Bisnis  

Pentingnya Literasi Digital, Sertifikasi Halal, Hingga Standardisasi Produk UMKM

literasi digital tugu jatim
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, ketika membuka festival UMKM Satu Jatim yang dihadiri Staf Ahli Kemenkeu Bidang Penerimaan Negara, Oza Olavia; Kepala Perwakilan Kemenkeu Provinsi Jatim, John L Hutagaol; Direktur Utama BPDPKS, Eddy Abdurrachman; Anggota Komisi XI DPR RI, Indah Kurnia dan Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani. Foto: Rahman Hakim/Tugu Jatim

SIDOARJO, Tugujatim.id Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi dukungan yang diberikan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI melalui Sekretariat Jenderal Perwakilan Kementerian Keuangan I Jatim kepada pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Jatim.

Orang nomor satu di Jatim itu optimis, dukungan dan sinergitas dari berbagai pihak semakin mewujudkan terciptanya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya UMKM di Jatim.

“Apa yang sudah dilakukan oleh Kemenkeu Satu melalui festival UMKM ini sesuatu yang perlu kita dukung bersama. Alhamdulillah hari ini kita melakukan proses penguatan sinergi dan kolaborasi yang diharapkan akan menjadi bagian dari seluruh penguatan energi kita untuk bisa membangun percepatan pensejahteraan masyarakat melalui program UMKM Jatim supaya naik kelas,” ucap Khofifah.

Sebanyak 120 pelaku UMKM Jatim binaan Kemenkeu Jatim mengikuti festival UMKM Kemenkeu Satu Jatim bertajuk “UMKM Jatim Bangkit, Ekonomi Melejit”, di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jatim, di Jalan Raya Bandara Juanda No 39, Semambung, Kabupaten Sidoarjo, mulai tanggal 28-30 September 2022.

Opening Ceremony Festival UMKM Satu Jatim dihadiri Staf Ahli Kemenkeu Bidang Penerimaan Negara, Oza Olavia; Kepala Perwakilan Kemenkeu Provinsi Jatim, John L Hutagaol; Direktur Utama BPDPKS, Eddy Abdurrachman; Anggota Komisi XI DPR RI, Indah Kurnia; dan Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, secara resmi dibuka oleh Gubernur Jatim, Khofifah, ditandai dengan pemukulan kentongan pada Rabu (28/9/2022).

Dalam sambutannya, Khofifah mengatakan, sinergi mewujudkan UMKM yang terus tumbuh dan tangguh sangat diperlukan. Melalui konsep pentahelix collaboration antara pemerintah, dunia bisnis, komunitas, perguruan tinggi, media, dan sektor keuangan, menjadi kunci dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM Jatim.

“Ini menjadi bukti bahwa sinergi dan kolaborasi telah dilakukan dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM di Jatim,” ucapnya.

Upaya aktif Khofifah dan sinergi berbagai pihak itu dinilai terbukti meningkatkan kontribusi koperasi dan UMKM terhadap ekonomi Jatim. Pada tahun 2021, Koperasi UMKM Jatim memberikan kontribusi sebesar 57,81 persen terhadap PDRB Jatim atau setara dengan Rp1.418,94 triliun.

Capaian tersebut, lanjutnya, mengalami peningkatan dibandingkan kondisi di tahun 2020 yang mencapai Rp1.361,39 triliun dengan kontribusi sebesar 57,25 persen dengan jumlah koperasi aktif saat ini sebanyak 22.970. Hal ini semakin menegaskan bahwa koperasi dan UMKM menjadi tulang punggung ekonomi Jatim.

“Sedangkan berdasarkan data Kementerian UMKM RI, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64 juta dengan kontribusi PDRB sebesar 61 persen atau senilai Rp574 triliun. Jumlah yang sangat signifikan. Maka dampaknya juga besar. Jadi UMKM merupakan salah satu motor penggerak ekonomi kita,” imbuhnya.

Dalam mendukung aspek pemberdayaan koperasi dan UMKM, Pemprov Jatim menjalankan berbagai program dengan pendekatan lima aspek pemberdayaan, yaitu penguatan kelembagaan dan SDM, peningkatan kualitas produk, perluasan akses pembiayaan, serta pemasaran.

