Wahyu Nasipah, Difabel asal Blitar Mahir Menyulam meski tanpa Kaki dan Tangan Sempurna - Tugujatim.id

Wahyu Nasipah, Difabel asal Blitar Mahir Menyulam meski tanpa Kaki dan Tangan Sempurna

  • Bagikan
Wahyu Nasipah, difabel daksa yang tetap semangat belajar di Dinsos Jatim. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Wahyu Nasipah, difabel daksa yang tetap semangat belajar di Dinsos Jatim. (Foto: Dokumen)

Tugujatim.id – Semua orang pasti ingin terlahir sempurna. Tapi, kisah Wahyu Nasipah, 38, yang terlahir sebagai difabel daksa asal Blitar, ini tak membuatnya menyerah menjalani hidup. Anak keenam dari tujuh bersaudara ini bahkan rela ikut pelatihan UPT Rehabilitasi Bina Sosial Bina Daksa di Pasuruan, yang merupakan milik Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jatim. Karena mengikuti pelatihan itu, Nasipah harus rela jauh dari keluarga untuk menimba ilmu.

“Saya asalnya dari Blitar, tapi sekarang tinggal di Bangil ikut pelatihannya Dinsos Jatim,” ujar Nasipah pada Rabu (13/10/2021).

Kesehariannya, dia mengikuti pelatihan kelas sulam dan batik. Mengapa dia mengikuti pelatihan itu? Nasipah hanya ingin punya skill dengan menyesuaikan kondisi tubuhnya yang memiliki keterbatasan pada tangan dan kaki.

“Ada kelas jahit, tapi kan saya susah kalau mau menjahit,” ujar Nasipah.

Nasipah yang terlahir tanpa memiliki kedua tangan yang sempurna seperti orang pada umumnya. Untuk menyulam, dia memanfaatkan kedua kakinya. Tentunya, dalam proses menyulam butuh ketelitian dan kesabaran. Namun, dia mampu menyelesaikan sulaman satu tangkai bunga dalam tempo satu hari.

“Kalau mood-nya lagi bagus, ya bisa selesai sehari. Tapi, kalau lagi nggak mood ya bisa dua hari,” imbuh Nasipah seraya tergelak.

Kelas pelatihan sulam, Nasipah mengatakan, berlangsung setiap hari kerja mulai dari pagi puku 08.00-12.00. Ada 12 orang dalam kelas sulam ini. Selain sulam, materi juga diselingi dengan membatik.

Pelatihan yang diikuti Nasipah diberikan Dinsos Jatim secara cuma-cuma. Selain itu, Nasipah juga mendapat fasilitas tempat tidur dan makan secara gratis.

“Semua sudah ditanggung sama Dinsos (Jatim), mulai dari makan sampai tempat tidur,” ujarnya.

Nasipah pun terlihat bersemangat saat menyulam. Keinginannya untuk bisa hidup mandiri mendorong Nasipah bertahan mengikuti kelas pelatihan meski harus jauh dari keluarga.

Selepas mengikuti pelatihan dari Dinsos Jatim, dia ingin membuka usaha sulam. Ini sekaligus memperluas bidang usaha yang dia geluti sebelum mengikuti pelatihan.

“Sebelumnya saya bikin konektor masker dan aksesori dari manik-manik, lalu saya jual secara online. Sekarang saya sudah mulai bisa nyulam, jadi mau nambah buka usaha sulam,” ujarnya.

 

Sumber Artikel: Berita Anak Surabaya (Basra)

  • Bagikan