Oleh: Pietra Widiadi, Founder Pendapa Kembangkopi Malang, Petani, dan Sosiolog
Tugujatim.id – Deman fashion week lagi melanda, setelah ledakan besar terjadi di Dukuh Atas, kawasan pusat di Jakarta. Anak-anak puber, anak baru gede atau juga sering disebut anak belasan tahun (teenager), mengguncang negeri ini, dengan polah yang luar biasa. Polah dan lagak mereka diberi cap dengan Citayam Fashion Week, yaitu kreasi anak pinggiran Jakarta dari wilayah Bogor, dengan sebutan Citayam, Bogor dan Depok yang kemudian disingkat dengan SCBD, sebagai plesetan dari Sudirman Centra Business Development, atau pusat pertumbuhan binis di Pusat Jakarta.
SCBD plesetan itu berasal dari Sudirman, Citawam, Bogor dan Demok, jalur KRL sebagai transpotasi murah dari pinggiran Jakarta menuju pusat, yang ongkosnya hanya sekitar Rp5 ribu. Ulah ini dalam beberapa pekan ini belakangan ini sangat heboh. Para warganet dan penikmat media sosial dan media konvensional, baik tulis dan tayang, diramaikan oleh langkah dan polah dari anak-anal belasan tahun (teenager) kamu pinggiran Jakarta itu.
Dukuh Atas tepatnya, yaitu ujung dari Jalan utama Jakarta, yaitu Jalan Thamrin menuju aras Senayan melalui Jalan Sudirman. Bahwa perjalanan yang ditempuh hampir 1 jam dari asal mereka bukanlah sebuah halangan. Langkah menuju pada kebanggaan, bahwa mereka naklukkan Jakarta dengan menguasai Dukuh Atas, di mana Kawasan mahal dekat dengan Stasiun KRL Dukuh Atas.
Dengan cara yang dianggap memberontak ini, mereka menawarkan keramaian yang murah dan bisa dicapai dan digapai tanpa harus masuk ke Mall atau Plaza yang mahal, seperti Kawasan di sebelahnya, di Bundaran HI.
Ini seperti ujung awal menuju pada pertunjukan kreasi para remaja yang menunjukkan eksistensi diri. Bahwa kemudian ini menjadi sebuah ledakan dahsyat pertunjukan jalanan, tak lepas dari gosip dan pembicaraan di media sosial dan tak kecuali media masa. Sebenarnya hal ini, pernah juga terjadi sebelumnya, seperti pengulangan dari sebuah gejala sosial, khas pemberontakan kaum pinggiran yang sesak oleh himpitan hidup di perkotaan.
Contoh gampang yang ditemukan pada 2000-an adalah demam rock-dangdut yang diperagakan oleh Ratu Ngebor, Inul Daratista. Penyanyi dangdut pinggiran Sidoarjo, yang mampu menantang sang maestro dangdut Rhoma Irama. Dua hal yang berbeda, tapi jelas bahwa ini adalah sebuah kreasi. Kreatifitas yang lahir dari kemandirian dan kebarian, serta murah-meriah.
Meski banyak cibiran dan cemoohan, pro-contra. Meski, polah anak belasan tahun di Dukuh Atas itu juga disamakan dengan cara berkreasi remaja Jepang dengan Harajuku, atau dikenal dengan Harajuku Style, sebagai subkultur remaja dan pemuda di Jepang.
Ditelisik lebih dalam, kreasi remaja SCBD ini, adalah genuine, asli dan sebuah peragaan unik yang penuh kreasi anak negeri di negara tropis, Indonesia. Kesesakan di rumah karena tinggal di kawasan pinggiran yang merupakan keluarga pada pelaju ke Pusat Kota Jakarta. Setelah kesebalan memuncak oleh pandemi yang nyaris tak berujung, melahirkan kelompok kreatif yang mampu mendobrak kemapanan kelas menengah-atas ekonomi Jakarta yang menghegemoni. Sampai-sampai pejabat, sekaliber RK (Ridwan Kamil, red) ikut nampang, memberikan semangat juga pesohor lainnya.
