"Frekuensi di Lereng Bencana", Film Dokumenter Wartawan Kediri yang Diabadikan BNPB untuk Edukasi Warga

“Frekuensi di Lereng Bencana”, Film Dokumenter Wartawan Kediri yang Diabadikan BNPB untuk Edukasi Warga

  • Bagikan
Foto ilustrasi: Pixabay
Foto ilustrasi: Pixabay

KEDIRI, Tugujatim.id – “Kelud meletus…, Kelud meletus,” teriak Ngaseri, camat Ngancar, Kabupaten Kediri itu. Suaranya dari handy talky (HT) menyeru dan menyebar ke seluruh radio di Gunung Kelud yang dikelilingi tiga kabupaten, yakni Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang. Namun, kini suara Ngaseri itu tinggallah kenangan karena dia telah meninggal dunia sejak beberapa tahun lalu.

Segala keriuhan, kepanikan, dan kecemasan masyarakat tergambar dari film dokumenter yang ditayangkan di akun YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia (RI) tentang 7 tahun silam atau tepatnya 13 Februari 2014, sekitar pukul 22.50 WIB, terjadi erupsi gunung berapi setinggi 1.761 meter di atas permukaan air laut (mdpl).

Namun, siapakah di balik pembuatan film dokumenter berjudul “Frekuensi di Lereng Bencana” ini?
Mereka adalah Abdurrahman, Danu Sukendro, dan Fedho Pradistya. Ketiga wartawan ini merekam bagaimana geliat masyarakat di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.

Abdurrahman, produser film dokumenter “Frekuensi di Lereng Bencana”, ini terlihat dingin. Bola matanya berkali-kali melihat ke arah sekitarnya. Dengan sedikit mengernyitkan alis, pria yang akrab disapa Rahman ini tampak mencoba mengulang kembali ingatannya. Sesekali, bibirnya tersenyum sendiri ketika melihat layar gawai yang sedang dia gunakan untuk menonton film dokumenter karyanya.

“Mencekam sekali malam itu, panik, cemas, semua jadi satu, Mas,” tutur Rahman.

Abdurrahman, produser film dokumenter "Frekuensi di Lereng Bencana". (Foto: Noe/Tugu Jatim)
Abdurrahman, produser film dokumenter “Frekuensi di Lereng Bencana”. (Foto: Noe/Tugu Jatim)

Satu per satu ingatannya pun kembali ke masa 7 tahun lalu. Rahman menerangkan, sekitar tiga bulan dia bersama rekan-rekan wartawan di Gunung Kelud. Dia melihat bagaimana kondisi masyarakat sebelum erupsi hingga usai erupsi terjadi.

Meskipun dengan kondisi panik, ketika terjadi evakuasi untuk mengungsi, masyarakat di Desa Sugihwaras dia nilai sangat tenang. Dia mengatakan, masyarakat meninggalkan rumahnya dengan tenang menuju Desa Tawang, Kacamatan Wates, dan Simpang Lima Gumul.

“Semuanya tenang waktu evakuasi, terus ke pengungsian tertib juga. Gak ada yang sampai kebut-kebutan atau saling menyalip,” terang pria bertopi cokelat ini menjelaskan kepada Tugu Jatim.

Tapi, justru itu yang membuatnya kebingungan. Pertanyaan yang muncul saat itu adalah mengapa masyarakat bisa sangat tenang ketika proses evakuasi. Ternyata, dalam perenungan tersebut akhirnya Rahman menyadari jika masyarakat telah mendapatkan bekal dengan sosialisasi dan pelatihan dari komunitas Jangkar Kelud untuk menghadapi kondisi kalau sewaktu-waktu terjadi erupsi. Termasuk Radio Komunitas Desa Sugihwaras juga ikut membantu. Jadi, masyarakat mengetahui secara persis bagaimana perkembangan aktivitas Gunung Kelud.

Bahkan, dalam film dokumenter itu juga diperlihatkan bagaimana masyarakat yang beraktivitas ke ladang tetap membawa radio untuk mendengarkan informasi dari Kelud FM.

“Ya, ke mana-mana membawa radio biar tahu setiap waktu situasi Kelud itu bagaimana,” imbuh Rahman.

