Tugujatim.id – Belum lama ini, duka menyelimuti Ibu Kota, Jakarta. Seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan (21) tewas terlindas kendaraan taktis Brimob saat pembubaran demonstrasi di depan Gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/8/2025) malam. Namun, peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi. Sejarah mencatat, aksi demonstrasi di Indonesia berakhir tragis, menelan korban jiwa, dan meninggalkan luka mendalam.
Diantaranya, tugujatim.id menghimpun 5 peristiwa demo dalam sejarah Indonesia yang berakhir tragis berikut. Hal ini juga menjadi pengingat pahitnyaa perjuangan menuntut keadilan bisa berujung fatal.
1. Tragedi Trisakti (1998)
Tragedi Trisakti adalah salah satu peristiwa paling ikonik dalam sejarah Reformasi. Dilansir dari laman resmi humas Universitas Trisakti, pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak dan puluhan lainnya luka saat demonstrasi menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya.
Empat mahasiswa itu, yakni Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Hendriawan Sie, dan Heri Hertanto. Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada. Peristiwa ini memicu kerusuhan besar dan mempercepat kejatuhan rezim Orde Baru.
2. Tragedi Semanggi I (1998)
Dilansir dari Amnesty International Indonesia, hanya beberapa bulan setelah Peristiwa Trisakti, kekerasan kembali terjadi. Tragedi Semanggi I terjadi di depan kampus Universitas Atmajaya dan area-area simpang susun Semanggi Jakarta.
Pada 13 November 1998, unjuk rasa mahasiswa menolak Sidang Istimewa MPR berujung bentrokan dengan aparat keamanan.
Sedikitnya 17 orang tewas, sebagian besar adalah mahasiswa dan pelajar dan 456 lainnya terluka dalam Tragedi Semanggi I. Tragedi ini menjadi bukti bahwa era reformasi tidak serta-merta menghentikan kekerasan.
3. Tragedi Semanggi II (1999)
Belum genap setahun, Tragedi Semanggi kembali terulang. Pada 24 September 1999, mahasiswa berdemonstrasi menolak RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB).
Aksi ini kembali berujung kekerasan dan menelan korban jiwa dengan menewaskan 11 warga sipil dan 217 lainnya menjadi korban luka. Termasuk Yap Yun Hap, seorang mahasiswa berusia 22 tahun dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), yang tewas tertembak.
4. Demo Revisi UU KPK dan RKUHP (2019)
Pada September 2019, ribuan mahasiswa kembali turun ke jalan menolak revisi UU KPK dan pengesahan RKUHP. Dilansir dari Kompas.com, demonstrasi itu digelar di berbagai kota, yakni Jakarta, Bandung, Sumatera Selatan, hingga Sulawesi Selatan.
Di Jakarta, mahasiswa dari berbagai universitas lebih dulu melakukan aksi di depang gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 19 September 2019.
Aksi itu tidak mendapat tanggapan dari dari DPR. Alhasil pada 23 September 2019, para mahasiswa kembali menggelar aksi unjuk rasa yang lebih besar.
Sayangnya, unjuk rasa itu berakhir dengan bentrokan antara massa dengan aparat kepolisian. Menurut laporan terdapat 232 korban luka dalam bentrokan itu. Mulai dari mahasiswa, masyarakat sipil, aparat keamanan, hingga wartawan.
5. Demo DPR di Jakarta Berujung Tewasnya Pengemudi Ojol (2025)
Peristiwa terbaru dan paling menyita perhatian adalah tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, pada demonstrasi Kamis (28/8/2025) malam.
Dilansir dari Tempo, demonstrasi itu dilakukan oleh serikat pekerja dan mahasiswa. Dua kelompok massa itu membawa beragam isu berbeda.
Serikat buruh membawa enam tuntutan, yakni penghapusan outsourcing dan penolakan upah murah, penyetopan PHK, reformasi pajak perburuhan, pengesahan RUU Ketenagakerjaan tanpa omnibus law, pengesahan RUU Perampasan Aset, dan revisi RUU Pemilu.
Sementara itu, demonstran mahasiswa dari berbagai kampus menuntut pembubaran DPR serta pencabutan tunjangan anggota Dewan yang berlebihan.
Dari informasi yang dihimpun tugujatim.id, Affan bukan demonstran, ia hanya melintas saat pembubaran aksi di depan Gedung DPR. Namun, ia menjadi korban tak langsung dari kekerasan yang terjadi.
Di tengah pembubaran aksi demonstrasi di depan Gedung DPR, Jakarta. Saat itu, massa yang ricuh dan bentrok dengan aparat dipukul mundur ke arah Pejompongan.
Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun, diketahui sedang dalam perjalanan setelah mengantar orderan makanan. Ketika situasi memanas, Affan yang berada di area itu diduga panik dan terjatuh di tengah kerumunan yang berlarian.
Dalam kekacauan tersebut, sebuah kendaraan taktis (rantis) Brimob melintas dengan kecepatan kencang dan melindas Affan yang berusaha bangun usai terjatuh. Affan dinyatakan meninggal usai di larikan ke RSCM.
Peristiwa tragis ini terekam dalam sebuah video amatir yang kemudian beredar luas di media sosial, memicu kemarahan publik. Bahkan gelombang aksi solidaritas dan unjuk rasa berlanjut di beberapa daerah, seperti Surabaya, Malang, hingga Jember.
Lima peristiwa ini, adalah cermin dari sejarah kelam penanganan demonstrasi di Indonesia. Setiap nama yang tercatat adalah sebuah pengingat bahwa di balik tuntutan dan kericuhan, ada nyawa yang hilang dan keluarga yang berduka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Feni Yusnia
Editor: Darmadi Sasongko








