JOMBANG, Tugujatim.id – Bau menyengat dari limbah industri tahu, meresahkan warga di sepanjang aliran sungai Kecamatan Jogoroto dan sekitarnya, Kabupaten Jombang. Karena proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang telah dimulai sejak tahun lalu belum jug rampung.
“Limbah yang mengalir ke sungai ini menimbulkan bau yang menyengat dan sudah berlangsung bertahun-tahun, tetapi belum ada solusi dari pemerintah daerah,” ungkap Diana (42), salah satu warga Desa Rejoso, Kecamatan Peterongan, kepada wartawan, Jumat (05/06/2026).
Dirinya pun berharap DPRD Jombang dan pemerintah daerah segera menghadirkan langkah konkret yang sungguh-sungguh bisa dirasakan warga.
Keluhan Diana bukan suara tunggal. Ketua Komisi C DPRD Jombang M. Zahrul Jihad membenarkan, laporan serupa terus mengalir ke pihaknya. Ia pun mendesak pemerintah daerah mempercepat penanganan sebelum dampak pencemaran meluas ke wilayah yang lebih jauh.
“Limbah cair tahu yang masuk ke sungai mengalami proses penguraian kimiawi dan mulai mengeluarkan bau tajam setelah mengalir sekitar 2 km, dan ini bahkan bisa tercium hingga lebih dari 4 km dari kawasan industri,” papar dia..
IPAL Belum Selesai, Limbah Mencemari Sungai
Penanganan sebenarnya sudah berjalan. Dana Corporate Social Responsibility (CSR) senilai Rp7,7 miliar dari PGN melalui Pertamina digelontiorkan untuk membangun IPAL komunal.
Para pengusaha tahu pun turut berperan dengan menyediakan lahan seluas 1.400 meter persegi sebagai lokasi pembangunan. Sayangnya, meski roses pemasangan pipa sudah dimulai, tetapi IPAL diperkirakan baru rampung sekitar lima bulan ke depan.
Selama IPAL belum beroperasi, limbah masih terus mengalir ke sungai tanpa pengolahan. Anggota dewan pun mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang agar tidak tinggal diam menunggu fasilitas itu selesai.

“Seharusnya ada tindakan nyata dalam dua pekan ke depan untuk meringankan beban pencemaran yang sudah cukup berat saat ini,” sambung Zahrul.
Meski menyoroti pencemaran, DPRD menegaskan tidak berniat membatasi, apalagi menutup industri tahu. Pasalnya, sektor ini adalah tulang punggung ekonomi ribuan warga Jogoroto.
Tercatat, 88 unit usaha tahu menyerap lebih dari 3.000 tenaga kerja, dengan kapasitas produksi mengolah hingga 84 ton kedelai setiap harinya. Namun, di balik skala produksi yang besar itu, industri juga menghasilkan limbah cair hingga 1,26 juta liter per hari mencemari sungai dan tanah.
Eceng Gondok Jadi Solusi Jangka Pendek
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang pun telah menyiapkan sejumlah langkah jangka pendek. Bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), pemerintah berencana menanam eceng gondok di sejumlah titik aliran sungai.
“Eceng gondok cukup efektif menyerap zat pencemar sekaligus menekan bau yang selama ini dikeluhkan warga, dengan target penurunan tingkat pencemaran dan bau hingga 50 persen,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang Miftahul Ulum.
Baca Juga : Siswi SMP Jombang Diduga Buang Bayi di Teras Rumah Warga, Lahiran Dibantu Pasangan Sesama Pelajar
Selain itu, pihaknya juga akan melakukan pengerukan sedimentasi di sejumlah titik penumpukan limbah untuk mempercepat pemulihan kualitas air sungai.
Sekadar informasi, proyek IPAL komunal ini sudah dimulai pada September 2025 lalu. Peletakan batu pertama disaksikan langsung Bupati Jombang Warsubi bersama jajaran Forkopimda, perwakilan PGN, serta pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Dengan IPAL komunal itu, beban pencemaran ditargetkan turun drastis dari 4.200 kilogram per hari menjadi hanya 420 kilogram per hari. Angka yang menjanjikan jika pembangunannya benar-benar selesai tepat waktu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Anang Panca Kurniawan
Editor: Mochamad Abdurrochim







