BATU, Tugujatim.id – Tindak lanjut laporan Komnas Perlindungan Anak atas dugaan pelecehan seksual oleh founder SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu akan segera dilakukan. Sebanyak 3 anak akan menjalani visum di RS Bayangkara Polda Jatim.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu, MD Furqon menuturkan, ketiga anak itu merupakan siswa SMA SPI asal Madiun, Poso, dan Kutai.
“Besok Senin anak anak itu akan divisum di RS Bayangkara Polda Jatim sekitar pukul 07.00 WIB. Dari 15 itu, 3 yang bisa hadir karena yang lain tempatnya terpencil, pesawatnya gak ada karena kehabisan,” ujarnya, Minggu (30/5/2021).
Disebutkan, kehadirannya bersama Komnas Perlindungan Anak dalam mendampingi korban ke Polda Jatim masih dalam proses pelaporan. Untuk itu dia berharap supremasi hukum bisa ditegakkan dengan tetap memegang azas praduga tidak bersalah terhadap terduga hingga ada keputusan Pengadilan.

“Karena ini atensi nasional, Kapolri telah memerintahkan Polda Jatim untuk membuat BAP, kemarin Sabtu (29/5/2021) itu,” ucapnya.
Saat disinggung alasan kenapa para korban baru melaporkan kasus pelecehan seksual, padahal insiden terjadi mulai 2009 hingga 2020. Pihaknya enggan memberikan penjelasan karena dikawatirkan bisa menyalahi protap aparat penegak hukum. Namun pihaknya hanya bisa memberikan penjelasan berdasarkan tinjauan psikologi.
“Mungkin karena dia masih sekolah, masih membutuhkan sekolah gratis, butuh pekerjaan sehingga secara psikologi mereka belum berani karena masih kecil. Sekarang mereka sudah dewasa, sudah ngerti ditindas, mungkin itu sih kalau dari tinjauan psikologi saya,” tuturnya.
Menurutnya, pihaknya memiliki Pelayanan Terpadu, Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) apabila terjadi kekerasan. Untuk itu, pihaknya juga memberikan pendampingan secara psikologis terhadap korban maupun keluarga.
“Bagaimanapun juga yang namanya peristiwa, kalau itu benar akan membawa trauma yang mendalam dan tidak akan pernah lupa seumur hidup. Ada trauma healing,” jelasnya.
Dikatakan dalam era pandemi seperti saat ini, kegiatan belajar mengajar di Kota Batu memang belum dilakukan secara tatap muka. Namun pihaknya juga mengimbau agar siswa bisa menjaga diri dengan baik terhadap tindak kejahatan.
“Tetap belajar yang giat, harus menjaga diri dengan baik baik. Membekali diri untuk bisa seyogyanya jauh dan menghilangkan kesempatan orang lain untuk bisa melakukan perbuatan perbuatan yang tidak senonoh,” pesannya.