Ungkapan Hati Alira dan Ero Menjelang Bapaknya Berhenti Jadi Karyawan - Tugujatim.id

Ungkapan Hati Alira dan Ero Menjelang Bapaknya Berhenti Jadi Karyawan

  • Bagikan
Dr Aqua Dwipayana, penulis buku super best seller Trilogi “The Power of Silaturahim”. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Dr Aqua Dwipayana, penulis buku super best seller Trilogi “The Power of Silaturahim”. (Foto: Dokumen)

Oleh: Dr Aqua Dwipayana

Tugujatim.id – Jumat, 30 September 2005, tepat 16 tahun lalu adalah hari yang bersejarah buat saya. Ketika itu saya resmi berhenti jadi karyawan. Sejak itu atasan saya satu-satunya hanya Tuhan, tidak ada yang lain.

Saya memutuskan berhenti sebagai pegawai setelah 17 tahun bekerja. Semuanya di bidang komunikasi meski bisnis inti perusahaannya berbeda-beda.

Sebelum memutuskan berhenti jadi karyawan, saya lebih dulu menyampaikan rencana itu kepada istri Retno Setiasih serta kedua anak saya, Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana. Doa dan harapannya waktu itu, semuanya memberikan dukungan.

Setelah berdialog dan mendiskusikannya, mereka memberikan persetujuan dan mendukung. Hal tersebut membuat saya makin semangat menjalaninya.

Dengan Retno perlu diskusi lebih lama. Sebelum akhirnya persetujuan saya dapatkan. Ditandai dengan kesediaannya menandatangani surat di atas meterai yang menyetujui saya mengundurkan diri atau pensiun dini dari Semen Cibinong.

Reaksi Alira saat saya menyampaikan mau berhenti jadi pegawai, mengatakan punya keinginan kelak untuk kuliah.

“Kalau bapak berhenti dari Semen Cibinong, apakah masih bisa membiayai kuliah Alira? Sebab, pada saatnya kelak Alira ingin kuliah,” ujarnya.

Dengan tegas saya jawab insyaa Allah bisa. Bahkan, waktu itu dalam hati saya berdoa kepada Tuhan agar bisa membiayai kuliah Alira dan Ero hingga program doktoral atau S-3.

“Kalau memang begitu, silakan bapak berhenti jadi pegawai. Alira mendukung semua keputusan bapak,” kata Alira memberi semangat.

Sementara Ero yang waktu itu baru kelas 1 SD, pertanyaannya polos sekali. Pertanyaan yang wajar disampaikan seorang anak kecil.

“Jika bapak sudah berhenti kerja di Semen Cibinong, apakah bapak bisa setiap hari mengantar dan menjemput Ero sekolah?” tanya Ero yang biasanya dijemput dan diantar ke sekolah serta pulang ke rumah oleh sopir.

Dengan tegas saya jawab bisa. Mendapat jawaban itu, spontan Ero berucap, “Asyik bapak bisa antar jemput Ero ke sekolah. Kalau begitu bapak sekarang saja berhenti dari Semen Cibinong, sehingga mulai besok bisa mengantarkan dan menjemput Ero ke sekolah. Keputusan bapak itu Ero dukung.”

Dengan keyakinan yang sangat kuat tersebut, setelah mendapat izin dari keluarga, saya memulai hidup mandiri. Mensyukuri dan menikmati atasan satu-satunya hanya Tuhan. Menjadi orang yang benar-benar bebas merdeka.

Sebagai Penyemangat

Setelah sekitar 17 tahun bekerja di sembilan perusahaan yang berbeda-beda -kali pertama 27 Desember 1988 di Harian Suara Indonesia (sekarang Radar Surabaya dan anak perusahaan Jawa Pos-pen) – dengan kesadaran penuh dan keyakinan dalam segala aspek kehidupan bakal lebih baik, saya memutuskan berhenti jadi karyawan. Melaksanakannya dengan penuh sukacita.

Sama sekali tidak ada beban melakukannya. Bahkan setelah menjalaninya, menyesal kenapa tidak dari dulu jadi orang bebas merdeka. Atasan satu-satunya hanya Tuhan. Kenapa setelah usia 35 tahun baru melaksanakannya.

Saya mengakhiri karir sebagai pegawai di Semen Cibinong. Kemudian ganti nama jadi Holcim Indonesia. Setelah dibeli Grup Semen Indonesia, namanya berganti lagi jadi Solusi Bangun Indonesia.

