

 

  • Bagikan