SURABAYA, Tugujatim.id – Tidak seperti pada hari biasanya. Malam ini suasana Makam Sunan Ampel Kota Surabaya terlihat begitu ramai. Ribuan peziarah datang silih berganti memenuhi kompleks makam dari siang hingga Subuh menjelang. Tabarukan atau mencari berkah menjadi awal tujuan mereka datang ke salah satu makam Walisanga ini saat malam Lailatul Qadar.
Lantunan tahlil menggema di area pusara Raden Rahmat. Setiap malam 21 bulan Ramadhan, suasana seperti ini selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Memang suasana hari ini terasa istimewa, orang muslim menyebutnya sebagai Malam Seribu Bulan, waktu-waktu diijabahnya segala doa-doa.
Biasanya, suasana malam Lailatul Qadar dapat dirasakan dari pukul 21.00 hingga menjelang Subuh. Orang muslim banyak menghabiskannya dengan membaca ayat suci Al-Qur’an, i’tikaf di masjid, atau ziarah ke makam-makam ulama dan wali. Seperti yang terlihat di Makam Sunan Ampel pada Rabu dini hari (12/04/2023).

“Sebagai momen tabarukan saja. Mengisi awal di malam ganjil pada 10 malam terakhir Ramadhan. Kalau sendiri kadang kurang semangat. Kalau ke sini sekaligus cari berkah. Sekaligus sebagai pemantik semangat untuk 10 malam terakhir,” kata Asyiah Faridatus Sa’adah, salah satu peziarah asal Surabaya.
Menurut dia, tidak semua orang dapat merasakan keistimewaan Lailatul Qadar. Sehingga, selagi diberi umur dan badan yang sehat, alangkah lebih baik dimaksimalkan dengan memperbanyak beribadah.
“Makna malam Lailatul Qadar sebagai detik-detik pengampunan yang belum tentu bisa kita jumpai tahun depan. Apalagi fadhilahanya (keutamaan) itu sebanyak 83 tahun. Jadi dimaksimalkan dengan memperbanyak doa dan ibadah,” ujarnya.
Sama halnya dengan salah satu peziarah lain asal Jombang bernama Sumaiyah. Jauh-jauh dari Jombang menuju Surabaya, Sumaiyah selain bertujuan untuk ziarah, dia juga i’tikaf di Masjid Agung, masjid yang didirikan oleh Sunan Ampel.
“Ibarat minum jamu, kalau doa ke sini rasanya manjur. Nggak tahu kenapa ya merasa tenang aja. Emang bisa ibadah di rumah tapi suasananya beda. Di sini lebih sejuk walaupun Surabaya,” ujar perempuan yang berusia setengah abad ini.

Datang bersama rombongan ibu-ibu pengajian, salah satu rekan Sumaiyah, Solikatin turut nrimbung dalam obrolan hangat ini. Sebagai orang kali pertama menginjakkan kaki di Makam Sunan Ampel, Solikatin merasa heran dengan begitu banyaknya peziarah yang datang malam ini.
“Pertama kali sini, ramai juga. Saya cukup kaget juga bisa seramai ini. Jadi pengin tahun ke depan bisa ke sini lagi, insyaa Allah,” ucapnya.
Antusiasme ibu-ibu pengajian ini memang patut diacungi jempol. Menjujuk ke Kota Pahlawan tidak hanya bertujuan ke Makam Sunan Ampel. Rupanya, rombongan sudah berangkat sedari siang dengan mampir terlebih dahulu ke Masjid Al-Akbar Surabaya untuk salat Tarawih.
“Tadi berangkat dari rumah pukul 13.00. Dari Masjid Agung Jombang dulu, terus salat Tarawih di Masjid Akbar Surabaya, habis itu ke sini ziarah sama malam Lailatul Qadar,” tuturnya.
Semalam suntuk tidak tidur, Solikatin justru mengaku senang. Sebab, selain mengutamakan ziarah dan merayakan Malam Lailatul Qadar, baginya, perjalanan spiritualitas ini juga sebagai ajang untuk jalan-jalan.
“Seneng berangkatnya ramai-ramai. Tadi belanja juga peci, kurma, buat oleh-oleh keluarga,” ujar perempuan berjilbab kuning tersebut.
Sama dengan para pengunjung perempuan-perempuan tersebut. Muhammad Reza, peziarah asal Tanggulangin Sidoarjo, datang ke makam Sunan Ampel saat malam Lailatul Qadar setiap tahun sebagai agenda rutin bersama istrinya.
“Kalau ke sini pas Lailatul Qadar itu vibes-nya beda aja gitu. Senang ramai banyak peziarah, terus beliau (Raden Rahmat) ini kan salah satu Walisanga, jadi lebih istimewa,” katanya.