Saat saya memutuskan berhenti jadi pegawai, banyak orang terutama teman-teman saya yang menyesalkan keputusan saya itu. Mereka mengkhawatirkan kehidupan saya, terutama keluarga, setelah tidak bekerja secara rutin dan mendapat gaji setiap bulan.

Kekhawatiran itu makin bertambah saat melihat kedua “malaikat” saya, Alira dan Ero yang masih kecil. Usia mereka relatif belia: 9 tahun dan 6 tahun.

“Kalau Pak Aqua berhenti jadi pegawai Semen Cibinong dan tidak bekerja sebagai karyawan, nanti keluarganya: istri dan anak-anaknya mau dikasih makan apa? Bagaimana dengan biaya pendidikan mereka? Padahal mereka kan membutuhkan biaya yang besar. Dari waktu ke waktu dana buat Alira dan Ero tambah banyak,” ujar beberapa teman senada.

Menjawab mereka, saya menyampaikan terima kasih atas semua perhatian yang diberikan kepada saya sekeluarga. Hal itu sangat mengharukan sekaligus sebagai penyemangat untuk menjawab plus membuktikan kekhawatiran mereka.

Saya katakan bahwa saya sangat yakin Tuhan telah menetapkan rezeki saya sekeluarga. Terpenting, konsisten menjaga hati agar tetap bersih, komunikasinya baik kepada semua orang, dan selalu berpikir positif. Selain itu, terus-menerus berusaha secara optimal.

Dengan melaksanakan hal itu secara terus-menerus tanpa lelah, saya yakin Tuhan akan memberikan rezeki kepada saya sekeluarga. Bahkan, jumlahnya melebihi dari kebutuhan kami.

Belakangan semua yang saya sampaikan itu terbukti. Saya sekeluarga sangat mensyukurinya. Terima kasih Tuhan.

Menunjukkan Empati

Sebelumnya setiap saya pindah kerja dari satu perusahaan yang ke perusahaan lain -mulai 27 Desember 1988 sampai 2 Januari 1995- selalu ada saja teman-teman yang menunjukkan empati tapi sekaligus terkesan menakut-nakuti. Mereka mengatakan kalau saya tidak lagi bekerja di perusahaan, salah satu contohnya sebagai wartawan, tidak akan dihargai oleh orang lain. Sehingga disarankan tetap menjalani pekerjaan semula dan tidak pindah kerja.

Menyimak semua yang disampaikan teman-teman tersebut, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Itu sebagai bukti nyata perhatian mereka yang besar kepada saya. Alhamdulillah…

Saya sampaikan, walau tidak ada seorang pun di dunia ini yang menghargai saya karena tidak lagi bekerja di tempat semula, bagi saya sama sekali tidak ada masalah. Hal itu tidak saya pikirkan, apalagi sampai dipusingkan.

Bagi saya yang terpenting mendapatkan penghargaan dari Tuhan. Itu yang paling utama dan selalu berusaha secara maksimal saya upayakan untuk mendapatkannya.

Untuk apa semua orang di dunia ini menghargai kita. Bahkan sampai ada yang memberi penghargaan itu dengan cara membungkukkan badannya dan mencium tangan, tapi TUHAN sama sekali tidak menghargai kita. Alangkah menyakitkan sekali kalau hal ini sampai terjadi.

Menurut saya, seseorang dihargai oleh orang lain bukanlah karena pangkat dan jabatannya. Juga tidak karena kecerdasan, kekayaaan, wajah, dan berbagai hal yang terkait dengan duniawi.

Penghargaan itu diperoleh karena dua hal. Pertama, bagaimana kita menghargai diri kita sendiri. Salah satu caranya dengan tidak mengucapkan kata “hanya” saat mengenalkan diri kepada orang lain. Misalnya, “Saya hanya seorang karyawan”. Atau “Saya hanya seorang pegawai rendahan di kantor itu”.

Begitu mengucapkan kata “hanya” itu menunjukkan sama sekali tidak mensyukuri amanah yang telah diberikan Tuhan kepada dirinya. Juga tidak menghargai dirinya. Dengan begitu sampai kapan pun tidak akan ada orang yang menghargainya.

Bagaimana orang lain mau menghargainya, sedangkan dia tidak menghargai dirinya. Untuk itu selalulah menghargai diri sendiri secara profesional dan proporsional. Tidak berlebih-lebihan.

Kedua, bagaimana menghargai orang lain. Ketika kita menghargai siapa pun, dia pasti melakukan hal serupa kepada kita. Itu sudah hukum alam.

