Coban Kricik, Surga Tersembunyi di Kabupaten Malang

  • Bagikan
Coban Kricik di Jabung, Kabupaten Malang. (Foto: Rizal Adhi)

MALANG – Kabupaten Malang memang banyak memiliki lokasi wisata alam tersembunyi yang masih alami. Salah satunya adalah Coban Kricik di Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang ini.

Untuk menuju air terjun di tengah hutan yang masih perawan ini kira-kira membutuhkan sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Malang. Begitu sampai di Desa Ngadirejo, hamparan pohon pinus dengan udara sejuk tanpa polusi siap menyambut para pengunjung.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Sesampainya di depan pintu masuk Coban Kricik, Singo, Suko dan Jodo. Kita hanya akan ditarik biaya parkir senilai Rp 5.000,- per motor dan Rp 10.000,- per mobil, setelah itu kita bebas masuk dan memilih ingin menuju Coban (air terjun) yang mana.

Untuk menuju Coban Kricik, membutuhkan waktu satu jam berjalan kaki melewati hutan yang masih sangat alami dan tidak ada sampah sama sekali. Tebing yang curam dan ekstrim menambah kesan ektrim dan perlu konsentrasi dan kehati-hatian.

Kita juga diharuskan menyusuri arus sungai yang cukup deras dengan kontur bebatuan yang licin. Salah langkah sedikit saja, kita bisa jatuh bahkan mungkin terseret arus sungai.

Setelah berjuang selama satu jam melawan lelah dan sakit di kaki akibat menginjak bebatuan tajam. Semua kepenatan terasa hilang setelah sampai di spot Coban Kricik yang memukau.

Siapapun yang melihatnya Coban ini, pasti tidak akan tahan untuk segera membuka baju dan berenang di sana. Namun, dihimbau untuk tidak berenang di bawah air terjun karena airnya sangat dingin dan sangat dalam.

Disarankan untuk berenang di sungai atau di pinggiran air terjun yang dasarnya tidak dalam.

Tugumalang.id (grup Tugu Jatim) pun ikut melompat dan merasakan dinginnya air sungai Coban Kricik. Benar-benar semua rasa lelah dan rasa penat selama di kota hilang seketika diseret segar dan dinginnya air pegunungan.

Saturi selaku pengelola Wisata Coban Kricik, Singo, Suko dan Jodo mengatakan jika memang wilayah ini masih sangat alami.

“Di sini itu wisata alamnya sangat original, dan ada 4 air terjun yang tinggi. Ada Coban Kricik, Coban Singo, Coban Suko dan Coban Jodho,” terangnya saat dikunjungi pada Selasa (11/08/2020)

“Di sini juga kawasan hutan lindung Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang dikasihkan desa untuk dimanfaatkan masyarakat,” sambungnya.

Bahkan, hewan-hewan liar yang sangat dilindungi seperti macan tutul, macan hitam, macan kuning dan elang Jawa masih hidup di hutan ini.

“TNBTS juga memasang kamera untuk memantau hewan-hewan ini. Jadi, terpantau jumlah dan jenis kelamin semuanya,” bebernya sambil menggerakkan tangan membentuk layar kamera.

Hampir setiap hari warga yang mencari rumput atau kayu bakar juga sering melihat hewan-hewan ini berjalan mencari mangsa.

“Warga sekitar juga sering melihat hewan-hewan itu hanpir setiap hari,” tegasnya meyakinkan dengan menunjuk arah hutan bagian atas.

Namun, ia meyakinkan jika hewan-hewan liar seperti harimau tidak akan melewati sungai atau air terjun.

“Tapi harimau itu tidak sampai ke Coban, tapi biasanya hanya elang Jawa, kera atau lutung Jawa,” ungkapnya.

Alasan lain kenapa Coban Kricik, Singo, Suko dan Jodo masih alami adalah karena belum banyak diketahui orang.

“Kalau saat ini masih sedikit, mungkin setiap harinya hanya 5 sepeda motor atau 10 orang lah. Tapi kalau hari Sabtu dan Minggu masih bisa 10 sampai 15 sepeda motor atau bisa dikatakan 30 pengunjung,” jelasnya.

Oleh sebab itu, meskipun nantinya wisata ini akan ramai dikunjungi wisatawan. Saturi berharap agar pengunjung tidak mengotori hutan dengan sampah.

Selama Pandemi COVID-19 ini juga diwajibkan memakai masker. “Kita mewajibkan pengunjung memakai masker semua, dan pengunjung sudah mentaati. Di sini juga alam dan anginnya besar sehingga menyehatkan juga,” tukasnya.

Sementara itu, Priantono selaku Ketua Pengelola Wisata Coban Kricik, Singo, Suko dan Jodo mengatakan jiak pihaknya masih dalam pengembangan untuk perbaikan akses jalan dan lahan parkir.

“Namun, jalan yang menuju Coban tetap dibuat alami agar tetap asri,” paparnya serius.

Selain wisata alam, pria ramah senyum ini juga memperkenalkan wisata kuliner khas Desa Ngadirejo pada tugumalang.id yang berkunjung.

“Di sini juga ada makanan khas yaitu sambel bakar. Tapi kalau lagi musimnya di sini juga ada wisata petik durian, alpukat dan ada kopi Ngadirejo lereng bromo yang sudah terkenal,” tutupnya.

 

Reporter: Rizal Adhi Pratama
Editor: Gigih Mazda

  • Bagikan