PASURUAN, Tugujatim.id – Komunitas Tuli Art menjadi wadah bagi para penyandang disabilitas tunarungu wicara di Pasuruan, Jawa Timur. Lewat karya lukisan mural, lima difabel anggota Komunitas Tuli Art bisa bekerja dan menghidupi keluarganya.
Komunitas ini didirikan para penyandang disabilitas minim pendengaran dan tak cakap bertutur sejak delapan tahun lalu. Tepatnya di 2015, Ketua Komunitas Tuli Art Pasuruan, Joko Afrianto mencetuskan ide komunitas yang berfokus pada mural hias tersebut. Dia mengumpulkan para tunarungu wicara yang punya bakat menggambar.
“Awalnya hobi gambar, suka lukis semua,” ujar Joko menggunakan bahasa isyarat, pada Sabtu (29/7/2023).

Berawal dari coba-coba menggambar mural di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, karya Komunitas Tuli Art mulai banyak dilirik. Karya-karya mural mereka banyak menghiasi sejumlah sekolah di wilayah Pasuruan, termasuk rumah-rumah dinas di lingkungan Pemkot Pasuruan.
Di Juli 2023 ini, Komunitas Tuli Art diminta untuk menggambar mural di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kota Pasuruan. Mereka menggambar desain mural warna-warni, bergambar kopi, pemandangan, hingga bertuliskan kalimat-kalimat inspiratif.
“Desainnya dari pihak dinsos, kita tinggal ngerjakan saja. Butuh waktu sekitar tiga hari untuk merampungkan mural,” ungkapnya.
Dari usaha jasa mural ini, kelima anggota Komunitas Tuli Art bisa menghidupi anggota keluarganya.
Harga jasa mural yang ditawarkan cukup terjangkau. Untuk per meter persegi, lukisan mural di tembok dihargai Rp50 ribu. Apabila sepaket bahan dan alat disediakan oleh mereka, para pelanggan hanya perlu menambah ongkos Rp25 ribu.
Kualitas karya mural Komunitas Tuli Art sudah diakui banyak orang. Bahkan mereka sering menerima order dari berbagai wilayah sekitar Jawa Timur. “Kalau luar kota pernah ke Malang, Mojokerto, Trenggalek, Jombang, sampai Banyuwangi,” ujarnya.
Tak hanya puas dengan karya mural, Komunitas Tuli Art juga banyak menghasilkan karya seni rupa yang lainnya. Mulai dari gambar tiga dimensi, ukir kayu, ukir kaca, hingga membuat mobil hias untuk karnaval.
“Pernah juga muralnya juara lomba adiwiyata tingkat kota mewakili Kecamatan Bugul Kidul. Mobil karnaval juga pernah juara satu,” ujarnya.
Karya mural kreatif Komunitas Tuli Art ini mendapat apresiasi dari Kepala Dinsos Kota Pasuruan, Kokoh Arie Hidayat. Kokoh tertarik menghias kantor dinasnya dengan mural karya penyandang disabilitas.
Usai digambari mural, Kantor Dinsos Kota Pasuruan juga akan dibuat menjadi kafe yang menjual makanan dan minuman buatan para difabel. “Kita terus berdayakan supaya kaum difabel terus berkembang,” ujar Kokoh.
Reporter: Laoh Mahfud
Editor: Lizya Kristanti