Menurut dia, adanya kesadaran ini ada peranan kelompok komunitas yang bernama Jangkar Kelud yang terus berusaha memberikan mitigasi bencana secara berkala kepada masyarakat. Jadi, Rahman menilai masyarakat mampu mengevakuasi secara mandiri ketika mendengar informasi Gunung Kelud meletus.

“Mengapa mereka bisa tenang? Jawabannya karena masyarakat sudah dibekali pengetahuan dan bisa mengevakuasi secara mandiri. Kuncinya pada kata evakuasi mandiri,” sambungnya.

Kepanikan Wartawan saat Peliputan Erupsi Gunung Kelud

Di sisi lain ketika masyarakat lebih tenang, justru kepanikan terjadi dari kalangan wartawan. Rahman menyadari tidak semua wartawan pernah mendapatkan teknik peliputan saat bencana. Hal tersebut membuat wartawan kebingungan, tapi harus segera beradaptasi dengan situasi tersebut.

“Memang sebetulnya perlu edukasi. Saya rasa mereka termasuk berisiko karena di lapangan itu untuk meliput. Bekal peliputan di daerah bencana dan konflik sangat berisiko. Risikonya pun berbeda-beda. Ketika di daerah bencana seperti apa dan di daerah konflik seperti apa. Ini untuk safety seperti apa seharusnya yang dilakukan agar punya pedoman peliputan di daerah bencana maupun memiliki konflik,” papar anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri ini.

Dia mengatakan, sepertinya AJI pernah mengeluarkan buku saku untuk daerah konflik dan bencana. Meskipun secara periodik gunung meletus bisa diketahui, tapi teman-teman di lapangan membutuhkan pembekalan dan pengetahuan.

“Karena Gunung Kelud aktif, jadi kapan pun meletus sudah siap untuk menjalankan tugasnya. Bahaya datang dari mana itu hal kecil, tapi yang terpenting diketahui wartawan,” sambungnya saat diwawancarai Tugu Jatim.

Sambil memutar otak, Rahman menyadari ada kejadian 2007 silam yang tidak pernah dia lupakan. Yakni, ada seorang wartawan Kediri yang keracunan gas ketika Gunung Kelud sempat erupsi kecil yang membentuk anak Gunung Kelud yang menutup kawah. Danu Sukendro, sutradara film, ini  membenarkan bahwa ada wartawan yang keracunan.

Rahman pun berharap kampanye dan pelatihan untuk menambah pengetahuan mitigasi bencana menjadi sangat penting. Dia menambahkan, bisa juga bahan liputan wartawan dan film dokumenter ini menjadi bahan belajar bagi masyarakat, khususnya yang berprofesi sebagai wartawan.

“Wartawan semua panik, tapi masyarakat sekitar justru santai dan tenang melakukan evakuasi mandiri. Karena sudah teredukasi. Ditakutkan ada wedhus gembel hingga gas yang turun ke pemukiman warga. Dari film ini ada pelajaran yang dipetik. Pertama, masyarakat membangun kesadaran akan potensi bencana. Kedua, masyarakat bisa mandiri melakukan evakuasi ketika terjadi bencana. Mungkin di Kelud dan Merapi berbeda, kalau ada film yang mengupas itu sangat positif,” kata pria asli Malang ini.

Rahman pun mengapresiasi peran Kelud FM dan Jangkar Kelud yang berupaya membangun sistem informasi untuk warga. Jadi, apa yang diterima masyarakat desa itu valid. Secara detail, Rahman menganalisis rantai informasi yang terbentuk sangat efektif. Yakni, informasi Pos Pantau Gunung Kelud disalurkan ke Komunitas Jangkar Kelud. Setelah itu informasi diteruskan ke Kelud FM. Dari penyiar Kelud FM, informasi terbaru disiarkan melalui frekuensi radio komunitas.

“Dengan adanya informasi itu bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, mereka dibekali evakuasi mandiri dan berjalan efektif karena masyarakat sudah dibekali informasi kondisi perkembangan Kelud setiap 6 jam sekali. Masyarakat ke sawah sampai membawa radio untuk mendapatkan informasi dari Kelud FM,” ujar Rahman. (noe/ln)

  • Bagikan