Tugujatim.id – Film baru Indonesia berjudul Budi Pekerti yang mulai tayang pada 2 November 2023 menyedot perhatian para penonton. Bahkan, penayangan selama 5 hari di bioskop mencapai 206.465 penonton. Apa sih spesialnya film Budi Pekerti ini hingga menyedot perhatian para penggemarnya?
Film Budi Pekerti yang disutradarai Wregas Bhanuteja ini mengangkat kisah yang relate dalam kehidupan era sekarang. Apalagi dia juga menyoroti fenomena perundungan daring dan berusaha menyampaikan pesan moral yang mendalam. Penasaran bagaimana jalan ceritanya, yuk simak sinopsis singkat film ini!
Tokoh film yang dibintangi oleh Sha Ine Febriyanti (Bu Prani), Dwi Sasono (sebagai Pak Didit), Prilly Latuconsina (Tita), Angga Aldi Yunanda (Muklas), Omara Esteghlal (Gora), dan Ari Lesmana (Tunas) ini membawakan karakter-karakter penting dalam cerita ini. Tak pelak, film ini menuai banyak pujian dari berbagai kalangan. Sebab, sang sutradara tahu pesan apa yang mau disampaikan dan paham cara menggunakan bahasa visual sebagai elemen naratifnya.
Film yang mengisahkan keluarga kecil yang tinggal di Yogyakarta, cerita guru BK (bimbingan konseling) yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti sebagai Bu Prani yang memiliki metode pembelajaran unik, membuat para murid segera mematuhinya dengan sebutan “refleksi” sebagai efek jera atas kesalahan yang diperbuat. Sementara itu, sejak usahanya bangkrut karena Covid, Pak Didit punya penyakit bipolar.
Video perselisihan yang melibatkan Bu Prani dengan salah satu pengunjung pasar menjadi viral di media sosial mengawali kisah film ini. Akibat tindakannya Bu Prani dinilai tidak mencerminkan seorang guru. Video yang viral mengakibatkan hingga keluarganya mengalami perundungan daring.
Kesalahan terus-menerus dicari hingga dia terancam kehilangan pekerjaannya. Kronologi awalnya sang guru hanya menegur salah satu pengunjung yang menyerobot antrean. Tapi, video yang tersebar dengan narasi yang salah sehingga dipandang sedang memarahi penjual kue putu.
Keadaan semakin memburuk setelah para konten creator serta oknum yang tidak bertanggung jawab membuat meme serta video reaksi yang menjadikan sang guru BK sebagai korban perundungan.
Akibat segala hal yang diperbuat, tidak terungkapnya kebenaran, demi menjaga nama baik sekolah, Bu Prani rela kehilangan pekerjaannya. Film Budi Pekerti banyak sekali mengajarkan tentang maknanya kehidupan dan tanpa disadari kita sebagai manusia kehilangan budi pekerti.
Produksi film ini menjadi wadah kolaborasi beberapa produser terkemuka seperti Willawati, Ridla An Nuur, Adi Ekatama, dan Nurita Anandia. Selain itu, Budi Pekerti merupakan film terpanjang kedua dari sutradara Wregas Bhanuteja yang sebelumnya sukses dengan film “Penyalin Cahaya” yang meraih banyak penghargaan di Festival Film Indonesia 2022.
Apa Kata Penikmat Film Budi Pekerti?
“Baru saja selesai nonton film Budi Pekerti, filmnya bagus, bagus, bagus banget. Film ini bukan hanya enak dinikmati, bukan hanya menggugah emosi tetapi benar-benar bisa selalu dikenang dan bisa menggerakkan kita. Jadi itu benar-benar kerasa banget, apalagi endingnya itu yang unexpected banget, jadi harus nonton. Dari semua pemain filmnya keren-keren banget, dari sutradaranya, alur filmnya pokoknya semua keren banget, kalau ada satu film yang ditonton tahun ini, ini adalah film wajib yang harus kamu tonton,” kata motivator Merry Riana melansir dari berbagai sumber.
“Untuk film Budi Pekerti kali ini, kalau gua menangkapnya di sini seorang guru yang istilahnya ngajarin mindblowing. Karena apa pun yang dikerjakan dengan dia dituruti oleh muridnya. Tapi, bahaya sosial media itu yang luar biasa dan bisa beropini untuk membalikkan fakta yang seharusnya ga bersalah jadinya bersalah. Padahal dia ga salah. Enggak semuanya kehidupan itu harus direkam, harus divideokan karena ga semua full konten ada privasinya seseorang ada yang emang menjadi bukti bahwa itu benar. Kalau menurut saya, ibu jari lebih bahaya daripada ibu kota,” kata komedian Dustin Tiffani.
“Karena Angga Yunanda, bagus banget! Gila, gila. Ini masalah yang terjadi di era sekarang kan, benar banget yang disampaikan sama karakter Muklas, bahwa bukan siapa yang benar, siapa yang salah. Tapi siapa yang paling banyak ngomong gitu. Dan itu bold statement banget buat industry sosial media yang mengubah cara pandang kita banget. Secara keseluruhan cerita dan moral of the story-nya juga keren banget. Luar biasa, Wregas, Always,” kata artis Umay Shahab.
“Ini film ceritanya sangat menyentuh hati, juga menyentuh diri kita sendiri juga. Akhirnya sadar juga, aku jadi mikir kayak selama ini aku juga punya budi pekerti ga sih. Karena memang itu sesuatu hal kita yang sudah lama ga pertanyakan ke diri sendiri, sudah lama mungkin kita lihat beberapa hal karena kita selalu into sosial media atau into apa yang dipikirkan orang, atau yang diinginkan orang lain, jadi kita lupa untuk refleksi ke diri sendiri. Jadi, ini film wajib banget ditonton semua orang, kalau bisa paling ditayangin di sekolah-sekolah. Karena ini memang basis menurut aku menjadi manusia yang membedakan kita mungkin sama hewan adalah budi pekerti norma jatuhnya secara tidak langsung dan emang pemainnya juga, ceritanya, directing-nya, gambarnya,” kata artis Bryan Domani.
“Seorang guru itu mengalah demi kebenaran dan menjaga harga dirinya. Ketika memperlakukan muridnya mengingatkan dan menunjukkan kesalahannya itu sangat manusiawi kok. Rasanya enggak sia-sia jauh-jauh datang untuk menyaksikan pemutaran film Budi Pekerti. Dilibatkan rasa semua emosinya. Mungkin karena kita guru jadi sangat menyentuh sekali bahwa memang kadang kala guru itu menjadi serba salah, jadi tamparan keras buat guru. Lekat sekali dengan etika moral, guru tidak pernah ingin kaya, guru juga tidak ingin jasanya itu dibalas oleh siapa pun. Budi pekertinya ada di sana. Rugi sekali kalau enggak nonton,” kata para guru yang tidak mau disebutkan namanya.
Banyak komentar positif lainnya yang bakalan bikin kamu penasaran dengan film ini. Karena itu, langsung ajah guys wajib banget kamu nonton film ini. Sebab, ada banyak nilai yang bisa kamu petik lho.
Writer: Cindy Rahayu Jasmin (Magang)
Editor: Dwi Lindawati