Tak penting seberapa murahnya sandang yang dikenakan, yang penting keberanian dan kreasi mendobrak kemapanan akan jati diri kaum muda menjadi sebuah penanda sebagai pendobrak. Sebuah karya yang benar-benar membanggakan.

Awalnya pro-cons yang muncul, sampai dipikirkan dialihkan lokasinya, supaya lebih mapan. Padahal kreasi itu, meletakkan dasar tentang kebutuhan publik, ruang publik yang tidak dikooptasi oleh ekonomi kapital, yaitu gambaran murah, keterjangkauan dan kemampuan, keluarga anak-anak itu. Ide memindahkan ke Sarinah oleh Eric Tohir, menarik tetapi jelas tidak memahami kemandirian dan pendobrakan kelas bawah dengan dasar murah dan meriah itu.
Lalu, pontang-panting kaum mapan dari kota-kota satelit Jakarta juga mencoba mengimitasi, seperti di Surabaya, Bandung dan bahkan kota pinggiran sekaliber Malang, juga didera demam fashion week. Dengan nama yang jelas-jelas ditiru, seolah itulah mainstream tentang kemeriahan kota. Tidak kreatif, jadinya fashion week, melenggak-lenggok di kota-kota satelit itu. Maka kemudian seolah menutupi kreasi dan pendobrakan kaum pinggian yang ingin menunjukkan eksistensinya.
Panggung itu akan “dibajak” oleh sebuah kemapanan elan kapitalis, seolah sebagai upaya melindungi dengan soal hak cipta, atau bahkan diancam akan ditutup kalau mengganggu keamanan dan keresahan berlalu lintas. Seolah mau dibantu, seolah mau diamankan karena tidak aman dan tidak mampu.
Dari sini, maka dapat dilihat bahwa hegemoni, cara menguasai pola dan polah perilaku golongan tertentu ditetapkan oleh sebuah entitas pemilik modal. Ini merujuk pada, pemikiran Antonio Gramci (1937), pada awal perkembangnya teori Postmoderen. Jadi kreasi ini, hanya boleh lahir dari kaum mapan, kaum borjuasi kelas menengah. Bahwa tawaran murah seperti tidak pantas, kalau itu memberikan warna sebuah peragaan.
Berkembangnya gaya karena ada hegemoni, didobrak oleh kalangan pinggiran dengan bergaya apa adanya. Hanya bersolek, bergerombol, jalan sana-sini memutar Dukuh Atas, lalu diimitasi oleh kaum muda kelas menengah dari kota-kota satelit Jakarta. Ini tidak genuine lagi. Artinya, kaum pinggiran yang di luar Jakarta, tidak mendorong kaum pinggiran di kota-kota pinggiran untuk mempertontonkan kreasi mereka.
Katakanlah di Malang yang kemudian muncul, Kayutangan Fashion Week, yang akhir-akir jalan utama Malang itu diramaikan sebagai imitasi kota Yogyakarta. Meski nampaknya tidak penting bagi mereka yang lagi mabuk swafoto di area yang dianggap layak. Hanya jalan yang dihiasi lampu dan tempat duduk tapi tidak dikembangkan dengan regulasi yang bisa menampung wadah kreativitas. Ini jadi pihak pemerintah mendorong adanya kemacetan dan menghambat lalu-lalang, lalu lintas. Jelas ini beda jauh dengan Dukuh Atas dari SCBD.
Bukan kreativitas kaum muda yang didorong, meski kemudian keramaian yang ada melahirkan polo konsumerisme, tentang gaya kaum muda yang nonkrong, atau butuh tempat nongkrong. Pemerintah, lewat dinas-nya, seperti Dinas Pemuda dan Olahraga, mustinya lebih kreatif dan cerdik, bukan hanya pesolek tempatnya tetapi pesolek kreativitas untuk mewadai begitu banyaknya kaum muda yang tidak memiliki ruang berkreasi yang kreatif.
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim ,
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim