Seorang Juara, Bukan Hanya Persoalan Piala

  • Bagikan
Ilustrasi juara dapat piala. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Ilustrasi juara dapat piala. (Foto: Dokumen)

Oleh: Chintya Maulini, Siswi SMAN Sumatera Selatan.

Tugujatim.id – “Menjadi seorang juara tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak jumlah piala atau prestasi yang telah diraihnya, akan tetapi seberapa jauh proses yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan mereka.” (Penulis Buku MY CLOUD—Chintya Maulini)

Siapa yang tidak ingin menjadi juara? Apa pun posisi dan fokusnya, di mana pun tempat dan relasinya, seorang juara pasti memiliki cerita di balik itu semua, baik dalam sudut pandang yang positif (kemenangan) maupun negatif (kegagalan).

Namun, tak jarang kita mendengar penghakiman dari pujian yang didapatkan atas pencapaian seseorang, misalnya “Wah! Enak banget ya, jadi kek dia” atau kalimat penghakiman lainnnya yang sebaiknya berakhir dalam satu pertanyaan besar pada hati terdalam, “Sebesar apakah usaha dan perjuangan yang dia lakukan untuk mencapai hal tersebut?”.

Tidak mudah! Dua kata penuh makna yang mampu menggambarkan perjuangan meraih sebuah pencapaian. Namun, seorang juara memiliki jawaban ampuh yang sudah ditanamkan sejak awal, “Apa yang tidak mungkin, jika kita mau berusaha”. Maka di sini lah tantangan kita untuk berani bermimpi dan memiliki strategi untuk menggapainya. Karena itu, kita perlu menyusun target, strategi, dan berkomitmen untuk tetap berprogres dalam keadaan sesulit apa pun.

Bahkan, keadaan itulah yang seharusnya dapat dijadikan peluang dan motivasi untuk bangkit dan tetap berjuang. Misalnya saja dalam situasi serba daring seperti sekarang, di balik sulitnya melakukan semua kegiatan jarak jauh, kita diuntungkan dengan peluang mengakses berbagai kegiatan bersama orang-orang hebat dalam skala internasional secara daring dan gratis.

Menjadi sejatinya kamu, berkarya dan terus mengasah bidang yang disuka termasuk hal yang harus dicoba. Kita tidak akan tahu minat dan keterampilan kita jika belum terjun langsung pada setiap unsur yang ada. Berbeda halnya ketika kita sudah merasakan pembagian unsur tersebut, bisa saja kamu enjoy saat menggambar digital, tapi tidak saat menggambar di kanvas. Begitu juga dengan permisalan lainnya.

Tidak setiap orang memiliki kemampuan dan minat yang sama sehingga seorang juara pada awalnya akan kembali menganalisis letak minat dan bakat yang dia punya, menekuninya, hingga menjadi sosok juara yang kita kenal di sekitar. Ketika seseorang memiliki minat dan keterampilan menulis yang baik, dia bisa mencoba belajar dalam komunitas dan perlombaan seputar jurnal atau kepenulisan.

Ketika seseorang memiliki minat dan keterampilan di bidang desain dan visualisasi, dia bisa memfokuskan diri untuk belajar pembuatan sebuah desain ilustrasi dan mencoba lomba poster, video kreatif, maupun komik. Begitu juga yang memiliki keterampilan memasak, melukis, dan menyanyi.

Kegagalan adalah hal yang sudah biasa bagi seorang juara, karena dia yakin bahwa kemenangan semakin dekat di depan mata. Dengan demikian, bukan hanya sekadar usaha, tapi seorang juara juga perlu belajar di setiap tahap dia melangkah. Tetap lakukan yang terbaik, berusaha konstan dan maksimal, berdoa, serta mengulanginya hingga kamu percaya bahwa sebuah proses itu nyata adanya.

 

*Chintya Maulini adalah seorang pelajar asal Palembang. Dia mengikuti sekolah berbasis internasional dengan sistem asrama. Salah satu anggota aktif komunitas Inovasia-ID Pondok Inspirasi ini terseleksi menjadi duta U-Report UNICEF Indonesia 2021 dan progresif dalam berkarya. Melalui “MY CLOUD”—novel pertama best seller-nya, dia mengangkat kehidupan remaja dan self improvement. Chintya beberapa kali menjadi kontributor majalah sekolah dan komunitas, hingga berpartisipasi di lebih dari 10 buku antologi nasional.

“Terus semangat berkarya, raihlah mimpi dengan rida Ilahi,” motto hidup jurnalis muda tersebut.

Jumpai penulis di:
IG: @chintyamaulni5

  • Bagikan