Menelusuri Bahasa Walikan Sebagai Telik Sandi Aksi Gerilya Pimpinan Hamid Rusdi

  • Bagikan
bahasa walikan
Bahasa walikan hingga ini masih dipakai sehari-hari sekaligus sebagai identitas arek Malang. Nuwus Hebak jika dibalik menjadi 'suwun kabeh' atau jika diartikan berarti 'terima kasih semuanya.' (Foto: Dokumen Wearemania)

Gerilya Rakyat Kota (GRK) Malang di bawah pimpinan Mayor Hamid Rusdi diakui menjadi pasukan paling ditakuti penjajah Belanda. Sepak terjang GRK di medan perang, khususnya selama Agresi Militer Belanda II tahun 1949 sangat tersohor berkat perlawanannya yang taktis dan gigih. Perjuangan tersebut juga tak lepas dari penggunaan bahasa walikan.

Padahal GRK jika dinilai secara objektif sangatlah lemah, baik dari segi jumlah pasukan maupun segi persenjataan. Namun dengan tekad kemerdekaan yang bulat, GRK nyatanya tumbuh menjadi kesatuan elit paling diwaspadai tentara musuh.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Berbagai macam perlawanan sengitnya nyaris tak terprediksi tentara musuh. Seperti taktik bumi hangus, pemboman jembatan, penghadangan hingga pembunuhan para spionase dan masih banyak strategi jitu lain yang dilancarkan GRK.

Penggunaan Bahasa Walikan sebagai Telik Sandi

Tapi tahukah anda apa yang membuat serangan yang dilancarkan pasukan GRK menjadi serangan paling sengit dan mematikan? Padahal pasukan GRK ini terdiri dari banyak kesatuan yang tersebar di berbagai wilayah berjauhan.

patung hamid rusdi
Patung Hamid Rusid di kawasan Jalan Ijen, Kota Malang. (Foto: Ulul Azmy)

Baca juga: Mengenang Hamid Rusdi, Otak di Balik Aksi Gerilya Kota Malang Paling Ditakuti Kompeni

Salah satu faktor keberhasilan ini yaitu penggunaan telik sandi berupa bahasa walikan yang digunakan untuk mengorganisir setiap serangan. Sebagai penghormatan atas sejarah, bahasa walikan kini menjadi identitas Arek-Arek Malang yang digunakan sebagai bahasa prokem sehari-hari khas Malangan.

”’Saya dibalik menjadi ayas, kamu dibalik menjadi umak, utas dibalik jadi satu. Ayas umak utas! Kera-Kera Ngalam Mbois Hebak,” ungkap Eko Irawan, pemerhati sejarah dari komunitas Reenactor Ngalam, Senin (17/8/2020).

Terkait asal-usul bahasa walikan sendiri, terang Eko, memang berawal dari kata sandi yang diperlukan untuk sarana komunikasi, menjamin kerahasiaan dan khususnya sebagai identifikasi pengenal mana kawan, mana lawan. Saat itu, 1949 silam, Belanda memang melakukan spionase alias menaruh mata-mata dalam setiap gerakan.

Saat itu, penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dalam setiap organisir serangan, rentan bocor karena dapat dipahami oleh mata-mata. Tentu saja, mata-mata yang dipasang juga sangat paham dengan bahasa Jawa.

”Sadar akan hal itu, akhirnya Hamid Roesdi bersama pemimpin kesatuan lain menciptakan kata sandi dengan membalik susunan huruf dalam sebuah kata untuk mengirim pesan pada pasukannya. Dia dan kawan-kawannya adalah Kera Ngalam pertama,” paparnya.

Bahasa Walikan sendiri tanpa harus diformulasikan sebagai telik sandi, sudah sarat akan kode dan sandi. Bahasa ini uniknya juga tidak terikat oleh tata bahasa yang umum dan baku. Ia, kata Eko, hanya mengenal satu cara, yaitu dengan cara pengejaan secara terbalik; dari belakang dibaca ke depan.

”GRK sendiri sangat solid. Berkat komitmen dan keakraban dalam pergaulan sehari-hari mereka tak butuh waktu lama untuk mengerti dan fasih dengan bahasa ini. Spion-spion pun kelimpungan. Nah, dari sinilah akhirnya ketahuan yang mana kawan, yang mana lawan,” jelasnya.

Selain Hamid Roesdi, lanjut dia, juga ada tokoh pejuang Arema bernama Suyudi Raharno yang juga ikut andil dalam tercetusnya kode bahasa walikan ini. Suyudi berakhir gugur di medan juang, disergap militer Belanda di wilayah Dukuh Gunuk Watu (kini daerah Purwantoro) pada September 1949.

Ada juga nama lain sebagai pencetus yaitu Wasito yang juga gugur dalam pertempuran sengit di wilayah Gandongan (kini Pandanwangi). Keduanya kini disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati, Jalan Veteran Kota Malang.

Sebagai Bahasa Khas Malangan

aremania
Bahasa walikan hingga saat ini masih terus digunakan masyarakat Malang. Misalnya suporter bola Aremania. (Dok Wearemania)

Tak hanya sebagai bahasa telik sandi pada masa perjuangan. Bahasa walikan, pada perkembangannya juga digunakan menjadi bahasa prokem (slang) khas di kehidupan sehari-hari. Bahasa ini kemudian juga menjadi bahasa slogan khas suporter Aremania dalam setiap spanduk dukungannya.

A Wahab Adhinegoro, Advokat yang juga pemerhati Boso Malangan menyebutkan, mulanya bahasa ini memang bersifat ekslusif (slang) atau hanya digunakan di kalangan terbatas/komunitas tertentu di medio 1950-an ke atas.

”Terutama digunakan sebagai bahasa slang sebuah kelompok komunitas di kawasan sekitar Pasar Besar Malang. Saat itu, perlu digarisbawahi, Bahasa Walikan belum menjadi ikon seperti saat ini,” terangnya.

Yang dimaksud kalangan tertentu ini, kata Wahab adalah komunitas para makelar di Pasar Comboran (pusat jual beli barang bekas) yang kemudian juga memiliki kosakata bahasa transaksi tersendiri.

”Artinya, bahasa malangan tidak hanya didasarkan pada konsep pembalikan kosa kata saja. Melainkan didasarkan atas suatu peristiwa. Ada kalanya juga bermula dari celetukan-celetukan spontanitas dari komunikasi verbal di antara mereka,” paparnya.

Ia mencontohkan, kosa kata yang didasarkan atas peristiwa misalnya kosa kata ‘sanjipak’ yang berarti penipu. Kemudian yang didasarkan atas celetukan spontanitas misalnya kosakata ‘yaolo’ yang juga memiliki arti serupa sanjipak alias penipu.

Dari Pasar Comboran ke Malang Raya. Bahasa ini semakin berkembang dan menemukan dinamikanya sejak digunakan oleh komunitas-komunitas lain di berbagai daerah Kota Malang. Ragam komunitas ini semakin menambah ragam dan corak kosa kata dan kelak (kini) menjadi bahasa ikon slang di keseharian Arek-Arek Malang.

 

Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Gigih Mazda

  • Bagikan