LUMAJANG, Tugujatim.id – Di balik meroketnya angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Kabupaten Lumajang selama libur Lebaran 2026, ada satu nama yang mencuri perhatian di sektor kuliner dan hospitality. Dia adalah Muhammad Syafi’i, seorang pemuda berlatar belakang pendidikan pesantren yang bertindak sebagai pendiri sekaligus pengelola Teras Semeru di Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Rumah makan ini bukan sekadar tempat singgah biasa. Rumah makan ini sangat strategis karena selalu dilewati wisatawan yang hendak ke Tumpak Sewu, Gua Tetes dan Tumpak Plangi. Selain itu, sesuai namanya, rumah makan ini juga berlatar Gunung Semeru yang mempunyai pemandangan menakjubkan.
Baca Juga: BB TNBTS Amankan 15 Pendaki Ilegal Gunung Semeru, Satu Orang Cedera Kaki
Berawal dari Modal Nekat dan Ilmu Pesantren

Saat ditemui di sela-sela kesibukannya mengelola restoran, Muhammad Syafi’i menceritakan awal mula mendirikan tempat usaha yang kini menjadi buah bibir ini. Terinspirasi dari keindahan lanskap kaki Gunung Semeru, Syafi’i memanfaatkan ilmu kemandirian ekonomi yang dia dapatkan selama di pondok pesantren.
“Banyak yang tidak menyangka kalau tempat ini dibangun dan dikelola oleh anak-anak desa, kebetulan saya sendiri lulusan pesantren. Kami ingin belajar mengelola bisnis pariwisata secara profesional dan berdaya saing global,” ujar Muhammad Syafi’i, alumnus Pondok Pesantren Raudlatul Ulum (PPRU) 1 Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Minggu (05/07/2026).

Bisnis yang dikelola Syafi’i ini berkembang pesat hingga mampu menghasilkan omzet berkisar antara Rp5.000.000 hingga Rp10.000.000 per hari. Angka yang sangat fantastis untuk ukuran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sebuah desa terpencil.
Selama periode libur Lebaran (14 Maret hingga 5 April 2026), Teras Semeru sukses mencatatkan 1.271 kunjungan wisatawan asing. Ketika ditanya mengenai rahasianya memikat turis dari berbagai negara, Syafi’i menekankan pentingnya menjaga keaslian rasa kuliner lokal yang dipadukan dengan pelayanan berstandar internasional.
Pemberdayaan Warga Lokal
Seluruh kru memasak dan pelayanan yang jumlahnya ada 12 orang di Teras Semeru melibatkan pemuda sekitar dan sesama alumni santri yang dilatih secara mandiri.
Selain itu, juga memaksimalkan pemandangan alam Pronojiwo yang hijau dengan latar belakang kemegahan Gunung Semeru. Sajian menu otentik sebagai makanan khas desa yang diolah bersih, segar, namun tetap mempertahankan cita rasa tradisional Indonesia.
Baca Juga: 13 Pendaki Ilegal Gunung Semeru Ditangkap, Empat Orang Masih Dicari Sempat Kabur ke Kebun Warga
Mendapat Apresiasi dari Pemerintah Daerah
Keberhasilan Syafi’i dalam mengelola Teras Semeru mendapat apresiasi langsung dari Bupati Lumajang Indah Amperawati. Bupati Indah menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh Teras Semeru adalah contoh nyata bagaimana sektor wisata terhubung langsung dengan penguatan ekonomi akar rumput.
Menanggapi hal tersebut, Syafi’i mengaku semakin termotivasi. Namun, dia tetap sepakat dengan imbauan pemerintah untuk mengedepankan aspek kelestarian lingkungan dan keselamatan.

“Tantangan terbesar kami ke depan adalah menjaga kualitas ini agar tidak musiman. Keindahan alam Pronojiwo adalah titipan, jadi kami berkomitmen penuh menjaga kelestarian lingkungan sekitar restoran demi kenyamanan jangka panjang para wisatawan,” ucap Syafi’i yang merupakan alumnus UIN Maliki Malang ini.
Teras Semeru sendiri berdiri pada 2023. Dia mengenang perekonomiannya waktu itu sangat buruk. Jualan sayur, pekerjaan yang dia lakoni sebelumnya belum cukup dibuat kehidupan sehari-hari.

”Lalu saya terpikir di sini kan ada view menawan yakni Gunung Semeru, makanya dengan modal pinjaman teman akhirnya saya memulai usaha ini,” katanya.
Teras Semeru menyajikan berbagai macam makanan seperti Bebek Goreng, Ayam Kampung, Mujaer, Gurami, Udang Asam Manis, Mujaer Asam Manis, Nasi Goreng, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk minumannya ada kopi tubruk klasik, ekspreso, Soda Gembira, dan lain sebagainya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Abdur Rohim
Editor: Dwi Lindawati