Jadi hargai dulu orang lain secara profesional dan proporsional. Setelah itu baru mendapatkan penghargaan serupa bahkan lebih dari orang yang dihargai tersebut.

Intinya adalah memberi dulu. Melakukan investasi kebaikan tanpa pamrih pada siapa pun. Setelah itu baru memperoleh hasilnya, baik di dunia maupun di akhirat. Yakinlah dengan hal tersebut.

Ketika saya memutuskan berhenti jadi pegawai, banyak orang yang menyampaikan keheranannya. Apalagi waktu itu pekerjaan saya sudah mapan dengan gaji setiap bulan mencapai belasan juta rupiah. Selain itu, mendapatkan bonus beberapa bulan gaji setiap tahunnya.

Waktu itu banyak orang yang ingin bekerja di Semen Cibinong. Apalagi melihat kesejahteraannya yang lumayan plus berbagai fasilitas lainnya. Namun tidak banyak orang yang seberuntung saya.

Teman-teman heran, kenapa semua kemapanan itu saya tinggalkan. Apa sebenarnya yang mau saya cari? Juga apa rencana saya selanjutnya.

Ketika itu masalah utamanya ada pada diri saya. Hati dan perasaan saya selalu resah, ketika dari waktu ke waktu, terutama setiap tugas ke berbagai daerah, melihat banyak orang yang menganggur. Padahal potensi Indonesia besar sekali.

Saya ingin banyak punya waktu untuk menggerakkan mereka. Dengan memberikan motivasi. Menunjukkan potensi mereka untuk menggarap peluang yang ada sehingga bisa memberikan penghasilan yang layak buat mereka bersama keluarganya.

Saya sangat yakin bahkan yakin sekali, ketika saya berpikir untuk banyak orang dan membantu mereka secara optimal dengan ikhlas, tanpa saya minta, secara otomatis Tuhan akan memikirkan dan memberikan yang terbaik kepada saya sekeluarga. Itu sesuai janji Tuhan kepada umatnya yang ditulis dalam semua kitab suci.

Hidup Baru

Bismillahirrohmanirrohim… Dengan mengucap nama ALLAH SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, saya memulai hidup baru. Melakukan berbagai penyesuaian.

Sekitar tiga bulan saya sangat menikmati hidup. Tidak melakukan rutinitas bekerja yang telah saya jalani selama 17 tahun.

Tidak perlu bangun setiap pagi pada hari kerja untuk berangkat kerja dan tiba di rumah malam hari. Rutinitas saya selama 16 tahun.

Tetap bangun pagi untuk salat Subuh. Setelah itu melakukan berbagai aktivitas yang saya sukai sesuai hati nurani. Tidak ada yang melarang kecuali Tuhan sebagai atas saya.

Kondisinya berubah 180 derajat. Atas rida Tuhan dan dukungan penuh dari keluarga, saya menjalani semua aktivitas mandiri dengan penuh sukacita. Mampu menyesuaikan diri. Tidak mengalami kekagetan.

Dari waktu ke waktu kualitas kehidupan saya bersama keluarga dalam segala aspek semakin baik. Kekhawatiran yang sering menghantui banyak orang saat berhenti jadi pegawai sama sekali tidak saya alami.

Alhamdulillah saya tidak mengalami “post power syndrome“. Rezeki saya terus bertambah. Wujudnya tidak hanya materi, tapi juga yang lainnya seperti kesehatan yang prima, semakin banyak teman dari semua level dan latar belakang, serta tambah banyak amanah yang saya peroleh dari banyak orang dan berbagai institusi untuk melaksanakan Sharing Komunikasi dan Motivasi.

Begitu banyaknya amanah tersebut terutama selama pandemi Covid-19 ini sehingga saya merasa kekurangan waktu. Selama 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, dan 365 hari dalam setahun terasa kurang sekali.

Satu per satu amanah tersebut saya jalani. Seiring dengan itu, saya mulai mengurangi kegiatan bisnis. Meningkatkan aktivitas sosial sebagai bekal di akhirat kelak.

Alhamdulillah, Tuhan melalui kami sekeluarga telah memberikan rezeki-Nya dengan membantu banyak orang. Wujudnya beragam termasuk materi. Bahkan telah membiayai umroh ratusan orang yang di antaranya tergabung dalam rombongan umroh The Power of silaturahim (POS) yang diketuai wartawan senior Nurcholis MA Basyari.

