Tugujatim.id – Siapa sih yang tidak mengenal perusahaan yang mengusung merk Vans? Ya, Vans menjadi brand sepatu yang terkenal di seluruh dunia hingga saat ini. Dengan desainnya yang timeless, banyak orang yang menyukai desainnya, termasuk untuk kalangan anak muda.
Identik dengan sepatu skate, merk Vans memiliki daya tarik tersendiri di kalangan anak muda lho. Tidak hanya itu saja, perusahaan yang berdiri di California ini kerap menjadi sponsor berbagai acara olahraga ekstrem seperti skateboard, BMX, selancar, maupun ski.
Selain menjual produk sepatu, Vans juga menjual fashion item lainnya. Mulai dari T-shirt, jaket, topi, kacamata, dan masih banyak lagi.
Di balik kesuksesannya yang mendunia, ternyata ada kisah yang menarik di balik sejarah berdirinya Vans. Perusahaan sepatu tersebut pernah mengalami masa kejayaan bahkan kebangkrutan. Nah, berikut sejarah lengkap merk Vans hingga menjadi brand sepatu yang mendunia.
Sejarah Singkat Paul Van Doren (Pendiri Vans)
Paul Van Doren lahir pada 1930 dan tinggal di Boston. Memutuskan serius dalam hobinya berkuda, Paul keluar sekolah saat naik kelas 3 junior high shcool.
Paul sudah memulai balapan kuda dalam race lokal saat berumur 14 tahun. Hingga Paul mendapat julukan “Dutch The Clutch“ karena style-nya yang aneh dalam berkuda.
Karena kesal melihat Paul hanya bermain kuda dan tidak menghasilkan uang, ibunya bernama Rena membantu untuk mencarikan pekerjaan hingga Paul bekerja di pabrik sepatu bernama Randy. Pada saat itu, Randy adalah perusahaan pabrik sepatu terbesar di Amerika Serikat.

Paul bekerja sebagai buruh pembuat sepatu dan penyapu lantai pabrik hingga usia 34 tahun. Setelah itu, Paul ditunjuk sebagai wakil presiden eksekutif di perusahaan Randy.
Kesuksesan Paul dalam mengelola pabrik di Massachusetts, perusahaan Randy, memberikan promosinya untuk mengelola perusahaan Randy yang lain di Gardenvale. Saat itu, perusahaan Randy sedang mengalami masalah karena mendapatkan kerugian satu juta dollar setiap bulan.
Untuk memulihkan pabrik perusahaan tersebut, Paul memboyong keluarganya untuk tinggal di Anaheim. Dan benar saja dalam waktu 8 bulan, Paul berhasil menangani masalah pabrik di Gardenvale. Bahkan, dia menjadi lebih baik dari pabrik Randy di Massachussets.
Sejarah Berdirinya Vans
Setelah sukses 20 tahun membawa perusahaan Randy berjaya, Paul memutuskan untuk mendirikan brand sepatunya sendiri. Pada 16 Maret 1966, Paul dan saudaranya Jim beserta temannya bernama Gordon Lee dan Serge Adelia mendirikan perusahaan bernama The Van Doren Rubber Company. Produk sepatu yang mereka buat dinamai Van Doren agar lebih simpel mereka mengubah namanya menjadi Vans.
Beralamatkan di 704 East Broadway, Anaheim, California. Perusahaan ini tergolong unik karena mereka memproduksi sepatu dan langsung menjualnya di satu tempat yang sama.

Saat pagi pertama pabrik itu buka, sudah ada 12 pelanggan yang membeli sepatu. Kemudian sore hari itu juga, mereka mengambil sepatu pesanannya. Kini sepatu tersebut dikenal dengan nama merk Vans “Authentic”.
Di tahun berikutnya, Vans membuka toko ritel baru hampir seminggu sekali. Pesatnya pertumbuhan toko ritel, membuat Paul mengembangkan sebuah pola di mana dia akan survei calon lokasi toko di hari Senin, lalu menandatangani kontrak hari Selasa, merenovasi toko pada Rabu, menambahkan rak di hari Kamis, memajang produk pada hari Jumat, lalu merekrut manajer di hari Sabtu, dan melatih staf pada hari Minggu.
Lahirnya Vans “Era”
Skateboard populer saat awal 1970-an, pada saat itu skateboard tengah booming di California. Hal itu tentu dimanfaatkan Paul untuk meraup keuntungan besar. Saat itu juga perusahaan ini merilis sepatu yang dirancang khusus untuk pemain skateboard yang dberi nama “era”.
Pada 1976, Tony Alva dan Stacy Peralta (skateboarder profesional saat itu) merancang desain Vans #95 dan diberi label “Off The Wall” atau yang lebih dikenal dengan Vans “Era”. Sepatu ini dirancang dengan kerah bantalan busa yang empuk dan kombinasi warna yang mencolok (merah dan biru).

Selain itu, perusahaan ini juga menawarkan kombinasi warna dan pola yang lebih variatif. Dalam waktu yang singkat, Vans menjadi sepatu yang digandrungi para skateboarder.
Saat 1976, kepemilikan perusahaan ini dibagi sama rata kepada empat mitra utama. James Van Doren diberi kendali atas tujuan perusahaan dan adiknya ditugaskan untuk mengembangkan perusahaan. Pada saat itu, dia terbantu oleh populernya olahraga baru di California, yakni sepeda BMX. Saat itu Vans menjadi sepatu yang dipilih oleh para BMXer muda di sana.
Vans Classics Slip-On yang Fenomenal
Di tahun-tahun selanjutnya, perusahaan terus berkembang pesat dan meraup keuntungan besar. Hingga pada 1982, perusahaan tersebut merilis model sepatu baru yakni “Vans Classics Slip-On”.
Sepatu ini mulai dikenalkan dan berhasil menyita perhatian publik internasional saat dikenakan oleh aktor Sean Penn dalam film Fast Times at Ridgemont High. Hal itu membuat penjualan sepatu merk Vans meningkat drastis dan James Doren meningkatkan jumlah produksinya.

James memindahkan perusahaannya ke pabrik yang lebih luas di Orange, California. Saat 1984, perusahaan ini meningkatkan karyawan hingga 1.000 orang.
Akibat meningkatnya popularitas sepatu merk Vans, Van Doren mendorong perusahaan untuk model sepatu olahraga lainnya, seperti sepak bola, basket, baseball, gulat, hingga skydiving.
Kisah Vans Bangkrut
Masih 1984, banyak perusahaan yang memindahkan dan melakukan ekspansi pabrik mereka ke Asia dengan alasan biaya kerja yang lebih murah dan regulasi lingkungan yang tidak ketat dan ringan. Namun, perusahaan berdedikasi untuk tetap melakukan produksi di dalam negeri yakni Amerika Serikat.
Sayangnya, hal ini justru membuat perusahaan harus berhadapan dengan biaya produksi yang lebih tinggi sehingga banyak kompetitor yang menjual sepatu tiruan dengan harga yang jauh lebih murah. Hal inilah yang menjadi awal mula kemunduran perusahaan ini.
Menghadapi permasalahan ini, Van Doren memutuskan menurunkan harga di bawah biaya produksi, yang tentu membuat perusahaan ini mengalami kerugian. Tidak sampai di situ saja, Dinas Imigrasi Federal AS menangkap karyawan perusahaan karena diduga sebagai pekerja ilegal.

Hampir 2 tahun Van Doren telah kehilangan uang sebesar USD3,6 juta dengan total utang sebesar USD12 juta. Saat itu juga, bank menuntut Vans untuk melakukan pembayaran sebesar USD6,7 juta.
Perusahaan ini dipaksa untuk menyatakan bangkrut dan kondisi tersebut memaksa Paul Van Doren untuk mundur dari posisinya dan digantikan oleh saudaranya James Van Doren.
Pada 1986, Paul Van Doren kembali memimpin perusahaan ini dari keterpurukan. Paul berkata kepada semua karyawannya bahwa mereka mungkin tidak akan naik gaji selama tiga tahun. Sebab, mereka harus memangkas semua hal, kecuali kualitas sepatu merk Vans.
Perusahaan Vans Dijual
Pada 1988, Paul Van Doren menyatakan dia sudah lelah mengawasi operasi perusahaan setiap hari. Paul dan Gordon C Lee sepakat untuk menjual perusahaan Vans ke Firma perbankan McCown De Leeuw & Co. seharga USD74,4 juta.
Di tahun berikutnya, banyak pabrik sepatu Vans palsu ditangkap oleh pejabat Amerika Serikat dan Meksiko. Mereka diperintahkan untuk menghentikan produksi karena melawan hukum.
Sedangkan pada 2004, VF Corporation membeli perusahaan dengan harga kurang lebih USD400 juta. Perusahaan tersebut menjadikan Vans sebagai bagian dari bisnis Outdoor dan Action Sport. Sejak saat itu, Vans telah menjadi brand VF yang terkenal dengan brand perusahaan lain seperti yang membuat pakaian outdoor The North Face.

Pada 2008, perusahaan memperluas jangkauan ladang bisnisnya ke negeri Tiongkok. Mereka membuka kurang lebih enam toko in-store di Departemen Store di Beijing dan Shanghai dan Vans Store di Shanghai. Tidak hanya offline, kini perusahaan Vans memperluas bisnisnya di e-commerce mereka. Jadi, tidak diragukan lagi Vans menjadi sepatu yang paling mendunia.
Nah, itulah sejarah perusahaan merk Vans hingga menjadi brand yang mendunia. Sampai sekarang, Vans tetap eksis di kalangan anak muda di mana pun. Semoga informasi ini bisa menambah referensi kamu untuk mengenal lebih dalam soal brand ternama di dunia dengan merk Vans.
Writer: Fachrul Eka Jaya P. (Magang)
Editor: Dwi Lindawati








