Tugujatim.id – Sebagai salah satu moda transportasi andalan warga Indonesia, motor alias kendaraan roda dua memiliki berbagai model. Mulai dari transmisi otomatis atau matik hingga manual seperti motor bebek. Uniknya, meski motor matik menawarkan kemudahan, motor bebek masih diminati bahkan tidak kalah pamor dari motor matik.
Hal ini berdasar survei GoodStats pada Februari 2024. Hasil survei pada 1.023 responden, ternyata motor asal pabrikan Honda yaitu Supra menjadi motor paling favorit. Motor Supra duduk di puncak klasemen terfavorit dengan persentase 24%.
Motor bebek favorit kedua adalah keluaran Yamaha yaitu MX King dengan persentase 21%. Disusul berturut-turut yaitu motor Honda Sonic dengan persentase 16%, lalu motor Suzuki Satria dengan persentase 13%, kemudian motor Yamaha Jupiter Z1 dengan persentase 9%, motor Honda Revo dengan persentase 7%, motor Yamaha Vega Force dengan persentase 6%, dan motor dari merk lainnya dengan persentase 4%.
Motor Honda Supra sendiri pertama kali meluncur pada 1997 dengan seri pertama Astrea Supra. Seri pertama dengan kapasitas mesin 97,1 cc ini mendapat sambutan luas dari masyarakat. Sebab, keiritan bahan bakar menjadi keunggulan dari motor ini.
Sementara Yamaha MX King pertama kali meluncur pada 2015. Motor ini cukup menyita perhatian publik karena dibekali mesin dengan kapasitas 150 cc. Perbaruan motor yang dilakukan pada 2019 dan 2023 lalu menunjukkan bahwa motor ini masih mendapat tempat di hati konsumen.
Menariknya, tempat ketiga dan keempat dihuni oleh Honda Sonic dan Suzuki Satria. Kedua motor ini dikenal dengan tampilan sporty sehingga menarik minat anak-anak muda.
Salah satu pegiat motor asal Kabupaten Mojokerto Fio Atmaja mengatakan, meski motor matic punya keunggulan dalam hal kemudahan saat dikendarai, namun pasar motor bebek tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Sebab masih banyak orang yang menyukai sensasi operan ketika memindahkan gigi motor. Selain itu, motor bebek juga bisa dibilang unggul dalam hal perawatan, masih banyak bagian motor yang mudah dijumpai di pasaran,” ujar Fio, Rabu (28/02/2024).
Fio berkaca pada pengalaman pribadi. Sebelumnya orang tua Fio pernah membeli motor bebek, sementara pilihan Fio jatuh pada motor matic. Selang beberapa tahun, Fio malah pindah menggunakan motor bebek.
“Tidak hanya alasan perawatan atau sensasi yang didapatkan. Motor bebek juga mayoritas irit bahan bakar. Tentu hal itu menurut kami tidak mudah dijumpai pada motor matic yang rata-rata cukup boros bahan bakar,” imbuh Fio.
Tidak hanya itu, harga jual kembali dari motor bebek dipandang cukup stabil ketimbang motor matic.
“Apalagi beberapa merk tertentu dari motor bebek itu harga jualnya tidak gampang jatuh. Tapi, semua kembali ke pilihan masing-masing. Semua juga soal pilihan, juga kadang soal selera,” ujar Fio.
Sementara bila melongok pilihan motor matic kelas entry level, Honda Scoopy masih menjadi primadona warga Indonesia. Masih dari survei GoodStats pada 1.023 responden secara daring, 30% responden memilih Honda Scoopy.
Sementara 18% responden memilih Honda Beat. Disusul 16% responden menggunakan Honda Vario, lalu 11% responden memilih Yamaha Lexy, kemudian 9% responden menggunakan Yamaha Fazzio, lalu 6% responden menjagokan Yamaha FreeGo, berlanjut 5% responden memilih Yamaha X-Ride, dan sisanya memilih merk dan model lainnya.
Salah satu pengendara Honda Scoopy, Aris Fahrudin mengatakan, selain model dari Scoopy, Aris mengaku memilih motor pabrikan Honda ini karena konsumsi bahan bakarnya. Tidak hanya itu, jok dari Scoopy yang cukup lebar menjadi alasan Aris memilih motor ini sebagai kendaraan harian.
“Bisa dibilang cukup irit. Kalau dibandingkan merk lain yang punya besaran cc yang sama. Kalau sama cc yang agak kecil memang bisa selisih,” beber Aris.
Dia melanjutkan, layanan purnajual (after sales) hingga part bagian motor untuk Scoopy cukup mudah dijumpai.
“Artinya, tidak ada kesulitan dalam hal perawatan. Jadi hingga saat ini masih nyaman saja, belum ada kendala berarti,” tutur Aris.
Tidak hanya itu, model motor yang digunakan oleh Aris masih memakai kunci biasa. Aris berencana melakukan upgrade ke model yang tidak menggunakan kunci (keyless).
“Mungkin demi keamanan saja ya. Kalau tidak ada kunci kan lumayan aman. Ada remote juga jadi bisa bunyi bila motor dinyalakan secara paksa,” ujar Aris.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