Dengan sukacita semuanya saya jalani. Seluruh aktivitas tersebut saya niatkan ibadah. Sepenuhnya karena Tuhan.

Hal itu membuat saya menikmati setiap menjalani berbagai aktivitas. Terutama kegiatan utama yakni silaturahim serta Sharing Komunikasi dan Motivasi.

Saya merasakan sekali setiap melaksanakan semua kegiatan itu, Tuhan selalu bersama saya. Sehingga tidak pernah lelah meski pernah dalam sehari melakukan Sharing Komunikasi dan Motivasi sebanyak tujuh sesi dengan durasi rata-rata dua jam per sesi termasuk tanya jawab.

Begitu juga kegiatan silaturahim. Sering saya melakukannya dari pagi sampai larut malam. Alhamdulillah saya tetap semangat, sehat, dan menjalaninya dengan bahagia.

Saya sangat yakin semua itu sepenuhnya terjadi karena Tuhan. Tanpa bantuan dari Sang Pencipta, saya tidak akan mampu berbuat apa-apa, termasuk melakukan silaturahim serta Sharing Komunikasi dan Motivasi.

Meninggalkan Zona Nyaman

Selama 16 tahun jadi orang bebas merdeka, saya sangat bersyukur karena telah berhasil mengajak banyak orang mengikuti yang saya lakukan. Berhenti jadi pegawai dan mandiri. Bahkan tidak sedikit yang membuka lapangan kerja baru untuk banyak orang.

Telah puluhan orang yang berhasil saya “provokasi” untuk meninggalkan zona nyaman. Mengoptimalkan semua potensi dirinya agar dapat meraih kesuksesan yang lebih besar.

Ada yang semula tidak punya nyali. Mengkhawatirkan banyak hal. Mulai dari tidak mendapatkan penghasilan, tidak bisa menghidupi keluarga, hingga tidak dihargai orang.

Setelah lama berdiskusi dengan saya dan melakukannya beberapa kali, akhirnya mereka yang semula ragu-ragu mantap berhenti jadi pegawai. Memulai hidup baru dengan penuh keyakinan.

Setelah menjalaninya dengan penuh sukacita, berbagai kekhawatirannya sama sekali tidak terbukti. Bahkan mereka menyesal kenapa tidak dari dulu meninggalkan zona nyaman dan mandiri.

Mereka menyesal karena pernah “dihantui” oleh berbagai perasaan yang membuat dirinya khawatir kalau berhenti jadi pegawai. Setelah dijalani ternyata semuanya menyenangkan. Seluruh kekhawatiran itu tidak terbukti.

Semua pengalaman mereka diceritakan kepada banyak orang. Doa dan harapannya seluruh yang mereka lakukan terutama meninggalkan zona nyaman diikuti dan dapat merasakan kualitas hidup yang lebih baik.

Ada beberapa teman saya yang punya keinginan untuk mandiri namun belum mewujudkannya. Alasannya masih harus bertanggung jawab menghidupi orang-orang yang menjadi anak buahnya.

Mereka tidak mau dapat cap negatif. Atasan yang tidak bertanggung jawab. Apalagi dalam situasi pandemi Covid-19 yang sampai sekarang masih berlangsung.

Teman-teman saya itu ingin saat mereka meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja, semuanya anak buahnya tersenyum bahagia. Melepasnya dengan ikhlas dan senyum gembira. Bukan sebaliknya.

Saya menghargai mereka. Cuma tetap mengingatkan agar jangan sampai terlena yang akhirnya membuat mereka menyesal karena seumur hidupnya selalu berada di zona nyaman.

Selain itu menyiapkan semua anak buahnya agar tetap bisa bertahan, ada limitasinya. Memiliki target. Paling lama tiga tahun. Setelah itu apa pun yang terjadi harus berani mengambil keputusan.

Kita memang perlu memikirkan orang lain bahkan berpikir dan membantu banyak orang. Namun untuk keperluan diri sendiri jangan dilupakan. Apalagi mewujudkan semua rencana pribadi yang akhirnya memiliki pengaruh dan manfaat yang besar buat orang lain.

Semoga kemandirian dapat terus diwujudkan dengan tidak terlena saat berada di zona nyaman. Aamiin ya robbal aalamiin…

Terima kasih banyak Tuhan karena selama 16 tahun telah memberikan yang terbaik kepada saya sekeluarga. Alhamdulillah…

*Penulis adalah Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

  • Bagikan