• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Santoso dan istrinya Herry Siswati. (Foto: Dokumen)

Santoso dan istrinya Herry Siswati. (Foto: Dokumen)

Inspirasi dari Mas Santoso 

Gigih Mazda by Gigih Mazda
5 years ago
in Catatan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Firdaus Abie*

Tugujatim.id – Di antara kelebihan menulis, bisa dikerjakan di mana saja. Dapat dilakukan  kapan saja. Saya yakin, semua orang bisa memahaminya. Tapi ketika membaca berita berjudul “Perjuangan Santoso Sembuh dari Stroke” kiriman Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Mas Aqua Dwipayana yang isinya menceritakan tentang Mas Santoso, seorang wartawan senior yang saat ini berjuang melawan stroke yang menyerangnya, justru semakin membuka mata kita dan mengingatkan saya pada dua hal penting.

You might also like

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

30/05/2026 8:27 PM
Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

03/05/2026 7:42 PM

Tulisan yang dibagikan Mas Aqua di Komunitas Komunikasi Jari Tangan, dikisahkan bagaimana seorang wartawan senior Jawa Pos, menderita stroke. Sempat putus asa dan depresi, Mas Santoso kemudian bangkit. Ia menulis. Terus menulis. Menulis terus.

Ia kemudian menulis sebuah buku. Buku yang ditulis tak jauh dari aktivitas yang sedang dihadapinya. Bukunya berjudul, “Melawan Stroke”. Dicetak secara mandiri pada Agustus 2020.

Kini ia mempersiapkan buku berikutnya, “My Wife My Treasure”, berisi tentang apresiasinya terhadap kesetiaan dan kegigihan isteri mendampinginya, terutama di saat stroke.

Buku pertama, laris manis. Hasil penjualan bukunya bisa untuk membayar kontrakan yang ditempatinya. Buku “My Wife My Treasure” ditargetkan cetak sebelum September 2021. Rencananya dari menjual buku itu, untuk kontrakan rumah berikutnya.

Lalu, apa dua hal penting yang ingin saya sampaikan? Pertama, bagi saya, ini sebuah referensi hebat. Jika sebelumnya, kehebatan menjalani aktivitas menulis bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, kini harus ditambah satu lagi. Bisa dilakukan dalam keadaan apa saja. Sehat, gembira, sedih, dan sakit.

Dibandingkan keadaan sehat, gembira, sedih, maka keadaan paling sulit dan rumit adalah di saat sakit. Apalagi dalam kondisi  stroke. Terjadi pelemahan terhadap sebagian organ tubuh.

Dijadikan Inspirasi

Tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan orang dalam keadaan sakit, apalagi kegiatan tersebut berpengaruh besar dalam upaya mempertahankan diri dan keluarga. Buku yang dihasilkan Mas Santoso justru dijual untuk membayar kontrakan rumahnya.

Di sisi lain, apa yang ditulis Mas Santoso, bisa dijadikan inspirasi oleh siapa saja, terutama bagi mereka yang beranggapan  menulis itu sulit, atau selalu menghabiskan hari-harinya untuk mencari ide tulisan.

Katanya, jangankan untuk menulis materinya, idenya saja sulit didapatkan. Lalu mereka mencari hingga jauh, bahkan ada yang  melakukan “ritual” perjalanan dan sebagainya.

Pada setiap kesempatan memberikan pelatihan atau “workshop” menulis di berbagai tempat, saya selalu sampaikan langkah sederhana; tulislah apa yang ada di lingkungan kita. Tulislah apa yang dekat dengan keseharian kita.

Keseharian kita yang selama ini dianggap sebagai hal yang biasa, tetapi bisa saja orang lain, atau komunitas tertentu memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. Semua tergantung kejelian sudut pandang dan menggunakan nurani.

Mas Santoso membuktikan kepada kita semua. “Melawan Stroke”, itu judul buku beliau. Judulnya  langsung  ke sasaran.

Jika dihitung, pasti sangat banyak orang berjuang melawan stroke. Berbagai cara dilakukan agar mereka bisa bangkit dan sembuh. Mungkin banyak yang memiliki cara hebat, cara praktis, namun karena tidak dituliskan, tidak ada yang tahu.

Kekokohan Pasangan

Saya belum membaca buku tersebut. Tapi dari judulnya saja, saya menduga buku Mas Santoso tentulah berisi tuntutan dan cara-cara yang dijalani beliau menghadapi stroke, sehingga saya memiliki asumsi bahwa buku ini akan menjadi  buku “abadi” dan berguna sepanjang masa, khususnya bagi orang-orang yang kena stroke.

Beriring sejalan, buku lanjutan yang sedang dipersiapkannya,  “My Wife My Treasure”, berisi tentang apresiasinya terhadap kesetiaan dan kegigihan isteri mendampinginya, terutama di saat stroke, adalah panduan hebat untuk kekokohan pasangan dalam melayani pasangannya ketika menghadapi ujian berat tersebut.

Hebat. Di saat berjuang melawan, stroke, beliau masih bisa menulis. Ternyata, menulis bisa dilakukan dalam situasi dan kondisi kesehatan apa pun.

Kedua, menulis adalah obat. Saya menyimpulan demikian karena teringat pada dua kejadian lain, beberapa tahun silam.

Seorang wartawan senior Kompas asal Sumatera Barat, Martias Duski Pandoe, yang sehari-hari disapa Pak Pandoe, pernah menjalani hal tersebut. Di hari tuanya, beliau diserang stroke.

Yuniornya, Sutan Zaili Asril, saat itu  menakhodai Harian Pagi Padang Ekspres, mengundangnya untuk terus menulis. Akhirnya beliau menulis setiap Minggu di Padang Ekspres. Ketika itu, Pak Pandoe berusia 75 tahun.

Seorang wartawan senior lain, Sjafri Segeh yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi Haluan, koran terbitan Padang, di hari tuanya juga tetap menulis. Katanya suatu ketika kepada penulis, selain untuk terus menyalurkan pikiran kita kepada publik, juga buat mengasah otak agar jangan cepat pikun.

Semoga buku Mas Santoso yang berjudul “My Wife My Treasure” segera terbit menyusul “Melawan Stroke” dan bisa laris manis di pasaran seperti buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim karya Mas Aqua yang telah dicetak sebanyak 200 ribu eksemplar. Salam salut dari yunior, Mas!*

Firdaus Abie. (Foto: Dokumen) harian rakyat
Firdaus Abie. (Foto: Dokumen)

*Penulis adalah Direktur Harian Rakyat Sumbar Padang, Sumatera Barat.

Tags: catatanjurnaliswartawan
Gigih Mazda

Gigih Mazda

Related Stories

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

by Dwi Linda
30/05/2026 8:27 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Kepemimpinan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang berada di persimpangan yang tidak mudah. Ketegangan...

Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

by Mochamad Abdurrochim
03/05/2026 7:42 PM
0

JAKARTA, Tugujatim.id – Tasyakuran 50 tahun pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain berlangsung penuh kesan, syukur, dan inspirasi di Hotel...

AHWA.

Menimbang Pelembagaan AHWA sebagai Otoritas Kepemimpinan NU

by Dwi Linda
14/04/2026 7:52 PM
0

Oleh: Abdur Rahim (Warga NU; tinggal di Desa Simo, Tuban)   TUBAN, Tugujatim.id - Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

Next Post
Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar berencana menyalurkan bantuan sosial Sahabat pada 12-22 Juli 2021 mendatang. (Foto: Pemkot Kediri) tugu jatim

Wali Kota Kediri Instruksikan Kartu Sahabat Cair saat PPKM Darurat

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID