Savero Karamiveta Dwipayana dan Literasi Kaum Muda untuk Cerdas dan Santun Berkomunikasi - Tugujatim.id

Savero Karamiveta Dwipayana dan Literasi Kaum Muda untuk Cerdas dan Santun Berkomunikasi

  • Bagikan
Erwin Kustiman, Penulis Corporate Secretary PT Pikiran Rakyat Bandung.(Foto:Dok/Tugu Jatim)
Erwin Kustiman, Dosen Tetap Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan Bandung. (Foto:Dok/Tugu Jatim)

Oleh: Erwin Kustiman

Tugujatim.id – Tepat benar apa yang disampaikan oleh Savero Karamiveta Dwipayana, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Filkom Unpad) Bandung yang sangat produktif dan telah menempa diri dengan banyak pengalaman positif berkiprah dalam berbagai aktivitas sosial itu. Putra bungsu Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana tersebut semakin matang dalam menyampaikan materi presentasi di depan publik. Selain itu, tema-tema dan penyampaian materinya sangat up-to-date serta relevan dengan kondisi mutakhir.

Itulah mengapa dalam setiap sesi Sharing Komunikasi dan Motivasi, baik dilakukan bersama ayahandanya maupun seorang diri, peserta selalu antusias dan kerap mendapat insight penting dan pemahaman komprehensif tentang berbagai isu yang berkembang. Utamanya dalam kaitan bidang komunikasi, selaras dengan latar belakang keilmuan De Ero, demikian saya biasa menyapa Savero Karamiveta Dwipayana.

Savero Karamiveta Dwipayana saat menyampaikan materi melalui virtual dalam acara "Goes to School 2021" yang digelar Tugu Media Group dan PT Paragon. (Foto: Tugu Media Group/Tugu Jatim)
Savero Karamiveta Dwipayana saat menyampaikan materi melalui virtual dalam acara “Goes to School 2021” yang digelar Tugu Media Group dan PT Paragon. (Foto: Tugu Media Group/Tugu Jatim)

Termasuk apa yang disampaikan Savero pada pembukaan kegiatan “Goes to School 2021” bertema Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi yang diselenggarakan oleh Tugu Media Group beberapa waktu ke belakang. Kegiatan tersebut berlangsung juga bekerja sama dengan PT Paragon Technology and Innovation (PTI), perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia. Paragon membawahi sejumlah brand, di antaranya Wardah, Emina, Make Over, Putri, dan Kahf.

Savero Karamiveta yang kini juga menjadi Managing Editor atau Redaktur Pelaksana di Tugu Jatim ID itu dengan cerdas mengapungkan jargon “Mulutmu Harimaumu” yang kini harus direvisi menjadi “Jarimu Harimaumu” ketika kami masuk dalam ranah digital saat ini.

Dengan tidak langsung dan lewat penyampaian bahasa yang sederhana sehingga bisa dengan cepat dipahami oleh banyak peserta, De Ero sejatinya hendak menyampaikan aspek penting terkait kecerdasan berkomunikasi yang selayaknya menjadi kompetensi mendasar yang harus dimiliki oleh kaum muda atau milenial.

Menurut De Ero, kecerdasan dalam menggunakan media sosial (medsos) yang sudah tidak bisa dilepaskan dari keseharian masyarakat. Bahkan menjadi kemestian. Karena itu, kini masyarakat telah masuk di era yang serba digital, maka gawai merupakan salah satu instrumen yang melekat dalam keseharian individu.

“Setiap harinya Anda pasti memegang gawai dan tidak luput berselancar di media sosial,” ungkap pemuda yang akrab disapa Ero itu. Agar bisa cerdas dalam bermedsos, Ero mengatakan, maka untuk berbagi informasi maupun akan mem-posting di medsos harus diperhatikan dan dipikirkan.

“Kita harus mikir, sebelum mengetik di HP, laptop, atau medsos. Agar jarinya tidak salah dalam bertingkah,” terang anak bungsu dari dua bersaudara itu. Berdasarkan data sebuah penelitian pada Januari 2020, dia menerangkan bahwa YouTube merupakan platform yang paling tinggi tingkat penggunanya. Setelah itu disusul WhatsApp dan berbagai jenis medsos lainnya. Ironisnya, Ero menambahkan, medsos menjadi salah satu sumber penyebaran hoax atau berita bohong.

Menyemai Benih Kecerdasan Berkomunikasi
Apa yang dipaparkan oleh Savero sungguh relevan dengan situasi saat ini. Sebagai mahasiswa dengan latar belakang keilmuan komunikasi, De Ero tentu saja amat memahami bahwa literasi digital dan media sosial adalah keharusan, bahkan semestinya menjadi keniscayaan bagi seluruh kaum muda. Dengan paparan dan jargon yang mudah dipahami serta gaya penyampaian yang selalu menyenangkan karena tidak terkesan seperti menggurui, Savero Karamevita sesungguhnya sudah menyampaikan materi yang sangat mendasar dan penting, yakni etika berkomunikasi. Sebuah hal penting dan mendasar bahkan dalam konteks diskursus di ranah digital atau virtual.

Bagi saya, Savero telah memberikan pemahaman kepada adik-adiknya para siswa sekolah menengah atas (SMA) atau kelompok milenial, termasuk kepada kita semua, bahwa media sosial sejatinya sama saja dengan ruang sosial fisik tempat di mana kita bersua dan berkomunikasi dengan siapa pun. Kita harus memiliki pengendalian diri dan jangan pernah menggunakan emosi sesaat yang justru bisa berakibat fatal. Dunia virtual adalah juga dunia nyata karena makna “virtual” adalah juga nyata, bukan fiktif. Hanya, komunikasi di ranah virtual atau maya menggunakan sarana komputer.

