Dikepung Banjir, Kota Malang Butuh Banyak Daerah Resapan Air - Tugujatim.id

Dikepung Banjir, Kota Malang Butuh Banyak Daerah Resapan Air

  • Bagikan
Ilustrasi Banjir. (Foto: Tangkapan Layar Video Netizen/Tugu Jatim)
Ilustrasi Banjir. (Foto: Tangkapan Layar Video Netizen/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Banjir di sejumlah titik di Kota Malang akhir-akhir ini disorot keras oleh warga. Akibatnya, banjir terjadi di 20 titik dan 260 rumah warga terendam dalam kurun beberapa jam saja. Sejumlah ahli berpendapat bahwa penyebab banjir terjadi karena daerah resapan air di Kota Pendidikan ini semakin minim.

Ahli Perencanaan Wilayah dan Tata Kota Agustina Nurul Hidayati menyebut bahwa berkurangnya daerah resapan air ini akibat masifnya alih fungsi lahan menjadi pemukiman, mal, hingga pertokoan.

Ahli Perencanaan Wilayah dan Tata Kota Agustina Nurul Hidayati. (Foto: Azmy/Tugu Jatim)
Ahli Perencanaan Wilayah dan Tata Kota Agustina Nurul Hidayati. (Foto: Azmy/Tugu Jatim)

“Sehingga, daerah resapannya jadi semakin sempit dan terjadi banjir. Contohnya ada di kompleks Stadion Gajayana kan fungsinya resapan air, tapi malah jadi mal (Mal Olympic Garden),” sebutnya.

Selain itu, masifnya pembangunan pemukiman di wilayah bantaran sungai juga jadi faktor semakin menyempitnya daerah aliran sungai. Dalam membangun rumah di bibir sungai itu, fondasi rumah terpaksa harus dibangun menjorok masuk ke sungai.

Terlebih, Nurul melanjutkan, kondisi topografi Kota Malang juga terletak di wilayah pelerengan. Artinya, Kota Malang mendapat kiriman volume air yang cukup banyak dari daerah yang berada di dataran lebih tinggi seperti Kota Batu misalnya.

“Kota Batu sendiri juga terjadi hal yang sama, daerah resapannya juga berkurang sehingga mengakibatkan run-off atau air yang turun ke bawah tak ada batas, volumenya besar sekali,” lanjutnya.

Di lain hal, data yang dimilikinya mencatat bahwa ruang terbuka hijau (RTH) yang ada di Kota Malang juga sangat minim. Idealnya, Nurul mengatakan, jika menurut aturan UU No. 26/2007 tentang tata ruang adalah 30 persen dari total luas wilayah. “Kalau saat ini, total RTH tidak sampai 20 persen dari total luas wilayah,” bebernya.

Karena itu, dia mengimbau masyarakat kini berlomba memperbanyak daerah resapan air. Selain itu, kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan juga harus diubah. Dia mengatakan, sampah mampu menyumbat saluran drainase saat hujan.

“Lagi, semua rumah agaknya juga sudah harus mempersiapkan sumur resapan. Di perumahan-perumahan juga harus punya sumur injeksi untuk menahan air,” ujarnya. (azm/ln)

  • Bagikan