Khusus akselerasi pemasaran produk dan mendorong digitalisasi koperasi UMKM, Khofifah mengatakan, Pemprov Jatim berkolaborasi dengan sejumlah platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, Gojek, dan Grab. Bahkan sudah ada Kampus UMKM Shopee Ekspor yang ada di UPT Pelatihan Koperasi dan UKM yang bertempat di Malang.

“Jatim salah satunya bekerja sama dengan Shopee. Bahkan ada kampus UMKM Shopee dan dalam satu batch bisa 40 orang. Sekali proses tiga bulan dan itu free of charge. Karena itu proses literasi digital dilakukan sangat detail bagaimana cara memotret hingga diajarkan bagaimana live streaming cara memasarkan produk sistem managemen FIFO (First In First Out),” urainya.

Selain itu, sertifikasi halal yang menjadi target nasional. Sejauh ini, kata Khofifah, Pemprov Jatim mengoordinasikan dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) secara rutin. Namun saat ini masih ditemukan beberapa kendala. Hal ini menyebabkan sulit melakukan percepatan layanan seperti yang ditargetkan oleh pemerintah pusat.

“Semoga sinergi dan kolaborasi yang lebih luas akan berseiring dengan upaya percepatan sertifikasi produk halal,” harapnya.

Lebih lanjut, Khofifah menekankan pentingnya literasi digital bagi pelaku UMKM. Selama ini, Pemprov Jatim dibantu Bank Indonesia telah menyiapkan rumah kurasi untuk mengkurasi produk-produk UMKM sehingga standar dari produk UMKM ini relatif baik dan mengetahui bagaimana grade dari produk mereka.

“Kita membutuhkan lebih banyak lagi rumah kurasi dan format-format pelatihan seperti itu supaya standardisasinya juga semakin bagus,” ungkapnya.

Menurutnya, sangat penting menekankan literasi digital melalui rumah kurasi. Sebab, seperti yang disampaikan Founder Alibaba, Jack Ma, bahwa tahun 2030 UMKM di dunia 99 persen secara online dan 85 persen menggunakan e-commerce, maka literasi digital adalah sebuah kebutuhan mendesak.

“Ini akan menjadi bagian dari sinergitas merajut bagaimana penguatan UMKM kita. Jadi apa yang sudah diinisiasi Kemenkeu Satu Jatim saya rasa akan jadi gravitasi. Setiap gravitasi baru insyaallah akan memberikan nilai tambah dan semangat baru,” tandasnya.

Pelaku UMKM produk minuman sarang burung walet, Uly Sarojah menceritakan kesan dan pesan peran pemerintah membantu usahanya menjual minuman sarang burung walet.

Mulanya, Uly bercerita, saat pandemi COVID-19 mewabah di Indonesia, Februari 2020, usaha fashionnya yang menjual sepatu gulung tikar. Tidak menyerah, Uly melihat peluang menjual asupan produk minuman kesehatan. Setelah melakukan riset dan penelitian, ditemukan peluang untuk mengolah dan menjual minuman sarang burung walet.

“Saat itu banyak orang belum paham khasiatnya. Kamipun mulai melakukan penjualan,” kenangnya.

Diakui Uly, awalnya sulit mencari pasar. Ditambah belum memiliki perizinan dan lain-lain. Namun dukungan Dinkop Kabupaten Gresi,k penjualan produknya sedikit demi sedikit mulai menemukan titik terang. “Dibantu pembuatan kelengkapan izin legalitas, membuat Nomor Induk Berusaha (NIB), dan mencari market pasar,” ucapnya.

Usaha minuman sarang burung walet semakin meningkat ketika Uly bertemu dengan Bea Cukai Gresik. Melalui program klinik ekspor, dirinya dibantu membuat NIB untuk bisa memasarkan produk ke luar negeri. Hasilnya, beberapa negara seperti Hongkong, Cina, Singapura, dan Jepang tertarik dengan produk minuman sarang burung walet.

“Melalui bisnis matching, buyer asal Hongkong tertarik dengan produk kami. Oktober 2021, kami ekspor ke Hongkong dengan transaksi senilai Rp800 Juta. Saat ini proses ke negara Jepang,” ujarnya.

Selain dibantu NIB ekspor, Uly mengaku ada beberapa hal yang dibantu Bea Cukai Gresik, yakni pengurusan BPOM dan meningkatkan kualitas produk. “Packaging sangat memengaruhi minat pembeli di Hongkong dan alhamdulillah diterima oleh negara Hongkong,” pungkasnya.