Ada sebuah istilah dalam ilmu komunikasi bahwa pesan yang sudah kita sampaikan kali pertama itu berdampak sangat besar. Hal ini berkali-kali disampaikan oleh Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bapak Prof Deddy Mulyana MA PhD yang merupakan guru bagi Dr Aqua Dwipayana dan memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan beliau sampai saat ini.

Menurut Prof Deddy, dalam setiap pesan komunikasi yang sudah disampaikan, kalau ada ralat atau revisi, dampak yang dirasakan kali pertama tidak bisa serta merta terhapus oleh ralat itu. Itulah yang disebut “irreversible effect” dalam komunikasi. “Pikirkan dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna,” demikian peribahasa yang mencerminkan kearifan lokal orang tua kita dulu.

Kemudian, secara psikologi dan komunikasi, saya juga teringat pada salah satu teori penting dalam ranah komunikasi yang tentu juga dipahami dengan baik oleh De Ero, khususnya terkait media atau jejaring sosial, yakni tentang Teori Dampak Disinhibisi Dalam Jaringan atau Online Disinhibition Effect. Teori ini diperkenalkan oleh pakar psikologi John Suler yang melakukan riset selama hampir dua dekade.

Online Disinhibition Effect merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan penurunan pengendalian psikologis, yang sering berfungsi untuk mengatur perilaku di lingkungan sosial online. Hal ini tecermin dalam hambatan perilaku yang berkurang, rendahnya penghormatan terhadap batasan perilaku saat berada di dunia maya, dan dapat diekspresikan dalam berbagai perilaku interpersonal online yang bisa positif atau negatif.

Kita melihat kecenderungan berkomunikasi di media sosial sering kali justru banyak menuai konflik. Ironisnya, hal itu juga dilakukan oleh mereka yang latar belakang pendidikan atau sosialnya ada di level tinggi. Sopan santun dan etika dalam berkomunikasi dan menyampaikan pendapat, yang telah bertahun-tahun ditanamkan baik di rumah maupun sekolah, seakan ditanggalkan sebelum memasuki pintu dunia digital. Padahal, sebagian besar dari mereka yang gemar menghujat ini umumnya tidak berperilaku sedemikian buruknya di kehidupan sehari-hari.

Dengan cara dan gaya penyampaian yang mengena dan cocok dengan karakter milenial, De Ero sesungguhnya telah berupaya menyemai benih kecerdasan berkomunikasi tanpa mengenyampingkan segi kesantunan di lingkup apa pun. Baik itu di ruang maya atau dalam pertemuan fisik keseharian. Kesantunan adalah ciri yang melekat dalam tradisi dan kultur kita. Dengan kesantunan, maka kita juga menebar aura positif kepada siapa pun sehingga komunikasi akan berjalan dengan penuh harmoni.

Duta Cerdas dan Santun Berkomunikasi
Bagi saya, materi penyampaian yang disampaikan Savero Karamiveta, tak sekadar merepresentasikan kompetensi keilmuan dan pengalaman emasnya dalam beragam kiprah positifnya di berbagai kesempatan dan lembaga. Termasuk tentu saja keberadaannya sebagai relawan nasional dan pada Satgas Penanganan Covid-19 yang dipimpin Bapak Letjen TNI Doni Monardo.

Lebih dari itu, apa yang disampaikan De Ero sungguh terasa autentik dan relevan karena bagi anak muda tersebut, apa yang diucapkan di depan publik adalah praktik berkomunikasinya sehari-hari. De Ero memang selalu mengedepankan sikap santun, rendah hati, serta sangat menghargai lawan bicara karena sejak dini dibesarkan dalam lingkungan yang terbiasa menjalankan nilai-nilai positif demikian.

Dalam sebuah perbincangan dengan Dr Aqua Dwipayana, beliau menegaskan, kesantunan dalam berkomunikasi dan menggunakan etika komunikasi harus diajarkan sejak di pendidikan usia dini. Sedangkan orang tua dan guru harus jadi teladan terkait dengan komunikasi. “Dengan begitu sejak kecil sudah tumbuh dan terbiasa berkomunikasi secara santun dan beretika. Itu juga wujud menghargai orang lain atau yang diajak komunikasi,” kata Pak Aqua Dwipayana.

Dan yang membuat Pak Aqua berbeda dengan kebanyakan orang, silaturahim yang dibangun oleh Pak Aqua adalah silaturahim yang tulus dan ikhlas. Tidak ada embel-embel apa pun. Sederhananya, ketika kita menyapa seseorang di media sosial atau silaturahim ke rumah orang, maka bersilaturahimlah dengan tulus. Jangan mengharapkan balasan, atau materi dari proses itu. Nah, nilai-nilai itulah yang kemudian mengendap dalam diri seorang Savero Karamiveta. Ditambah dengan basis keilmuan di bidang komunikasi, maka dalam setiap penyampaian materi, Savero sejatinya “hanya” menyampaikan apa yang dia praktikkan dalam keseharian.

Tepat kiranya jika Savero Karamevita Dwipayana, setidaknya secara informal, harus kita tempatkan sebagai Duta Cerdas dan Santun Berkomunikasi. Tak hanya di ranah digital atau virtual. Sebab, dalam perjumpaan fisik pun, De Ero senantiasa menunjukkan cara berkomunikasi yang cerdas dan penuh kesantunan. (*)

  • Bagikan